Penulis: Admin

MANFAAT PROSES SCREENING (PENYARINGAN) YANG DILAKUKAN TIM HRD KEPADA PARA CALON-CALON KARYAWAN BARU BAGI PERUSAHAAN

Proses untuk perekrutan karyawan baru merupakan tugas utama bagi seorang HR perusahaan. Dan pekerjaan itu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan, karena harus berdasarkan berbagai macam pertimbangan terhadap beberapa hal, seperti halnya skill dan kepribadian si karyawan tersebut.

Selain itu, terdapat hal-hal lainnya yang juga sangat penting untuk diperhatikan ketika melakukan screening (penyaringan) para calon karyawan baru, seperti halnya bagaimana latar belakang riwayat kriminal atau reputasi mereka di perusahaan sebelumnya. Merekrut karyawan yang kurang tepat tidak hanya akan dapat semakin menurunkan produktivitas dari perusahaan, namun juga dapat menyebabkan terjadinya kerugian lainnya bagi perkembangan perusahaan.

Berikut ini merupakan beberapa hal penting mengapa proses screening (penyaringan) para calon-calon karyawan baru sangat penting untuk dilakukan:

1. Alasan Mengapa Begitu Pentingnya Proses Screening Calon-Calon Karyawan Baru.

Terdapat sebuah frase yang telah menyatakan bahwa kejahatan sebenarnya tidak hanya terjadi karena adanya niat dari si pelakunya saja, namun juga karena terdapatnya kesempatan. Oleh karena itu, pada saat akan merekrut karyawan, Anda sebagai seorang HRD sebaiknya juga tidak hanya melihat dari sisi berbagai prestasi pekerjaannya saja atau dari mana sebelumnya mereka bekerja sebelumnya, namun sebaiknya tanyakan juga mengapa mereka bisa berhenti dari perusahaan lamanya.

Apakah karena mereka diberhentikan karena adanya sangsi tertentu atau karena murni dari keinginannya sendiri. Dari sinilah, maka Anda akan bisa mengetahui tentang bagaimana kondisi dari si calon karyawan. Karyawan yang sudah pernah melakukan tindak kejahatan dari tempat kerja sebelumnya, tidak akan menutup kemungkinan bahwa ia juga bisa mengulanginya kembali ketika sudah benar-benar dterima di perusahaan Anda.

Tindak kejahatan yang dilakukan sebenarnya juga bisa sangat beragam. Misalnya, menggelapkan uang kas perusahaan, sehingga hal ini bisa semakin merugikan keuangan perusahaan. Tidak hanya terbatas pada bidang criminal saja, namun reputasi yang buruk juga bisa saja terjadi pada pekerjaannya. Orang yang masih kurang cekatan dalam hal bekerja atau juga merasa ceroboh masih tetap bisa memberikan kerugian yang besar kepada perusahaan. Tidak hanya dari segi financial saja, namun juga mempengaruhi reputasi perusahaan. Apabila perusahaan Anda sudah berskala besar, pastinya reputasi adalah hal yang sangat dijunjung tinggi, Kerugian-kerugian yang terjadi karena hal-hal semacam itu masih bisa diminimalisir sedini mungkin dengan jalan memperketat proses screening para calon karyawan baru.

2. Metode Dalam Proses Screening (Penyaringan) Karyawan Baru.

Biasanya, perusahaan akan melihat terlebih dahulu bagaimana riwayat dari si karyawan melalui CV yang telah dikirimkannya. Namun, hal ini saja sebenarnya masih tidak cukup. Pada CV, info yang tertera adalah berupa info umum seputar riwayat pendidikan dan pengalaman bekerja,  namun tidak terhadap bagaimana reputasi buruknya atau dari hal-hal lainnya yang menjadikan tim HRD akan bisa melihat tentang bagaimana kepribadian sebenarnya dari si calon karyawan baru tersebut. Untuk itulah, maka Anda sangat perlu untuk memverifikasi tentang data-data yang telah dikirimkan oleh si calon karyawan baru tersebut.

Proses verifikasi yang dilakukan sebenarnya masih bisa dilakukan dengan dua macam cara, yaitu dengan bertemu langsung dari si calon karyawan atau dengan berbicara secara langsung melalui telepon. Selain itu, Anda juga akan bisa memanfaatkan media sosial untuk melihat bagaimana keseharian dari si kandidat. Tidak sedikit dari orang yang ingin membagikan aktivitasnya sehari-harinya melalui media sosial. Jika Anda beruntung maka akan menemukan bagaimana keseharian dan apa yang dilakukan oleh si calon karyawan baru Anda di sana, Anda akan bisa dengan mudah melihat seputar apa saja yang telah di-post olehnya, tentang apa yang disukainya, serta apa saja yang telah dibagikannya. Dengan begitu, setidaknya Anda akan bisa mendapat sedikit gambaran tentang seperti apa dan bagaimana aktivitas keseharian dari para calon karyawan baru perusahaan Anda.

3. Kapan Screening (Penyaringan) Karyawan Baru Harus Dilakukan?

Sreening atau proses penyaringan para calon karyawan tidak hanya bisa dilakukan pada saat akan merekrut karyawan baru saja, namun hal ini juga jangan sampai ketinggalan pada saat perusahaan akan mempromosikan karyawan untuk segera naik jabatan. Tim HR juga harus memastikan bahwa karyawan tersebut memang tidak memilki reputasi yang buruk terkait dengan permasalahan pekerjaan yang nanti akan menjadi tanggungjawabnya, sehingga akan berisiko besar untuk menyebabkan terjadinya kerugian pada perusahaan. Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi setelah karyawan tersebut diresmikan untuk menduduki suatu jabatan diperusahaan, karena juga tidak menutup kemungkinan bahwa perpindahan jabatan juga dapat memicu seseorang untuk melakukan hal-hal yang selama ini masih belum pernah diperlihatkan olehnya kepada orang lain.

Melakukan screening atau proses penyaringan para calon karyawan baru bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi jika karyawan dengan kemampuan skill yang diminta oleh perusahaan jumlahnya sangat banyak sekali, sehingga Anda juga harus melakukan proses screening satu per satu. Namun hal itu juga masih tetap diperlukan untuk kebaikan dari perusahaan itu sendiri. Apabila pembaca sekalian membutuhkan software HRD dan Payroll, serta software Accounting silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

ASPEK-ASPEK PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN OLEH MANAJEMEN RITEL MODERN NON JARINGAN (SELAIN FRACHISE)

Saat ini pengusaha ritel, khususnya ritel-ritel modern sudah menjadi sebuah bisnis yang menjadi “primadona bisnis” di negeri ini. Khususnya yang paling banyak adalah berada di pulau jawa dan kita sendiri akan begitu banyak menjumpai adanya berbagai ritel-ritel modern, mulai dari tingkat minimarket, supermarket sampai ritel dengan skala yang paling besar sekelas hypermart yang kesemuanya telah menjadi seperti berbentuk jaringan yang akan terus membuka cabang berupa outlet-outletnya dimana-mana, baik dengan sistem franchise maupun berasal dari hasil modal sendiri.

Sebenarnya sekarang ini jaringannya sudah berdiri tidak hanya di pusat-pusat perkotaan saja, namun juga sudah mulai masuk ke kabupaten dan kecamatan. Karena semakin ketatnya persaingan dalam bisnis ini, menjadikan para pengusaha ritel-ritel modern/per tokoan non jaringan dan waserda (warung serba ada yang masih berada dibawah manajemen koperasi) menjadi semakin ketar-ketir.

Para anggota koperasi yang sebelumnya (era sebelum jenis toko riltel berkembang pesat seperti sekarang) sudah merasa “terlalu nyaman”, dimanjakan dengan adanya sistem ritel modern yang nyaman, cepat, dan akurat (waserba/toserba). Sehingga dari waktu ke waktu omset yang telah diperoleh para pengusaha minimarket non jaringan dan waserda ini malah semakin menurun secara drastis tergerus oleh semakin pesatnya perkembangan ritel-ritel modern jaringan (franchise).

Karena hal itulah maka dalam upaya untuk semakin meningkatkan performa dari toko-toko ritel non jaringan (waserba/toserba) diperlukan adanya suatu strategi khusus yang lebih tepat, sehingga toko-toko ritel non jaringan tersebut setidaknya masih memiliki kemungkinan agar bisa tetap mengimbangi persaingan dengan toko-toko ritel modern jaringan dimata para konsumennya.

Terdapat beberapa aspek toko yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para pengusaha toko ritel modern non jaringan dan waserda untuk menghadapi semakin ketatnya persaingan antar sesama peritel modern, yaitu:

1. Aspek Kualitas Barang Dagangan.

Aspek ini terdiri dari strategi dalam memilih barang dagangan yang lebih tepat, strategi untuk menetapkan harga, sehingga akan memiliki citra yang lebih “kompetitif” dan strategi untuk menempatkan barang (Planogram) yang dapat semakin memaksimalkan keuntungan dari toko toserba.

2. Aspek Teknologi Informasi Ritel Modern Non Jaringan.

Dibutuhkan adanya suatu kecepatan dan ketepatan dalam hal pengambilan keputusan untuk pengelolaan bisnis ritel modern non jaringan. Setiap saat Anda akan selalu dihadapkan pada suatu kebutuhan data seperti: berapa banyaknya barang yang harus diorder, berapa keuntungan kotor dari toko ritel, berapa banyak barang-barang yang tidak laku terjual, berapa banyak barang yang hilang, dan lain sebagainya. Semakin kita mudah dalam mendapatkan data tersebut, maka para pengambil keputusan juga akan dengan mudah membuat suatu keputusan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Karena itulah dibutuhkan adanya suatu aspek teknologi informasi ritel yang handal.

3. Aspek Sumber daya Manusia (SDM).

Aspek ini merupakan salah satu diantara yang terpenting karena SDM dari ritel inilah yang nantinya akan menentukan bahwa bisnis ritel ini dapat sukses atau tidak. Maka dibutuhkan adanya satu strategi SDM, dari mulai perekrutan, pelatihan dan evaluasi secara periodik setelah masuk sebagai SDM toko ritel non jaringan. Pada aspek ini juga masing-masing jabatan dalam toko akan dijelaskan dalam suatu uraian berupa tugas-tugas, yang menjadikan setiap orang dalam toko dapat bekerja dengan lebih efektif dan efisien.

4. Aspek Promosi (Pemasaran).

Agar tetap mampu bersaing dalam bisnis ini, maka dibutuhkan adanya suatu strategi dalam berpromosi yang lebih “agresif” yang dapat menjadikan orang semakin banyak yang masuk ke dalam toko (leads), agar orang semakin banyak membelli barangnya (basket size), agar orang-orang semakin sering berbelanja ke toko ritel kita (frekuensi), dan semakin besarnya prosentasi orang yang berbelanja apabila dibandingkan dengan jumlah orang yang masuk ke toko ritel (convertion rate). Pada aspek ini juga kita akan mempelajari tentang bagaimana dalam membuat sebuah perencanaan promosi dan untuk evaluasi promosi.

5. Aspek Eksterior dan Interior.

Aspek ini memang lebih berfokus kepada tentang bagaimana toko toserba kita akan menjadi lebih “eye cathing” sehingga orang akan menjadi semakin merasa penasaran untuk masuk ke dalam toko. Selain itu juga dibutuhkan adanya strategi untuk penempatan rak-rak (gondola) di dalam toko, termasuk juga untuk menentukan kelompok barang mana saja yang akan dipajang pada posisi-posisi yang lebih “strategis”.

6. Standard Operasional Prosedur (SOP).

Strategi pendukung lain dalam upaya untuk menjamin segala kegiatan operasional toko ritel modern non jaringan dapat menjadi lebih teratur, maka dibutuhkan adanya suatu standar operasional prosedur dari setiap aktivitas/kegiatan dari operasional toko. SOP ini berfungsi untuk mengatur antara lain: prosedur buka tutup toko, prosedur ijin, prosedur kas kecil, prosedur uang kecil, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Demikianlah beberapa aspek-aspek yang biasanya harus benar-benar diperhatikan oleh para peritel modern non jaringan sekelas waserba/toserba. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda sekalian, terimakasih dan salam sukses bravo Ritel Indonesia. Apabila pembaca membutuhkan informasi terkait artikel diatas, atau membutuhkan pembimbingan dalam mendirikan ritel modern, distributor dan membutuhkan SOP untuk manajemen perusahaan, seperti SOP keuangan, SOP logistic, SOP marketing atau membutuhkan software accounting dalam menghitung pajak, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu! Terima kasih.

MENGENAL NERACA SALDO SETELAH PENYESUAIAN DALAM KAIDAH-KAIDAH AKUNTANSI

Neraca Saldo Setelah Penyesuaian merupakan kumpulan dari saldo-saldo buku besar setelah disesusaikan dengan keadaan akhir tahun (keadaan saat menyusun laporan keuangan) suatu usaha. Yang telah disesuaikan adalah dari nilai saldo-saldo tertentu dalam neraca saldo. Lalu apa yang dinilai dan bagaimana cara untuk menyesuaikannya serta yang telah diatur dalam kaidah akuntansi.

Penyesuaian saldo-saldo pada setiap akhir tahun atas sebagian dari saldo rekening yang ada dalam neraca saldo setiap akhir tahun maka dilaksanakan dengan JURNAL PENYESUAIAN.

Jurnal penyesuaian dibuat agar bisa mencapai keseimbangan. Terdapat beberapa penyebab yang mengakibatkan terjadinya ketidaksamaan jurnal, diantaranya adalah:

1. Terdapat transaksi yang terlewatkan (belum/lupa dicatat).
2. Kesalahan perhitungan (nilai transaksi yang telah dicatat menjadi (terlalu besar/terlalu kecil).
3. Terdapat transaksi yang tidak bisa diakui akibat dari penerapan sistem secara akrual.

Menurut peraturan dalam kaidah akuntansi, setelah neraca saldo sudah tersusun, maka tidak seluruh angka-angka dari saldo tersebut dapat digunakan sebagai laporan keuangan, karena sebagian dari saldo rekening, perkiraan, maupun akun masih belum menunjukan adanya nilai yang sebagai mestinya menurut peraturan akuntansi.

Untuk mengetahui neraca saldo setelah penyesuaian harus terdapat beberapa hal berikut:

• Beban terutang (beban yang masih harus dibayarkan).

Apabila disetiap akhir periode tahun terdapat beban yang harus dibayarkan, maka transaksi tersebut harus segera dicatat pada jurnal penyesuaian. Misalnya gaji karyawan di bulan Desember 2017 dan baru akan dibayarkan di setiap tanggal 2 Januari 2018, maka jurnal penyesuaian yang harus dibuat pada tanggal 31 Desember 2017 adalah seperti berikut:

D Beban Gaji                Rp. x.xxx.xxx
K Hutang Gaji                Rp.  x.xxx.xxx

• Pendapatan yang harus diterima.

Sama halnya dengan beban yang terutang, pada setiap akhir periode mungkin saja akan ada pendapatan usaha yang pembayarannya masih belum diterima. Misalnya, pada setiap akhir periode terdapat pendapatan usaha yang masih belum diterima,. Maka jurnal penyesuaian pada tanggal 31 Desember 2017 adalah sebagai berikut:

D Piutang Usaha            Rp. x.xxx.xxx
K Pendapatan Usaha            Rp. x.xxx.xxx

• Penyusutan aktiva tetap (Fixed asset).

Aktiva tetap (Fixed asset) merupakan harta yang dimiliki oleh perusahaan meliputi:

1. Perlengkapan.
2. Bangunan dan kendaraan.

Karena pada waktu penggunaannya tidak dilakukan pencatatan, maka nilai dari aktiva tetap pada akhir setiap akhir periode masih tetap tercantum di neraca saldo sebesar nilai pembeliannya.

Terdapat beberapa macam metode untuk menentukan berapa besarnya penyusutan dari aktiva tetap, seperti:

• Metode garis lurus.
• Metode tarif tetap atas nilai buku.
• Metode jumlah angka tahun.

Dalam metode garis lurus, jumlah beban penyusutan akan dihiting sama besarnya dari tahun ketahun. Ayat jurnal untuk penyesuaian yang harus dibuat dan dicatat sebesar yang menjadi beban penyusutan pada periode tersebut adalah:

D Beban Penyusutan            Rp. x.xxx.xxx
K Akun Penyusutan            Rp. x.xxx.xxx

• Beban dibayar dimuka.

Pembayaran yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh perusahaan terhadap suatu beban. Dan pembayaran tersebut sudah melebihi suatu periode akuntansi, maka harus dilakukan pencatatan jurnal penyesuaian agar dapat mengetahui berapa sebenarnya beban pada waktu itu. Ayat jurnal penyesuaiannya adalah:

D Beban Dibayar Dimuka        Rp. x.xxx.xxx
K Beban        Rp. x.xxx.xxx

• Pendapatan Dibayar dimuka.

Pendapatan yang masih harus diterima bisa muncul karena pada setiap akhir periode telah terjadi pendapatan, namun masih belum diterima pembayarannya. Ayat jurnal untuk penyesuaian yang harus dibuat dan dicatat sebesar yang menjadi pendapatan pada periode tersebut adalah:

D Pendapatan Dibayar Dimuka        Rp. x.xxx.xxx
K Pendapatan Usaha        Rp. x.xxx.xxx

Melakukan setiap langkah-langkah pada poin diatas, jika masih belum balance maka yang harus diulangi kembali adalah dengan cara mengecek satu persatu dimana letak kesalahannya dan harus dilakukan sampai benar-benar dapat balance.

Untuk semakin memudahkan dalam perancangan neraca saldo setelah penyesuaian, maka sebaiknya gunakanlah aplikasi/program accounting untuk menghitung semua hasil akhir dan sebagai solusi keuangan Anda.

Pilihlah aplikasi pembukuan keuangan yang lebih user friendly, fleksibel, untuk menghemat banyak waktu Anda. Pengguna akan dapat mencatat seluruh informasi keuangan kedalam satu aplikasi yang sudah saling terintegrasi. Aplikasi pembukuan accounting juga tidak hanya akan merekam transaksi keuangan bisnis saja, namun juga akan semakin mempermudah pelaku usaha dalam hal mempercepat pengambilan keputusan bisnis, meningkatkan layanan terhadap pelanggan, serta menghemat banyak sekali waktu Anda yang sebenarnya bisa digunakan untuk dapat lebih fokus terhadap hal-hal penting lainnya untuk pengembangan perusahaan.
Apabila membutuhkan software Accounting, HRD dan Payroll, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

 

 

 

DAMPAK DARI AKUNTANSI MANAJEMEN LINGKUNGAN TERHADAP SISTEM AKUNTANSI INTERNAL PERUSAHAAN

Untuk saat ini, jenis organisasi perusahaan apapun sudah mulai banyak yang membicarakan tentang akuntansi lingkungan. Konsep dari akuntansi lingkungan sendiri sangat perlu untuk diterapkan dalam satu sistem yang sedang dijalankan oleh suatu organisasi perusahaan, karena  selain sangat berguna untuk menjaga dan melestarikan lingkungan, konsep seperti ini juga berhubungan erat dengan bagaimana kondisi lingkungan saat ini.

Sudahkah Organisasi Perusahaan Anda Menjalankan Akuntansi Lingkungan?

Sebelum kita akan membahas tentang permasalahan yang lebih jauh, maka alangkah lebih baiknya apabila kita memahami terlebih dahulu tentang apa itu akuntansi lingkungan?

Sejarah Sesungguhnya dari Akuntansi Manajemen Lingkungan (Akuntansi Lingkungan)

Awalnya konsep akuntansi manajemen lingkungan mulai berkembang di Eropa sejak tahun 1970  an yang di dasarkan pada semakin banyaknya tekanan dari berbagai lembaga non pemerintah, serta semakin meningkatnya kesadaran akan lingkungan dari kalangan masyarakat luas yang terus mendesak agar perusahaan-perusahaan menerapkan pengelolaan terhadap lingkungan, bukan hanya sekedar menjadikan kegiatan proses industry demi keuntungan bisnisnya semata.

Kemudian komite dari IASC terus mengembangkan konsep tentang prinsip-prinsip akuntansi internasional pada sekitar pertengahan tahun 1990 an , yang mana di dalamnya sudah termasuk tentang pengembangan akuntansi lingkungan serta audit terhadap hak-hak asasi manusia. Standar dari industry pun juga ikut berkembang dan auditor professional seperti AICPA pun juga mengeluarkan prinsip-prinsip yang bersifat universal tentang audit lingkungan. Lalu, The Environmental Agency/MOE juga ikut ambil bagian untuk mengeluarkan panduan terhadap akuntansi lingkungan pada bulan Mei sekitar tahun 2000 an yang kemudian terus disempurnakan kembali pada tahun 2002 dan 2005 lalu.

United States Environmental Protection Agency (USEPA) berpendapat bahwa akuntansi manajemen lingkungan terbagi ke dalam dua macam dimensi utama, yaitu:

1. Akuntansi manajemen lingkungan merupakan biaya yang secara langsung dapat memberikan dampak bagi perusahaan secara menyeluruh (biaya pribadi).

2. Akuntansi lingkungan meliputi segala biaya-biaya secara individu, masyarakat maupun lingkungan dari suatu organisasi, walaupun informasi yang telah dihasilkan memiliki tujuan yang lain, misalnya tentang pelaporan eksternal.

Menurut USEPA, akuntansi lingkungan merupakan suatu proses untuk pengidentifikasian, pengumpulan serta penganalisaan berbagaai informasi tentang biaya serta kinerja dengan tujuan agar dapat membantu dalam hal pengambilan keputusan organisasi.

Pendapat lain tentang akuntansi lingkungan menurut The International Federation of Accountants (1998), yaitu sebuah pengembangan manajemen lingkungan serta seluruh kinerja ekonomi dan implementasinya mulai dari lingkungan yang tepat sampai dengan hubungan sistem akuntansi serta prakteknya.

Tujuan dari Dibuatnya Konsep Akuntansi Manajemen Lingkungan

Tujuan utama dari dibuatnya konsep ini adalah untuk membantu dalam meningkatkan jumlah informasi terkait bagi mereka yang membutuhkannya maupun yang dapat menggunakannya. Dan tujuan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan konservasi lingkungan oleh perusahaan, yaitu: termasuk dengan kepentingan oranisasi publik yang bersifat lokal.

Selain diatas, tujuan lain dari dikembangkannya akuntansi lingkungan adalah:

• Sebagai alat utama dari manajemen lingkungan.
• Sebagai alat untuk berkomunikasi dengan pihak masyarakat.

Sehingga secara garis besar penggunaan konsep dari akuntannsi manajemen lingkungan bagi perusahaan adalah kemampuan untuk meminimalisasi permasalahan lingkungan yang sedang di hadapinya, dengan tujuan agar dapat semakin meningkatkan efisiensi terhadap pengelolaan lingkungan dengan cara melakukan penilaian dari kegiatan lingkungan yang berasal dari sudut pandang biaya serta manfaat maupun efeknya.

Akuntansi manajemen lingkungan bisa diterapkan oleh berbagai jenis perusahaan dengan harapan agar mampu menghasilkan penilaian kuantitatif tentang biaya serta dampak dari perlindungan lingkungan.

Berikut ini merupakan beberapa panduan yang diharapkan agar dapat menjamin terhadap pengungkapan informasi yang di ambil pada saat melakukan pertimbangan tentang apa saja kebutuhan dari stakeholder agar berhasil dalam penerapan akuntansi lingkungan pada perusahaan, yaitu:

1. Manajemen perusahaan harus memperhatikan tentang kesesuaian evaluasi yang dibuat pada perusahaan dengan dampak pada lingkungan yang akan disebabkannya.
2. Manajemen perusahaan juga harus dapat menentukan apa saja yang akan menjadi targetnya dengan cara mengidentifikasi faktor utama yang dapat berpengaruh terhadap lingkungan perusahaan dan menyusun perencanaan agar dapat mengurangi pengaruhnya pada lingkungan tersebut.
3. Memilih alat ukur yang sesuai untuk menentukan permasalahan lingkungan.
4. Menetapkan target pada setiap segmen dengan jalan melakukan penilaian secara administrasi.
5. Mengukur setiap divisi perusahaan dengan menghasilkan segmen akuntansi.
6. Melakukan analisis kinerja dengan tujuan agar mampu menghasilkan segmen akuntansi yang bisa mendukung prestasi manajemen lingkungan pada setiap divisi.

Fungsi dan Peran Akuntansi Manajemen Lingkungan

1. Fungsi Internal Organisasi Perusahaan.

Fungsi yang berhubungan dengan pihak-pihak internal dari perusahaan itu sendiri. Termasuk dengan sistem informasi lingkungan perusahaan, maka fungsi internal akan semakin memungkinkan dalam pengaturan biaya konservasi lingkungan serta untuk melakukan analisis biaya dari berbagai kegiatan konservasi lingkungan yang lebih efektif dan efisien serta harus sesuai dengan pengambilan keputusan. Sehingga diharapkan dari fungsi ini dapat digunakan oleh pihak manajemen saat berhubungan dengan unit-unit bisnis lain.

2. Fungsi Eksternal (Luar Organisasi Perusahaan).

Adalah fungsi yang berhubungan dengan aspek pelaporan keuangan. Fungsi ini akan memberikan kewenangan bagi perusahaan dalam mempegaruhi pengambilan keputusan stakeholders, misalnya seperti pelanggaran, rekan bisnis, investor, penduduk lokal maupun bagian administrasi. Sehingga perusahaan juga diwajibkan untuk memberikan informasi manajemen perusahaan dalam mempertanggungjawabkan pengelolaannya terhadap pemilik atas pemakaian sumber ekonomi yang dipercayakan kepadanya dengan harapan dapat berfungsi dan berarti bagi perusahaan untuk memenuhi pertanggungjawaban dan transparansi terhadap para stakeholders dalam kepastian dari suatu evaluasi dari kegiatan konservasi lingkungan.

Kesimpulannya adalah:

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya akuntansi lingkungan, maka akan semakin mendukung pendapatan, akuntansi keuangan maupun bisnis internal manajerial, karena akuntansi lingkungan akan membantu perusahaan lainnya untuk semakin meningkatkan keyakinan serta kepercayaan mereka terhdap penilaian yang lebih adil.

Akuntansi lingkungan sangat penting untuk dipertimbangkan karena akuntansi manajemen lingkungan merupakan bidang yang akan terus berkembang dalam mengidentifikasikan pengukuran serta mengkomunikasikan biaya yang aktual pada perusahaan maupun dari dampak potensial terhadap lingkungan.

Maka dari itu, organisasi perusahaan harus membuat konsep tentang akuntansi lingkungan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Sehingga ada baiknya untuk mempelajari lebih lanjut tentang akuntansi lingkungan agar dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga serta melestarikan lingkungan bersamaan dengan kelancaran dari bisnis yang dijalankan.

Apabila membutuhkan software Accounting, HRD dan Payroll, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

 

 

Scroll to top