Bulan: Agustus 2018

PENJELASAN SEPUTAR HUTANG PRODUKTIF DAN HUTANG TIDAK PODUKTIF BAGI SUMBER PENDANAAN PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini implementor software akuntansi akan sedikit membahas artikel tentang HUTANG PRODUKTIF DAN HUTANG NON PODUKTIF.

Bedasarkan dari sebuah riset yang telah dibuktikan bahwa sumber pendanaan perusahaan di Indonesia beberapa diantaranya lebih banyak mengandalkan pada sumber dana yang berasal dari Bank. Dan itu artinya adalah bahwa Bank sangat berperan besar dalam penyediaan dana-dana segar bagi perusahaan apabila dibandingakan dengan para investornya.

Terdapat beberapa pengusaha yang lebih banyak untuk berusaha menghindari berhutang dalam menjalankan dan mengelola usahanya. Namun masih ada beberapa diantaranya yang lebih banyak mengandalkan dari berhutang karena merupakan satu-satunya sumber pendanaan dalam mempercepat perkembangan perusahaan. Cara untuk bisa mengetahui sumber dana utama seperti apa yang paling mendominasi modal perusahaan dapat diketahui dengan mengunakan sebuah rasio.

Jenis rasio yang bisa digunakan adalah rasio hutang atas modal Debt to Equity Ratio.  Rasio seperti ini mampu menghasilkan angka yang dapat menentukan perbandingan antara nilai hutang dengan nilai setoran modalnya.

Pertama akan kita mulai dengan penjelasan hutang produktif, kemudian akan dilanjutkan dengan pembahasan tentang hutang tidak produktif.

Sebuah pinjaman atau hutang bisa dikatakan produktif jika memang memiliki kemampuan untuk melunasi sendiri (Self liquidating). Kemampuan nya adalah dapat menghasilkan uang dari operasional yang berasal dari investasi yang sudah dilakukan. Pinjaman yang juga termasuk kedalam hutang produktif jika uang pinjaman tersebut yang digunakan untuk menghasilkan return pengembalian modal investasi.

Pengembalian modal hanya akan dapat diperoleh jika perusahaan mampu dalam memanfaatkan dana yang telah bersumber dari hutang untuk berbagai kegiatan operasionalnya masing-masing. Misalnya untuk melakukan perluasan usaha (expansion), menambah kegiatan operasional, atau untuk memulai usaha baru. Meskipun kami juga sangat tidak menyarankan sepenuhnya kepada para pembaca sekalian untuk memulai usaha dengan cara berhutang bagi mereka yang sangat minim pengalaman dan tujuan dalam hal pendirian usaha yang tidak jelas.

Return yang lebih tinggi diharapkan bisa diperoleh oleh perusahaan pada saat pihak manajemen menggunakan hasil dari investasinya.

Nah, sekarang sudah saatnya untuk beralih kepada pembahasan hutang non produktif. Sebuah pinjaman atau hutang bisa dikatakan tidak produktif jika dana yang bersumber dari hutang tersebut malah digunakan untuk kegiatan non operasional. Misalnya, seperti hutang untuk membayar deviden, hutang untuk melunasi hutang lainnya, hutang yang digunakan untuk mendukung gaya hidup (life style), hutang untuk membangun rumah, hutang untuk membeli kendaraan bermotor dan lain sebagainya.

Lalu sekarang bagi para pembaca sekalian yang sudah terlanjur memiliki asset hasil dari berhutang dan menginginkan hasil dari investasi tersebut. Maka berikut ini adalah pembahasan sebenarnya tentang hal semacam itu.

Misalnya para pembaca yang telah terlanjur membangun rumah besar dari hasil berhutang dari bank, kamar-kamar yang sudah dibagun jika tidak ditempati, maka lebih baik untuk disewakan saja, bisa juga untuk dikontrakan atau di kostkan.

Disebabakan karena biaya hidup yang menjadi semakin tinggi banyak diantara para pemilik rumah di kota-kota besar malah menyewakan rumahnya, atau membangun kamar baru untuk bisa disewakan. Namun dengan adanya sebuah konsekuensi dengan tidak memiliki ruang untuk halaman lagi.

Sedikit contoh singkat seperti di atas merupakan permasalahan yang secara umum banyak terjadi, dan sekarang sudah saatnya untuk beralih kepada permasalahan financial.

Misalnya Anda berencana untuk membeli mobil dengan uang tunai/cash. Menurut kami sebaiknya Anda harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana perbandingan antara manfaat dan bebannya, (cost and benefit)-nya. Beban yang nanti akan Anda tanggung besarnya dapat diketahui dengan cara mengetahui berapa besarnya beban bunga jika Anda membelinya dengan cara di kredit. Misalnya beban bunga sebesar 5- 6 % setahun.

Jika para pembaca sekalian mencari produk-produk Investasi, maka akan sangat banyak sekali ditemukan adanya produk-produk investasi yang telah menyediakan bunga dengan sangat besar. Misalnya adalah dari produk investasi Asuransi yang lebih banyak memberikan bunga sebesar 9,75% setahun, bunga dari deposito ada yang bisa sampai lebih dari 7% dalam setahun. Intinya adalah agar para pembaca sekalian tidak semakin terbebani dengan adanya biaya bunga, sebaiknya membeli dengan cara dikredit namun juga melakukan investasi yang bisa menghasilkan pendapatan bunga yang jauh lebih besar dari pada bunga kreditnya (IRW).

Nah, itulah sedikit tips seputar bagaimana dalam pengelolaan piutang. Apabila para pembaca sekalian ingin memahami secara lebih mendalam dari manajemen piutang dan membutuhkan konsultasi, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.
Sampai bertemu lagi pada pembahasan artikel selanjutnya dan salam sukses.

TUGAS-TUGAS UTAMA DARI SEORANG STAFF PEMBELIAN (PURCHASING STAFF)

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan membahas artikel tentang apa saja TUGAS UTAMA dari seorang staff pembelian? Berikut ini adalah beberapa pembahasannya detailnya.

Pada jenis perusahaan dagang dan manufaktur, seorang staff pembelian harus mampu berperan pada beberapa tugas dan fungsi sebagai berikut, yaitu:

1. Fungsi pembelian harus menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh perusahaan. Memahami, menganalisa dan menyediakan kebutuhan bagi perusahaan merupakan tugas utama dari staff pembelian. Seorang staff pembelian berhak untuk menolak pengajuan pembelian jika setelah dianalisa ternyata barang yang akan dibeli tersebut tidak terlalu berguna bagi perusahaan dan tidak sesuai dengan anggaran yang sudah ditentukan.
2. Melakukan seleksi para calon pemasok (suplier), memilih jenis barang apapun yang disediakan oleh supplier baik dari sisi jenis, kualitas, atau harga. Karena untuk tahap ini akan sangat menentukan bagaimana langkah selanjutnya bagi perusahaan. Maka tidak bisa langsung menetapkan secara sembarangan. Barang yang sudah digunakan harus benar-benar sesuai dengan jenis barang yang dibutuhkan oleh perusahaan. Seorang staff pembelian dapat mencari pemasok menggunakan internet, mengirim email penawaran, melakukan telepon, atau mendapatkan informasi dari rekan kerja yang lain. Intinya adalah semakin banyak sumber informasi yang dimiliki, maka akan menjadi semakin tepat pula keputusan dalam memilih supplier.
3. Menjalin kontrak kerjasama untuk jangka panjang dengan pihak supplier. Bagi perusahaan yang persediaannya lebih banyak menggunakan bahan baku impor, setidaknya harus memiliki beberapa rekanan yang dapat mendukung dan bisa bekerja sama untuk jangka panjang. Karena untuk bahan-bahan impor sendiri harganya juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana keadaan pasar saat ini, inflasi, kurs dan kebijakan pemerintah (Misalnya Pajak).

Kerjasama dalam wakt jangka panjang dapat dilakukan oleh pihak manajemen dengan menetapkan persetujuan (hak dan kewajiban secara tertulis) bersama atau yang lebih banyak dikenal dengan Memorandum Of Understanding (MOU). “Akan tetapi pada pembahasan dari artikel ini praktisi software akuntansi hanya akan lebih berfokus kepada hak-hak dari para pembeli. Beberpa manfaatnya adalah sebagai berikut:

• Pembeli diperbolehkan untuk menukarkan barangnya kepada penjual jika barang yang diterima sudah rusak.
• Jika pembeli telah menyerahkan uang muka pembelian (Misalnya hanya 10%), maka penjual berkewajiban untuk mengirimkan barangnya.
• Pembelian berhak untuk menentukan waktu penerimaan barang disesuaikan dengan kebutuhan dari sipembeli itu sendiri.
• Pembeli berhak untuk memutuskan kontrak kerja sebelum masa kontrak berakhir jika menurut pertimbangan dari si pembeli berat sebelah atau sangat tidak menguntungkan bagi pembeli.
• Pembeli menggunakan harga beli sebagai standar maksimal pada saat pembayaran, berdasarakan dari isi kontrak.
• Pembeli berhak untuk memberikan sanksi kepada suplier atas kerugian yang sudah diterima oleh pembeli dikarenakan keterlambatan dari supplier dalam mengirimkan barang.
• Pembeli berhak untuk mendapatkan potongan harga atas ketelambatan pengiriman barang yang sudah dilakukan oleh supplier.
• Pembeli tidak berhak menanggung beban yang dialami oleh supplier atas apa yang sudah terjadi selama masa pengiriman.
Misalanya, kerusakan barang akibat dari kecelakaan yang terjadi pada saat proses pengiriman.

4. Bekerja sama dengan departeman lainnya seperti: Fungsi produksi yang meliputi staff bagian gudang, staff bagian produksi, staff packing, staff penjualan dan fungsi Keuangan meliputi finance dan accounting.

5. Setelah para pemasok sudah terpilih, maka anggaran akan langsung ditentukan, selanjutnya adalah melakukan pemesaan. Staff pembelian akan membeli barang berdasarkan permintaan dari perusahan. Permintaan (Formal) seperti itu biasanya berbentuk tertulis yang nama dokumennya adalah berupa Purchase Requestion Form (Formulir Permintaan Pembelian). Fungsi pembelian sebaiknya juga harus menyediakan barang-barang kebutuhan perusahaan dengan tepat waktu dan harus sesuai dengan informasi yang sudah tertulis pada formulir tersebut.

6. Staff pembelian juga diharapkan mampu memantau perkembangan pesanan, sudah sampai sejauh mana barang yang sudah dikirim. Menanyakan juga tentang kapan waktu barang tersebut agar dapat diterima, sehingga informasi tersebut dapat langsung diteruskan kepada fungsi produksi. Selain itu meginstruksikan kepada fungsi gudang agar menyediakan tempat pada persedian baru yang nanti akan diterima. Sebagai pengendalian atas penerimaan barang, maka staff pembelian harus memberikan salinan dokumen Purchase Order kepada staff gudang agar diperiksa tentang keseuaian antara barang yang sudah diberli dengan barang yang telah dikirim oleh supplier.

7. Jika pembelian dilakukan secara tunai dan dibayar pada saat barang sudah sampai di tempat. Maka, fungsi pembelian juga harus bertanggungjawab untuk membayar barang yang telah diterimanya tersebut. Pembelian dalam jumlah besar biasanya akan langsung dibayar melalui transfer Bank. Akan tetapi berdasarkan sepengetahuan kami, perusahaan akan lebih banyak yang membeli dengan cara kredit dan akan dibayarkan beberapa kali sebelum masuk waktu jatuh temponya.

Bukti transaksi yang juga meliputi, purchase order, bukti pembayaran dan lain sebagainya harus di filling didokumentasikan agar dapat ditelusuri jika suatu saat dibutuhkan kembali. Misalnya untuk kebutuhan pemeriksaan keuangan (Audit).

Sebagai tambahan, staff pembelian harus memiliki pedoman dalam melakukan pembelian. Prinsip tersebut bertujuan untuk mengkolaborasikan antara fungsi pembelian dengan fungsi-fungsi lainnya yang berkaitan. Berikut ini adalah beberapa prinsip-prinsipnya:

• Staff pembelian juga harus mampu dalam membeli barang-barang dengan harga yang lebih tepat. Dapat diartikan sesuai dengan anggaran, dan juga harus menguntungkan.
• Staff pembelian harus mampu memperhitungkan berapa banyak barang yang dibutuhkan dan akan dibeli.
• Staff pembelian harus mampu mengatur waktu datangnya barang dagangan. Proses produksi tidak diijinkan untuk menunggu sampai barang datang, jadi harus menyediakan barang sebelum barang akan habis.
• Staff pembelian harus mampu mengatur barang yang datang, membantu kelancaran proses produksi.
• Barang yang sudah dibeli harus bermutu, dan telah ditentukan sesuai dengan pilihan yang paling menguntungkan bagi perusahaan.
• Staff pembelian harus membeli barang yang berasal dari sumber yang tepat, dan gabungan dari kelima prinsip di atas.

Nah, demikianlah sedikit penjelasan dari praktisi software akuntansi tentang apa saja tugas utama dari seorang staff pembelian sampai bertemu kembali pada pembahasan artikel selanjutnya (IRW).  Apabila para pembaca ingin memahami dengan lebih mendalam tentang manajemen dan apa saja tugas-tugas dari staff pembelian khusunya adalah untuk job deskripsi mereka, membutuhkan konsultasi, membutuhkan software accounting, dan perbaikan proses bisnis para pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

KAPAN SAAT YANG TEPAT BAGI PERUSAHAAN UNTUK MENGUKUR PENURUNAN NILAI GOODWILL

Pada Kesempatan kali ini implementor software akuntansi akan  berbagi sedikit Informasi tentang waktu yang paling tepat dalam mengukur penurunan Goodwill dan beberapa alasannya. Berikut ini adalah beberapa penjelasannya.

Penurunan nilai Goodwill bisa terjadi pada saat perusahaan sudah memutuskan untuk membayar lebih besar nilai buku dari asset yang sudah diakuisisinya, kemudian ternyata nilai dari asset tersebut malah semakin menurun. Selisih dari nilai yang perusahaan bayarkan untuk bisa mendapatkan asset tersebut dan nilai bukunya itulah yang disebut sebagai Goodwill. Pada saat goodwil mengalami penurunan nilai, maka perusahaan juga harus melakuan penyesuaian.

Perlakuan Akuntansi untuk Goodwill

Goodwil akan tercatat pada Neraca dan diklasifikasikan sebagai Asset. Begitu pula beban amortisasi atau depresiasi goodwillakan  dicatat di Asset. Perusahaan sangat disarankan untuk menilai Goodwill setiap tahunnya.

Jika Goodwill mengalami penurunan nilai yang disebabkan karena nilai wajar dari asset tersebut berada dibawah nilai bukunya, maka perusahaan harus mencatat penurunan Goodwillnya. Hal seperti ini dapat ditafsirkan bahwa asset yang sudah dimiliki nilainya sekarang adalah berada dibawah nilai yang sudah dibeli.

Alasan Untuk Menelusuri dan Menilai Terjadinya Penurunan Nilai Goodwill

Besarnya nilai Goodwill yang sudah di turunkan bisa diartikan bahwa perusahaan tidak lagi membuat kebijakan investasi pada asset atau mungkin juga tidak akan membeli sejumlah asset yang seharusnya dibutuhkan.

Goodwill menggambarkan nilai dar sebuah perusahaan. Seandainya perusahaan tidak melakukan penilaian untuk penurunan asset goodwill, maka mungkin saja nilai Goodwill sudah menjadi semakin meningkat. Ketika goodwill yang sudah dicatat sebagai asset tidak berwujud, maka perlakuannya hampir lebih mirip dengan asset pada umumnya dan amortisasi tidak akan memberikan gambaran yang sesungguhnya terhadap nilai dari aset tersebut. Karena itulah maka sangat perlu dilakukannya penilaian atas berbagai kemungkinan dari adanya penurunan nilai asset perusahaan.

Lalu bagaimana caraanya untuk menghapus asset yang nilainya sudah menurun pada laporan keuangan?

Seorang akuntan akan menghapus asset dengan cara menurunkan nilai asset yang sudah tersaji pada Neraca kemudian menggantinya dengan nilai yang wajar.  Asumsikan bahwa nilai wajar dari asset tersebut memang benar-benar sudah turun secara signifikan.

Penurunan dari asset bisa terjadi dengan seketika dan penurunnannya juga tidak dapat dirubah pada saat mencerminkan nilai wajar meskipun nilainya sudah benar-benar jatuh dibawah biaya yang sesungguhnya. Penurunan dari aset hanya bisa terjadi jika nilai yang masih dapat terpulihkan lebih besar daripada jumlah discounted cash flow dari asset, sehingga setelah dilakukannya proses pencatatan dari penurunan nilai asset, maka nilai aset tersebut juga tidak dapat dikembalikan kepada nilai yang semula.

Ketika terjadi penurun nilai, maka asset perlu untuk di pertimbangkan penilaian penurunannya, dan harus segera di catat lebih rendah. Untuk melakukan hal seperti ini, seorang akuntan akan mengakui kerugian yang berasal dari selisih nilai yang dapat terpulihkan dengan nilai pasarnya. Pada akhirnya nilai asset yang sudah tersaji pada Neraca akan merepresentasikan terjadinya penurunan nilai pasar yang sesungguhnya.

Menghitung niai pasar dari sebuah asset, seorang akuntan membutuhkan jumlah undiscounted future cashflow yang masih tersisa pada Asset. Penurunan pada nilai Asset ini akan semakin menurunkan beban dari depresiasi secara periodik. Sehingga penurunan Asset ini akan semakin menciptakan peningkatan laba bagi perusahaan dan sekaligus juga jumlah kewajiban pajaknya (IRW).

Terima kasih telah berkunjung ke website kami, itulah sedikit penjelasan tentang waktu dan alasan dalam mengukur penurunan dari nilai Goodwill. Apabila pembaca membutuhkan konsultasi manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900/081-8521172. Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu lagi pada pembahasan artikel selanjutnya.

BAGAIMANA TATCARA DALAM MENGELOLA GUDANG PERSEDIAAN BARANG MILIK PERUSAHAAN

Pada kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan membagikan sedikit tips tentang bagaimana dalam mengelola gudang (manajemen gudang). Gudang yang secara umum berfungsi sebagai tempat ntuk penyimpanan persediaan (Bahan baku, Barang dalam proses, barang pembantu dan juga barang jadi). Bahan baku (Raw material) merupakan persedian yang akan digunakan pada awal produksi, setelah diproses bahan baku akan menjadi barang setengah jadi (Work in process), pada tahapan ini perusahan masih dapat memberikan tambahan berupa jenis-jenis barang (factory overhead costs) untuk proses produksi yang selanjutnya untuk digunakan dalam membuat barang-barang jadi (Finished Good).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Peran penting dari penggunaan gudang yang lain adalah sebagai tempat penerimaan barang, baik dari para suplier maupun dari para konsumen yang sudah melakukan retur pembelian. Gudang juga sebenarnya memiliki peran utama dalam proses produksi. Menyiapkan bahan baku yang nantinya akan masuk pada proses produksi.

Setelah mengetahui betapa pentingnya fungsi dari gudang, nah praktisi software akuntansi sekarang akan berbagi tips tentang bagaimana pengelolaan gudang, yaitu:

1. Melakukan pencatatan terhadap barang-barang persediaan dengan lebih tertib.

Gudang adalah sebagai tempat untuk penyimpanan persediaan, hal ini juga berarti bahwa gudang berfungsi sebagai alat untuk penerimaan bahan-bahan baku, penyimpanan barang dalam proses dan juga untuk barang jadi. Setiap aktifitas dan transaksi yang berkaitan dengan gudang, sebaiknya staff gudang harus mencatatnya dengan tepat.

2. Melakukan pemeriksaan barang-barang digudang dengan lebih cermat.

Barang-barang yang sudahh disimpan dalam gudang merupakan barang milik perusahaan. Besarnya nilai persediaan yang telah dihitung secara fisik akan menjadi dasar utama dalam penentuan berapa besarnya nilai persediaan yang masih dimiliki oleh perusahaan. Dengan demikian, maka bagi pemeriksa atau staff yang melakukan stok opname diharapkan untuk menjadi lebih cermat dalam hal melakukan pemeriksaan dan tidak melakukan stokc opname ulang.

3. Menjaga Persediaan di dalam gudang.

Persediaan yang sudah tersimpan dalam gudang memiliki nilai ekonomis bagi persediaan. Maka, barang yang sudah tersimpan di gudang merupakan bagian terpenting dari saldo persedian yang nantinya akan disajikan pada Laporan keuangan, khususnya Neraca (Balance Sheet). Juga ikut menjaga persediaan yang sudah tersimpan dalam gudang dan merupakan kekayan milik perusahaan juga berarti harus ikut untuk menjaga nilai perusahaan.

4. Mengelola anggraan pembelian dengan lebih tepat.

Penentuan untuk rencana pembelian (order) persediaan memegang peranan penting dalam proses pegelolaan gudang. Seperti yang sudah biasa diketahui bahwa membeli dalam jumlah lebih banyak akan mengeluarkan biaya (Cost) yang lebih kecil apabila dibandingakn dengan membeli dalam jumlah yang lebih sedikit. Karena ada hubungan tersendiri dengan proses produksi yang sudah dilakukan oleh pihak penjual, harga pokok penjualan yang sudah ditetapkan akan menjadi lebih kecil ketika memproduksi dalam jumlah yang lebih besar.

Yang harus diketahui adalah bahwa semakin menumpuknya jumlah persediaan di dalam gudang akan sangat berdampak besar pada semakin bertambahnya biaya penyimpanan persediaan. Solusinya adalah, dengan tetap membeli dalam jumlah besar, namun dengan meminta supplier untuk mengirimkannya sesuai dengan permintan produksi pembeli. Sehingga biaya penyimpanan gudang juga tidak ikut membesar. Biaya penyimpanan gudang meliputi biaya pembangunan gudang baru, biaya menyewa gudang, dan biaya renovasi gudang.

5. Menyimpan persediaan dengan penataan yang lebih rapi.

Salah satu fungsi utama dari gudang adalah untuk mensupport dari proses produksi dengan melalui penyediaan baik yang berupa bahan baku, maupun untuk barang-barang yang setengah jadi. Sebaiknya pihak manajemen harus tetap lebih memperhatikan lay out penyimpanan persediaan dalam gudang dengan cara meletakan persediaan agar dapat langsung dijangkau oleh para staff gudang pada saat mereka membutuhkan. Persediaan dan harus diletakan berdasarkan dengan kriteria yang sudah ditetapkan oleh pihak manajemen.  Harapanya adalah agar proses produksi tidak sampai terhambat dan menjadi lebih cepat dari sebelumnya.

Seperti contoh : Barang yang natninya akan diproduksi harus diletakan pada posisi yang mendekati mesin produksi, sehingga jika para staff yang bertanggungjawab untuk mengirimkan barang dari gudang kepada mesin produski tidak terlalu banyak memakan waktu dan melakukan tindakan yang berlebihan (Waste) IRW.

Dan itulah beberapa tips tentang bagaimana tatacara dalam mengelola gudang persediaan barang-barang milik perusahaan. Diharapkan setelah membaca artikel ini para pembaca sekalian dapat mengelola gudangnya masing-masing dengan baik. Bagi pembaca yang ingin mengetahui dengan lebih mendalam seputar pengelolaan gudang, membutuhkan konsultasi permasalahan pergudangan dan membutuhkan software accounting silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900 atau bisa juga 081-8521172. Kami siap membantu, terima kasih telah berkunjung ke website kami, Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya.

Scroll to top