Penulis: Admin

9 PENGGUNA YANG MEMBUTUHKAN INFORMASI DARI LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan  sedikit berbagi Informasi tentang beberapa Pengguna Informasi dan Laporan Keuangan. Berikut dibawah ini adalah penjelasannya.

Laporan keuangan merupakan satu alat pertangung jawaban manajemen yang terdiri dari Laporan Posisi Keuangan, Laporan Kinerja Keuangan, Laporan Arus kas, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas laporan keuangan. Informasi tersebut akan disajikan dengan tujuan untuk menunjukan bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Berikut dibawah ini adalah beberapa pihak yang menjadi tujuan dari pelaporan informasi keuangan baik ekternal maupun internal, yaitu :

Pengguna Internal, secara umum adalah orang-orang yang berada didalam organisai perusahaan dan terlibat langsung dalam proses penyajian laporan keuangan maupun kegiatan operasional perusahaan. Para pengguna Internal yang terdiri dari Pemilik, Manajemen, dan Karyawan.

1. Pemilik perusahaan.

Pemilik yang telah mendirikan perusahaan, membangun, dan mengembangkan perusahaan tentunya berhak untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dan kondisi keuangan perusahaan selain dari informasi besarnya keuntungan yang sudah diperoleh.

Pemilik akan mengawasi pengembalian nilai investasi, kemudian membandingkan kinerja periode lalu dengan periode yan sedang berjalan. Informasi tersebut akan menjadi sangat berguna untuk menetapkan strategi dan kebijakan selanjutnya. Selain sebagai alat analisa, evaluasi, dan menetapkan strategi ekspansi juga sangat bermanfaat untuk mengetahui seberapa besar deviden yang akan didapatkannya dari alokasi laba.

Pemilik juga harus terlibat dalam pembentukan nilai Goodwill melalui sebuah komitmen, Visi dan misi perusahaan. Tujuan dan arah perkembangan perusahan yang tergambar lebih jelas dari pemikiran pendirinya. Meskipun sebuah pekerjaan dapat di delegasikan, akan tetapi karakter kepemimpinan dan arah perkembangan perusahaan juga tidak mungkin selamanya sama.

2. Manajemen perusahaan.

Bagi pihak manajemen, laporan keungan akan dapat digunakan sebagai satu alat evaluasi dan penentuan kebijakana untuk selanjutnya. Evaluasi dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara laporan kinerja keuangan aktual dengan proyeksi dari laporan keuangan. Meskipun sebenarnya juga tidak semua perusahaan akan menyiapkan anggaran dalam semua hal, akan tetapi anggaran tersebut juga dapat berfungsi sebagai pengendali terhadap kas agar pengeluaran menjadi lebih efektif dan efisien.

Hal yang paling menarik bagi pihak manajemen atas informasi laporan keuangan adalah dari seberapa besar kompensasi bonus yang nantinya akan diterima dari kinerja yang sebelumnya telah dilakukan. Kompensasi yan nanti akan diterima biasanya akan ditentukan pada masa awal periode dan untuk beberapa periode kedepannya.

Manajemen akan dapat melakukan negosiasi kenaikan upah, bonus tergantung dari kinerja yang sebelumnya telah dilakukan. Ukuran dari kinerja perusahaan tidak selamanya akan dapat digunakan sebagai ukuran dalam menentukan tingkat keberhasilan dari negosiasi kenaikan kompensasi.

3. Karyawan.

Pembagian bonus sebenarnya juga tergantung pada seberapa besar keuntungan dari laba yang sudah didapatkan. Bonus yang akan diberikan harus relevan dengan berbagai pencapaian proyeksi laporan keuangan. Sehingga, Mendapatkan bonus merupakan motivasi terbesar bagi seorang karyawan untuk melakukan kinerja dengan lebih baik.

Permintaan dari kenaikan bonus, tunjangan atau upah juga masih tergantung pada bagaimana posisi keuangan dan strategi perusahaan. Perusahaan bisa memberikan bonus atau peningkatan lainnya jika memang tujuan perusahaan dapat tercapai dengan melakukan pendekatan seperti demikian.

Pengguna Eksternal secara umum adalah mereka yang merupakan pengguna dari laporan keuangan yang tidak terlibat dalam proses pembentukan laporan keuangan. Mereka adalah :

4. Kreditor dan lembaga keuangan.

Kreditor bisa berupa pihak yang menjual barang secara kredit, Bank yang memberikan pinjaman dana kepada perusahan, atau pemberi pinjaman uang. Kepentingan mereka terhadap laporan keuangan perusahan adalah ingin menilai kesehatan dari laporan keuangan, apakah calon debitur akan mampu mengembalikan dana pinjaman beserta bunganya dengan tepat pada waktunya.

Laporan keuangan yang menjadi Fokus evaluasi para kreditor adalah laporan posisi keuangan dan laporan kinerja keuangan. Pada laporan posisi keuangan kreditor akan dapat menilai bagaimana kelayakan dari besarnya jumlah dana yang nanti akan dipinjam, sementara pada laporan dari laba rugi penilaiannnya akan lebih berfokus kepada analisa kelancaran dari calon debitur yang akan melunasi hutang beseta bunganya.

5. Para Investor.

Sebelum akan menanamkan modalnya, para investor akan mengevaluasi perusahaan terlebih dahulu. Tidak  mungkin bagi mereka untuk masuk ke perusahaan kemudian melakukan pemeriksaan. Tindakan yang paling rasional adalah dengan cara mengevaluasi bagaimana kinerja perusahaan dari laporan keuangan yang sudah mereka sajikan sebelumnya.

Tujuan dari investor untuk menggunakan laporan keuangan perusahaan sebelum melakukan investasi adalah karena mereka ingin mengetahui seberapa besar resiko dan keuntungan yang sudah melekat pada perusahaan. Penilaian terhadap resiko akan dapat diperoleh dari proses analisa yang terkait dengan berbagai ancaman dan prospek pasar untuk ke depannya, sementara untuk penilaian keuntungan yang diperoleh dari mengetahui berapa besarnya laba termasuk juga historinya.

6. Pihak Pemerintah.

Bagi pemerintah, laba perusahana akan dapat digunakan sebagai satu dasar penetapan anggaran belanja pemerintah. Perlu diingat bahwa salah satu sumber pemasukan bagi pemerintah untuk menetapkan anggaran adalah dari pajak. Pajak yang telah disetorkan kepada pemerintah akan menjadi pemasukan bagi mereka dan kemudian akan dikembelikan lagi melalui pembangunan sarana dan prasarana publik.

7. Konsumen.

Kepentingan konsumen terhadap laporan keuangan yang terkait akan selalu berhubungan dengan kewajiban untuk jangka panjang yang dimiliki oleh perusahaan terhadap konsumen. Misalnya apakah garansi yang telah diberikan oleh perusahaan masih dapat diklaim oleh konsumen di kemudian hari, atau perusahan telah kehilangan kemampuan untuk menjaga keberlangsungannya (Going concern).

8. Peneliti.

Setiap konsumen akan selalu berharap untuk bisa mendapatkan adanya peningkatan kinerja dari sebuah produk tanpa ada peningkatan biaya. Maka hal seperti ini akan menjadi obyek bagi para peneliti, mereka dapat mencari formula baru tentang bagaimana caranya untuk mencapai kepuasan dari para konsumen dan adanya peningkatan profitabilitas perusahaan secara bersamaan

9. Regulator.

Kepentingan dari agen regulator terhadap laporan keuangan perusahaan adalah ingin memastikan bahwa laporan keuangan yang sudah dihasilkan dan telah disajikan oleh perusahaan telah benar-benar sesuai dengan peraturan yang sebelumnya telah ditetapkan. Agen regulatory biasanya lebih bersifat independen, yaitu hanya bersikap dan bertindak sesuai dengan peraturan yang masih berlaku.

Nah itulah sedikit penjelasan yang terkait dengan pengguna laporan keuangan. Terima kasih telah berkunjung ke website kami. Apabila para pembaca sekalian membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu pada pembahasan artikel selanjutnya.

STARTEGI UNTUK MENGURANGI BIAYA PERSEDIAAN (2)

1. Bekerja sama dengan distributor pengiriman.

Sebenarnya dari beberapa konsumen yang mengeluhkan bahwa barang yang sudah mereka terima telah banyak yang rusak, dan perusahaan  terpaksa harus menerima kembali atau mengirim ulang dengan barang yang lebih baik. Bagi pihak manajemen, menjalin hubungan dengan distributor pengiriman barang dapat menjadi pilihan yang paling bijak untuk mengurangi beban terkait dengan kerugian pada saat proses pengiriman. Apabila terjadi kerusakan barang ketika dalam perjalanan, maka bukan lagi menjadi permasalahan perusahaan. Resiko tersebut telah dialihkan kepada pihak distributor. Kebijakan ini lebih memfokuskan pada kepuasan konsumen, khusunya bagi para pengguna akhir. Usaha ini menawarkan cara tercepat dan beresiko rendah bagi perusahaan dalam mencapai operasional pelayanan secara berurutan.

Selain itu terlalu banyaknya barang yang dikirim juga dipengaruhi oleh besarnya daya muat kontainer yang digunakan. Perusahaan yang bekerjasama dengan distributor pengiriman tidak perlu menyediakan tempat Parking untuk truk pengangkut yang berukuran sangat besar, yang akan memenuhi area pabrik.

2. Mensinergikan Suplier.

Suplier harus memiliki akses pada setiap data-data konsumen, termasuk juga histori penjualan maupun proyeksinya. Mensinergikan antara suplier sebagai penyedia barang dengan perusahaan sebagai produsen ke dalam satu kesatuan supply chain dapat mempersingkat proses produksi. Memberikan semua informasi  yang dibutuhkan suplier secara real time untuk mengelola komponen persediaan, sehingga mereka dapat membantu dengan lebih maksimal. Tujuan dari pensinergian tersebut ialah untuk menunda pengiriman barang sampai batas persediaan tertentu, idealnya adalah hingga mencapai titik untuk dikonsumsi. Yang diharapkan dari strategi ini ialah dapat meningkatkan efektifitas proses produksi dan penerimaan barang.

Dengan memberikan informasi perilaku pemesanan produsen kepada suplier, maka suplier akan dapat mengirimkan barang kepada produsen jika dinilai telah mencapai titik tertentu/reorder point. Manfaatnya bagi perusahaan adalah dapat lebih menekan biaya pesanan/Ordering cost (preparation set up Cost), yaitu biaya yang terjadi karana adanya kegiatan memesan kepada vendor sampai barang tiba di gudang atau mulai melakukan organisasi untuk memulai produksi di dalam pabrik. Biaya administrasi dan manajerial untuk menyiapkan pembelian atau pesanan, misalnya biaya telepon, biaya pencatatan dan lain sebagainya.

3. Memperbaiki pelayanan suku cadang.

Dalam hal manajerial, sangat penting sekali untuk mengefektifkan pelayanan operasional. Kebanyakan dari perusahaan jatuh karena mereka sudah sejak awal salah dalam mengelola persediaan, khususnya terhadap suku cadang. Biasanya perusahaan tersebut sedang dihadapkan pada begitu banyaknya jumlah persediaan yang besar, kinerja departemen pergudangan yang tidak optimal, berkurangnya kepuasan konsumen, dan terbuangnya peluang untuk menjual produk lain termasuk juga suku cadang setelah penjualan dilakukan (Sales after sales).

Berikut ini merupakan beberapa cara yang masih dapat dilakukan untuk mengelola persediaan dan suku cadang dengan lebih tepat.

• Membuat anggaran belanja persediaan dan suku cadang dengan lebih akurat.
• Hindari penyimpanan persediaan yang berlebihan.
• Monitor tingkat persediaan agar produksi tidak terhambat.
• Menselaraskan kebutuhan persediaan dengan suku cadanganya berdasarkan fungsinya. Hanya menyediakansuku cadang atas prodk yang dijual.

4. Melibatkan manajemen puncak.

Setiap departemen pada perusahaan manufaktur memiliki persediaan tersendiri dan diatur oleh setiap masing-masing kepala bagian. Setiap departemen memiliki kebebasannya sendiri untuk mengelola persediaannya, maka akan menjadi semakin sulit bagi departemen lainnya untuk terlibat dalam pengelolaan meskipun memiliki proses yang berkaitan. Secara hirarki dengan melibatkan manajemen puncak, semua departemen akan tetap tunduk kepada kebijakan yang sudah dibuat oleh manajemen yang lebih tinggi. Adapaun kebijakan yang masih dapat diterapkan adalah setiap individu dalam sebuah departemen akan bertanggungjawab atas besarnya nilai persediaan yang menjadi tanggungjawabnya. Strategi seperti ini dinilai dapat mengendalikan proses pengendalian atas persediaan dan semakin meningkatkan keefisienan dari proses produksinya.

5. Otorisasi akan dipegang oleh satu pihak.

Agar dapat lebih meningkatkan kekuatan pengelolaan persediaan, perusahan dapat memilih  hanya satu saja departemen yang bertanggungjawab penuh dan dapat berkolaborasi dengan fungsi lainnya, seperti departemen teknis maupun departemen pembelian. Dipilihnya satu organisasi untuk mengatur persedian agar tidak sampai terjadi perselisihan yang terkait dengan penyediaan persediaan dan proses didalamnya. Selain itu cara seperti ini akan dapat mempertahankan budaya, dan tetap fokus kepada rencana utama (grand project) perusahaan.

6. Memperbaiki database persedian.

Salah satu informasi terpenting yang terkait dengan berbagai informasi persediaan merupakan informasi tentang perputaran persediaan. Dengan memiliki data-data perputaran persediaan manajemen akan dapat memonitor seberapa lama barang persediaan tersebut akan ditahan, belum terjual. Perusahaan juga masih dapat menaksirkan waktu keterlambatan pengirimannya.

7. Menetapkan titik pemesanan kembalinya.

Ada sebagian perusahan yang menetapkan titik pemesanan kembali (reorder point) pada tingkat serendah mungkin. Tujuannya adalah agar persediaan yang sudah tersimpan tidak menjadi usang, akibat dari pemesanan yang terlalu berlebihan meskipun berakibat pada biaya pengiriman yang menjadi lebih besar.

Nampakna tidak semua perusahaan dapat menerapkan kebijakan seperti ini. Hanya perusahaan yang bergerak pada usaha penjualan barang makanan dan minuman fast moving saja yang lebih cocok untuk menerapkannya. Mengusahakan agar barang dapat sampai ke pada end-user sebelum batas waktu (Expired date) adalah suatu kebijakan yang paling tepat (IT).

Nah, itulah sedikit penjelasan yang terkait dengan pengelolaan persediaan. Diharapkan setelah membaca artikel ini para pembaca sekalian dapat mengendalikan biaya persediaan, mengalokasikan pada kegiatan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Pemangkasan biaya persediaan oleh perusahaan akan berhasil jika sudah sesuai dengan kondisi lingkungan perusahaan. Strategi yang sama belum tentu akan dapat diterapkan pada perusahaan yang sama, masih tergantung pada kondisi lainnya. Bagi para pembaca sekalian yang membutuhkan bimbingan seputar pengelolaan persediaan silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

RASIO PERPUTARAN PERSEDIAAN (INVENTORY TURN OVER RATIO)

Pada Kesempatan kali ini implementor software akuntansi akan sedikit membahas artikel tetang Perputaran persediaan (Inventory Turnover Ratio).

Perputaran persediaan (Inventory Turn Over Ratio) merupakan rasio yang berfungsi untuk mengukur seberapa efisien perusahaan dalam mengendalikan barang dagangan atau persediaannya. Indikatornya adalah semakin besar nilai rasio maka akan semakin efektif pula perusahaan dalam menjual persediaannya. Dalam arti lainnya perusahaan telah menghindari pengeluaran biaya-biaya yang dapat menyebabkan terjadinya pemborosan-pemborosan pada sumber daya perusahaan. Arti dari nilai rasio yang terlalu tinggi juga dapat menandakan bahwa perusahaan dapat menjual persediaan sesuai dengan harapan. Ekspektasi tersebut sudah tercantum dalam nilai anggaran pembelian dan penjualan.

Bagi perusahaan retail, perusahaan dagang. Perusahaan yang membeli barang dagangan lalu kemudian menjualnya kembali dengan harga baru, penilaian tentang efektifitas penjualan barang dagang sangat bermanfaat bagi mereka. Terutamanya adalah bagi para investor. Sedangkan bagi kreditur Rasio seperti ini dapat memberikan informasi secara tidak langsung tentang kemampuan perusahaan dalam melunasi pinjamannya beserta bunganya.

Jika para pembaca sekalian ingin membandingkan kinerja persediaan perusahaan satu dengan perusahaan yang lainnya, maka sebaiknya para pembaca sekalian harus mencari perusahaan yang sejenis, perusahaan yang berada pada industri yang sama. Misalnya membandingkan antara perusahaan makanan dan minuman (food and beverage) yang merupakan perusahan fast moving good, perusahaan yang memiliki sifat barang-barang yang mudah laku juga harus dibandingkan dengan perusahaan yang sama dan sejenis. Perusahan tersebut juga tidak layak jika dibandingkan dengan perusahan yang memiliki barang persediaan low moving good, perusahaan dengan sifat persediaan dagangan yang terlalu sulit laku misalnya adalah jenis perusahaan mobil, property dan lain sebagainya.

Untuk dapat memahami secara lebih mendalam, maka implementor software akuntansi memberikan sedikit penjelasan tambahan dalam bentuk sebuah kasus:

Misalnya terdapat sebuah toko yang menjual bahan baku telah melaporkan biaya pokok penjualaan pada laporan keuangan dengan laba rugi sebesar Rp 500.000.-. persediaan awal dari toko ini adalah sebesar Rp 800.000.000,- sedangakan persediaan akhirnya adalah sebesar Rp. 700.000.000,-. berapa rasio perputaran persediaan atau Inventory turn over ratio-nya?

Berikut dibawah ini akan diberikan informasi tentang data-data yang dimiliki oleh perusahaan:

Lalu berapa Rasio perputaran persediaanya (Inventory Turnover Ratio).
Pertama-tama hitung terlebih dahulu persediaan rata-ratanya dengan cara rumus dibawah ini:

Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa persedian rata-ratanya adalah sebesar Rp 750.000.000,- ( Rp 800.000.000,- + Rp 700.000.000,- /2).
Nilai rasio dari perputaran persediaan akan dapat dihitung dengan cara membagi harga pokok penjualan (Cost of Good Sold) dengan nilai persediaan rata-rata, Berikut perhitungannya.

Dari rumus seperti diatas maka didaptakn nilai rasio perputaran persediaan sebagai berikut sebesar 0.66 % ( Rp 500.000.000,- / Rp 750.000.000,-).

Nah, itulah sedikit tips seputar Perhitungan rasio perputaran persediaan (Inventory Turnover ratio) terbaik. Apabila pembaca ingin memahami dengan lebih mendalam dari rasio perputaran persediaan dan membutuhkan konsultasi, pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.
Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya.

 

 

 

PENJELASAN SEPUTAR HUTANG PRODUKTIF DAN HUTANG TIDAK PODUKTIF BAGI SUMBER PENDANAAN PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini implementor software akuntansi akan sedikit membahas artikel tentang HUTANG PRODUKTIF DAN HUTANG NON PODUKTIF.

Bedasarkan dari sebuah riset yang telah dibuktikan bahwa sumber pendanaan perusahaan di Indonesia beberapa diantaranya lebih banyak mengandalkan pada sumber dana yang berasal dari Bank. Dan itu artinya adalah bahwa Bank sangat berperan besar dalam penyediaan dana-dana segar bagi perusahaan apabila dibandingakan dengan para investornya.

Terdapat beberapa pengusaha yang lebih banyak untuk berusaha menghindari berhutang dalam menjalankan dan mengelola usahanya. Namun masih ada beberapa diantaranya yang lebih banyak mengandalkan dari berhutang karena merupakan satu-satunya sumber pendanaan dalam mempercepat perkembangan perusahaan. Cara untuk bisa mengetahui sumber dana utama seperti apa yang paling mendominasi modal perusahaan dapat diketahui dengan mengunakan sebuah rasio.

Jenis rasio yang bisa digunakan adalah rasio hutang atas modal Debt to Equity Ratio.  Rasio seperti ini mampu menghasilkan angka yang dapat menentukan perbandingan antara nilai hutang dengan nilai setoran modalnya.

Pertama akan kita mulai dengan penjelasan hutang produktif, kemudian akan dilanjutkan dengan pembahasan tentang hutang tidak produktif.

Sebuah pinjaman atau hutang bisa dikatakan produktif jika memang memiliki kemampuan untuk melunasi sendiri (Self liquidating). Kemampuan nya adalah dapat menghasilkan uang dari operasional yang berasal dari investasi yang sudah dilakukan. Pinjaman yang juga termasuk kedalam hutang produktif jika uang pinjaman tersebut yang digunakan untuk menghasilkan return pengembalian modal investasi.

Pengembalian modal hanya akan dapat diperoleh jika perusahaan mampu dalam memanfaatkan dana yang telah bersumber dari hutang untuk berbagai kegiatan operasionalnya masing-masing. Misalnya untuk melakukan perluasan usaha (expansion), menambah kegiatan operasional, atau untuk memulai usaha baru. Meskipun kami juga sangat tidak menyarankan sepenuhnya kepada para pembaca sekalian untuk memulai usaha dengan cara berhutang bagi mereka yang sangat minim pengalaman dan tujuan dalam hal pendirian usaha yang tidak jelas.

Return yang lebih tinggi diharapkan bisa diperoleh oleh perusahaan pada saat pihak manajemen menggunakan hasil dari investasinya.

Nah, sekarang sudah saatnya untuk beralih kepada pembahasan hutang non produktif. Sebuah pinjaman atau hutang bisa dikatakan tidak produktif jika dana yang bersumber dari hutang tersebut malah digunakan untuk kegiatan non operasional. Misalnya, seperti hutang untuk membayar deviden, hutang untuk melunasi hutang lainnya, hutang yang digunakan untuk mendukung gaya hidup (life style), hutang untuk membangun rumah, hutang untuk membeli kendaraan bermotor dan lain sebagainya.

Lalu sekarang bagi para pembaca sekalian yang sudah terlanjur memiliki asset hasil dari berhutang dan menginginkan hasil dari investasi tersebut. Maka berikut ini adalah pembahasan sebenarnya tentang hal semacam itu.

Misalnya para pembaca yang telah terlanjur membangun rumah besar dari hasil berhutang dari bank, kamar-kamar yang sudah dibagun jika tidak ditempati, maka lebih baik untuk disewakan saja, bisa juga untuk dikontrakan atau di kostkan.

Disebabakan karena biaya hidup yang menjadi semakin tinggi banyak diantara para pemilik rumah di kota-kota besar malah menyewakan rumahnya, atau membangun kamar baru untuk bisa disewakan. Namun dengan adanya sebuah konsekuensi dengan tidak memiliki ruang untuk halaman lagi.

Sedikit contoh singkat seperti di atas merupakan permasalahan yang secara umum banyak terjadi, dan sekarang sudah saatnya untuk beralih kepada permasalahan financial.

Misalnya Anda berencana untuk membeli mobil dengan uang tunai/cash. Menurut kami sebaiknya Anda harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana perbandingan antara manfaat dan bebannya, (cost and benefit)-nya. Beban yang nanti akan Anda tanggung besarnya dapat diketahui dengan cara mengetahui berapa besarnya beban bunga jika Anda membelinya dengan cara di kredit. Misalnya beban bunga sebesar 5- 6 % setahun.

Jika para pembaca sekalian mencari produk-produk Investasi, maka akan sangat banyak sekali ditemukan adanya produk-produk investasi yang telah menyediakan bunga dengan sangat besar. Misalnya adalah dari produk investasi Asuransi yang lebih banyak memberikan bunga sebesar 9,75% setahun, bunga dari deposito ada yang bisa sampai lebih dari 7% dalam setahun. Intinya adalah agar para pembaca sekalian tidak semakin terbebani dengan adanya biaya bunga, sebaiknya membeli dengan cara dikredit namun juga melakukan investasi yang bisa menghasilkan pendapatan bunga yang jauh lebih besar dari pada bunga kreditnya (IRW).

Nah, itulah sedikit tips seputar bagaimana dalam pengelolaan piutang. Apabila para pembaca sekalian ingin memahami secara lebih mendalam dari manajemen piutang dan membutuhkan konsultasi, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.
Sampai bertemu lagi pada pembahasan artikel selanjutnya dan salam sukses.

Scroll to top