BERITA

Informasi terkini seputar Manajemen, Accounting, Sumber daya manusia, Ritel Management, Teknologi Informasi

SEPUTAR ECONOMIC ORDER QUANTITY (JUMLAH PEMESANAN EKONOMI)

Pada Kesempatan kali ini tim praktisi software akuntansi akan sedikit berbagi informasi tentang “ECONOMIC ORDER QUANTITY/JUMLAH PEMESANAN EKONOMI”. Bagi kebanyakan manajer gudang biasanya lebih banyak menggunakan model Economic Order Quantity (EOQ) atau Jumlah Pemesanan Ekonomi dalam melakukan pemesanan persediannya yang dilakukan sebagai salah satu alternatif cara dalam memberikan alasan yang mungkin masih bisa diterima oleh bagian gudang maupun bagian pembelian. Dan berikut ini adalah sedikit penjelasannya dari praktisi software akuntansi.

Pertama-tama kita akan membahas tentang definisi dari Economic Order Quantity (EOQ). EOQ sendiri merupakan sebuah alat yang sangat berguna untuk menentukan bagaimana kuantitas dari pesanan persediaan. Tujuannya adalah agar tim manajemen dapat lebih mengoptimalkan kinerja dari bagian pergudangan dengan cara menekan biaya untuk proses penyimpanan dan biaya pemesanan persediaan. Dalam konsep EOQ sendiri pihak manajemen diharapkan agar dapat lebih meminimalkan jumlah barang yang sudah dipesan atau mengoptimalkan pembeliannya.

Beberapa karakteristik dari Model Economic Order Quantity (EOQ) tersebut adalah:

1. Barang-barang yang akan dipesan jumlahnya konstan.
2. Informasi mengenai permintaan konsumen, biaya pemesanan, biaya transportasi, waktu pemesanan sampai barang dikirimkan lebih bersifat konstan.
3. Harga barang per unit konstan dan sama sekali tidak berpengaruh pada jumlah barang yang sudah dipesan.
4. Kualitas dari barang yang sudah dipesan bersifat konstan.
5. Biaya penyimpanan per tahun untuk satu unit barang nilainya adalah selalu konstan.

Manfaat dari penggunaan Economic Order Quantity (EOQ) adalah sebagai berikut:

1. proses produksi agar bisa tetap lancar, sebab manajemen akan semakin terhindar dari kehabisan stock barang atau back order.
2. Jumlah permintaan akan dapat diketahui secara pasti.

Tujuan utama dari penggunaan model EOQ adalah untuk menetapkan seberapa banyak jumlah barang yang sudah dipesan yang akhirnya akan semakin mengurangi biaya persediaan. Berikut dibawah ini akan disajikan formula untuk menentukan seberapa banyak jumlah pesanan persedian berdasarkan EOQ:

Contoh kasus:
PT. Adhi Nusa adalah perusahan distrbutor sebagai penyalur minuman berkarbonasi yakni Pepsi Cola. Dalam satu tahun terakhir Pepsi Cola yang digunakan adalah sebanyak 1.100 BIB (Bag in the Box) dan melakukan pemesanan sebanyak 45.8 kali. Setiap kali melakukan pemesanan PT. Adhi Nusa harus membayar biaya kirim sebesar Rp 4.625.-. Harga Pembelian per unitnya adalah sebesar Rp 70.650.-. Setiap tahun besarnya biaya penyimpanan adalah sebesar Rp 17.662,5 (70.650 x 25%).

Dari contoh kasus seperti diatas, maka kita akan mencari biaya yang paling ekonomis untuk melakukan pemesanan. Berikut di bawah ini adalah rumus formulanya:


Sekarang kita akan mulai menghitung biaya yang paling optimal dari ketiga skenario tersebut. Yaitu pemesanan yang dilakuan adalah sebesar 20 BIB, 24 BIB, dan 27 BIB. Diantaranya adalah 3 skenario tersebut yang mana biaya pemesanan dan penyimpananya adalah yang paling optimal.

Skenario pertama, adalah dengan asumsi Jika 1.100 BIB Pepsi Cola telah dikirimkan sebanyak 20 kali dalam setahun, maka biaya pemesanan dan biaya penyimpanannya adalah sebesar:

Skenario kedua, Jika 1.100 BIB Pepsi Cola dikirim sebanyak 24 kali dalam setahun maka biaya pemesanan dan biaya penyimpanannya adalah sebesar:

Skenario Ketiga, Jika 1.100 BIB Pepsi Cola dikirim sebanyak 27 kali dalam setahun maka biaya pemesanan dan biaya penyimpanannya sebesar:

Dari perhitungan seperti diatas, maka akan nampak bahwa dari beberapa skenario tersebut telah menunjukan adanya biaya pemesanan dan pengiriman yang berbeda-beda.  Jika membandingkan dari ketiga skenario seperti diatas, maka skenario dengan adanya pemesanan sebanyak 24 kali dalam setahun telah menyediakan pengeluaran biaya yang terkecil. Dengan demikian, apabila perusahaan telah menggunakan skenario yang kedua, maka perusahaan akan dapat lebih menghemat pengeluarannya.

Nah, itulah sedikit penjelasan terkait ECONOMIC ORDER QUANTITY  dari praktisi software akunansi, terima kasih telah berkunjung ke website kami, semoga bisa bermanfaat untuk Anda sekalian dan bagi para pembaca yang ingin mengetahui secara lebih mendalam seputar “ECONOMIC ORDER QUANTITY”, membutuhkan konsultasi permasalahan manajemen, Membutuhkan Pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software silahkan menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900, atau 081-8521172. Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya.

BEBERAPA HAL YANG MENYEBABKAN SEORANG AKUNTANSI HARUS MENGALAMI BANYAK TEKANAN BERAT (STRESS) DITEMPAT KERJA

Terjadinya stress yang berkepanjangan di tempat kerja seringkali terjadi dan paling banyak dirasakan oleh para tenaga kerja akuntan internal perusahaan dan lembaga keuangan. Seorang akuntan biasanya lebih rentan untuk mengalami stres karena pekerjaannya yang berhubungan langsung dengan keuangan dan lebih menuntut untuk adanya tingkat ketelitian yang lebih tinggi diatas rata-rata. Bahkan tidak jarang juga mereka harus bekerja lembur agar bisa menyelesaikan berbagai tugas-tugas kantor yang begitu kompleks.

Banyak diantara para akuntan yang harus mengalami stres berkepanjangan di tempat kerja, dan hasil akhirnya adalah hanya akan ada dua alternatif pilihan bagi mereka, yaitu: lebih memilih untuk resign (mengundurkan diri) karena merasa terlalu jenuh dengan pekerjaannya untuk mencari suasana baru yang agak berbeda dari sebelumnya atau tetap memilih untuk bertahan namun dengan adanya pengecualian untuk dilakukannya kegiatan rotasi pekerjaan.

Lalu menurut Anda apa sajakah bentuk-bentuk stres kerja yang banyak terjadi pada seorang akuntan? Berikut ini adalah sedikit penjelasan dari praktisi software akuntansi tentang apa saja yang biasanya menjadi penyebab utama terjadinya stress kerja bagi seorang tenaga akuntan perusahaan.

1. Dituntut untuk terus berkompetisi dengan deadline laporan.

Begitu banyak faktor penekan utama yang sangat berpotensi besar untuk menyebabkan terjadinya stress berkepanjangan pada lingkungan kerja. Bekerja sebagai seorang akuntan memang juga tidaklah mudah. Selain harus menghadapi berbagai tugas-tugas yang begitu rumit dan kompleks serta sangat menguras daya pemikiran, profesi ini juga harus selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan lainnya, seperti deadline.

Semakin meningkatnya berbagai kebutuhan transparansi dan laporan keuangan perusahaan dengan tepat waktu juga menjadi salah satu faktor yang bisa menyebabkan banyak diantara para akuntan tersebut harus mengalami stres kerja begitu berat. Membuat laporan keuangan seperti halnya neraca keuangan, laporan arus kas, laporan laba rugi dan berbagai laporan-laporan lainnya sering kali terlalu banyak menyita waktu jika semuanya harus dilakukan satu per satu.

Berbagai tekanan dan desakan waktu semakin menjadikan seorang akuntan juga seringkali diharuskan untuk lembur kerja agar dapat menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu. Sebisa mungkin stres kerja yang paling banyak dialami oleh seorang akuntan harus ditangani secepatnya agar tidak sampai menyebabkan terjadinya dampak negatif. Misalnya saja seperti pekerjaan menjadi semakin kacau, kinerja yang semakin lama semakin melemah dan lain sebagainya.

2. Beban kerja yang terlalu berlebihan.

Banyak hal yang bisa mempengaruhi seorang akuntan, sehingga mereka harus mengalami stres berkepanjangan di tempat kerja. Dan salah satu penyebab utamanya adalah karena beban kerja dari seorang akuntan yang terlalu berlebihan atau overload. Misalnya, seorang akuntan yang diharuskan untuk melakukan rekonsiliasi transaksi pada pencatatan dengan rekonsiliasi rekening bank, selalu memantau arus laba rugi, depresiasi asset, mencatat hutang piutang, dan transaksi harian dari perusahaan. Selain itu, seorang akuntan juga harus bertanggungjawab untuk menghitung profit, sales order, invoice, laporan pajak bisnis, sampai dengan pencatatan stock opname.

Seringkali yang terjadi adalah SDM tenaga akuntan di perusahaan dan beban kerja yang harus mereka lakukan sangat tidak seimbang. Banyak juga diantara para akuntan tersebut yang mengerjakan  tugas-tugas sampai melebihi kapasitasnya. Beban kerja dari seorang akuntan yang terlalu berlebihan seperti ini seringkali sangat mengganggu produktivitas dan mampu menurunkan kinerja mereka. Hal seperti ini tentunya harus segera diantisipasi agar segala tugas-tugas yang ada dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin dan tidak sampai menjadikan perusahaan harus mengalami kerugian yang lebih fatal.

3. Semakin kompleksnya penyusunan laporan keuangan perusahaan.

Semakin meningkatnya tingkat kompleksitas dalam penyusunan laporan keuangan perusahaan juga dapat memicu seorang akuntan untuk mengalami stres. Setiap harinya, seorang akuntan harus berurusan dengan angka-angka nominal uang yang tidak terlihat dan harus membuka banyak sekali sheet-sheet laporan.

Menghadapi terlalu banyaknya tumpukan berkas-berkas keuangan perusahaan yang harus dihitung dan diinput secara manual dengan menggunakan Microsoft Excel seringkali lebih menyulitkan dan terlalu menguras banyak waktu dan pikiran. Selain itu, seorang akuntan juga harus menghafal berbagai rumus-rumus Excel beserta bagaimana cara untuk mengoperasikannya dengan sangat teliti agar tidak sampai terjadi kesalahan sedikitpun. Standar laporan keuangan untuk saat ini juga jauh lebih banyak menjadi principled-based, bukan ruled-based lagi.

4. Adanya tekanan kerja dan berbagai kesibukan.

Pekerjaan seorang akuntan yang mengharuskannya untuk bekerja di kantor dengan jam kerja standar, yaitu pukul sembilan pagi sampai dengan jam lima sore. Namun, jika sedang banyak tugas dan juga deadline yang terlalu ketat akan mengharuskan seorang akuntan untuk bekerja lembur, bekerja di luar jam kerja normal, bahkan masih harus bekerja pada saat weekend. Menjadi bagian terpenting dari penggerak utama dari perputaran roda perusahaan juga menjadikan seorang akuntan harus memikul tanggungjawab yang lebih besar daripada karyawan bagian lainnya. Hal ini tentu saja malah menjadikan tekanan kerja dari seorang akuntan semakin berlipat ganda.

Berada dalam kondisi selalu merasa tegang seperti ini sangat berpotensi untuk menjadikan seorang akuntan semakin kelelahan, stamina akan semakin menurun, terlalu mudah untuk jatuh sakit, dan menjadi lebih sulit untuk berkonsentrasi. Seorang akuntan harus mampu dalam meng-handle stres yang dimilikinya sendiri agar tidak sampai mengganggu kenormalan dari berabgai aktivitas kerja di perusahaan. Karena jika keadaan stress semakin mempengaruhi pekerjaannya, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak terjadi kesalahan dalam proses pembukuan keuangannya yang akan berakibat pada kerugian bagi perusahaan.

5. Tekanan dari kelanjutan sertifikasi profesi akuntan.

Dalam upaya agar dapat terus memenangkan persaingan, untuk saat ini para akuntan di Indonesia semakin dituntut untuk terus lebih meningkatkan kompetensinya. Misalnya seperti harus memilki sertifikasi kompetensi yang sudah diakui oleh internasional, seperti:

• Sertifikasi CPA (Certified Professional Accountant).
• CMA (Certified Management Accountant).
• CFA (Chartered Financial Accountant).

Semuanya juga berlaku secara internasional, beberapa sertifikasi tersebut sangat dibutuhkan sebagai bukti bahwa akuntan tersebut sudah memiliki kompetensi yang berstandar internasional. Pendidikan lanjutan setelah menuntaskan S1 Akuntansi juga terbilang sangat mahal dan bisa disetarakan dengan pendidikan lanjutan kedokteran. Profesi dari seorang akuntan juga tidak cukup jika hanya mengandalkan kompetensi yang hanya biasa-biasa saja atau sekadar memenuhi persyaratan minimal pendidikan profesionalisme berkelanjutan (PPL). Hal ini juga menjadi salah satu penyebabnya mengapa seorang akuntan sangat rentan untuk mengalami stres kerja.

Dan sekarang Anda sudah mengerti bukan mengapa profesi sebagai seorang akuntan sangat rentan sekali untuk mengalami stres kerja pada internal perusahaan. Namun Anda juga tidak boleh merasa terlalu cemas karena untuk saat ini sudah sangat banyak software akuntansi, terutamanya adalah yang sudah berbasis online yang mampu membantu segala pekerjaan pembukuan Anda. Semua fitur-fitur pembukuan sudah banyak tersedia dengan sangat lengkap, tidak perlu lagi harus kerja ekstra keras sampai lembur dan membuat laporan-laporan keuangan yang terlalu banyak bertumpuk-tumpuk. Hanya tinggal menyalin berkas yang ada ke dalam software, maka selanjutnya dalam hitungan detik laporan keuangan perusahaan Anda akan langsung tersaji dengan cepat akurat dan juga sangat lengkap. Semoga bisa bermanfaat dan salam sukses.

Apabila pembaca ingin memahami dengan lebih mendalam dari rasio perputaran persediaan dan membutuhkan konsultasi, pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.
Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya.

9 PENGGUNA YANG MEMBUTUHKAN INFORMASI DARI LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan  sedikit berbagi Informasi tentang beberapa Pengguna Informasi dan Laporan Keuangan. Berikut dibawah ini adalah penjelasannya.

Laporan keuangan merupakan satu alat pertangung jawaban manajemen yang terdiri dari Laporan Posisi Keuangan, Laporan Kinerja Keuangan, Laporan Arus kas, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Catatan atas laporan keuangan. Informasi tersebut akan disajikan dengan tujuan untuk menunjukan bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Berikut dibawah ini adalah beberapa pihak yang menjadi tujuan dari pelaporan informasi keuangan baik ekternal maupun internal, yaitu :

Pengguna Internal, secara umum adalah orang-orang yang berada didalam organisai perusahaan dan terlibat langsung dalam proses penyajian laporan keuangan maupun kegiatan operasional perusahaan. Para pengguna Internal yang terdiri dari Pemilik, Manajemen, dan Karyawan.

1. Pemilik perusahaan.

Pemilik yang telah mendirikan perusahaan, membangun, dan mengembangkan perusahaan tentunya berhak untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dan kondisi keuangan perusahaan selain dari informasi besarnya keuntungan yang sudah diperoleh.

Pemilik akan mengawasi pengembalian nilai investasi, kemudian membandingkan kinerja periode lalu dengan periode yan sedang berjalan. Informasi tersebut akan menjadi sangat berguna untuk menetapkan strategi dan kebijakan selanjutnya. Selain sebagai alat analisa, evaluasi, dan menetapkan strategi ekspansi juga sangat bermanfaat untuk mengetahui seberapa besar deviden yang akan didapatkannya dari alokasi laba.

Pemilik juga harus terlibat dalam pembentukan nilai Goodwill melalui sebuah komitmen, Visi dan misi perusahaan. Tujuan dan arah perkembangan perusahan yang tergambar lebih jelas dari pemikiran pendirinya. Meskipun sebuah pekerjaan dapat di delegasikan, akan tetapi karakter kepemimpinan dan arah perkembangan perusahaan juga tidak mungkin selamanya sama.

2. Manajemen perusahaan.

Bagi pihak manajemen, laporan keungan akan dapat digunakan sebagai satu alat evaluasi dan penentuan kebijakana untuk selanjutnya. Evaluasi dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara laporan kinerja keuangan aktual dengan proyeksi dari laporan keuangan. Meskipun sebenarnya juga tidak semua perusahaan akan menyiapkan anggaran dalam semua hal, akan tetapi anggaran tersebut juga dapat berfungsi sebagai pengendali terhadap kas agar pengeluaran menjadi lebih efektif dan efisien.

Hal yang paling menarik bagi pihak manajemen atas informasi laporan keuangan adalah dari seberapa besar kompensasi bonus yang nantinya akan diterima dari kinerja yang sebelumnya telah dilakukan. Kompensasi yan nanti akan diterima biasanya akan ditentukan pada masa awal periode dan untuk beberapa periode kedepannya.

Manajemen akan dapat melakukan negosiasi kenaikan upah, bonus tergantung dari kinerja yang sebelumnya telah dilakukan. Ukuran dari kinerja perusahaan tidak selamanya akan dapat digunakan sebagai ukuran dalam menentukan tingkat keberhasilan dari negosiasi kenaikan kompensasi.

3. Karyawan.

Pembagian bonus sebenarnya juga tergantung pada seberapa besar keuntungan dari laba yang sudah didapatkan. Bonus yang akan diberikan harus relevan dengan berbagai pencapaian proyeksi laporan keuangan. Sehingga, Mendapatkan bonus merupakan motivasi terbesar bagi seorang karyawan untuk melakukan kinerja dengan lebih baik.

Permintaan dari kenaikan bonus, tunjangan atau upah juga masih tergantung pada bagaimana posisi keuangan dan strategi perusahaan. Perusahaan bisa memberikan bonus atau peningkatan lainnya jika memang tujuan perusahaan dapat tercapai dengan melakukan pendekatan seperti demikian.

Pengguna Eksternal secara umum adalah mereka yang merupakan pengguna dari laporan keuangan yang tidak terlibat dalam proses pembentukan laporan keuangan. Mereka adalah :

4. Kreditor dan lembaga keuangan.

Kreditor bisa berupa pihak yang menjual barang secara kredit, Bank yang memberikan pinjaman dana kepada perusahan, atau pemberi pinjaman uang. Kepentingan mereka terhadap laporan keuangan perusahan adalah ingin menilai kesehatan dari laporan keuangan, apakah calon debitur akan mampu mengembalikan dana pinjaman beserta bunganya dengan tepat pada waktunya.

Laporan keuangan yang menjadi Fokus evaluasi para kreditor adalah laporan posisi keuangan dan laporan kinerja keuangan. Pada laporan posisi keuangan kreditor akan dapat menilai bagaimana kelayakan dari besarnya jumlah dana yang nanti akan dipinjam, sementara pada laporan dari laba rugi penilaiannnya akan lebih berfokus kepada analisa kelancaran dari calon debitur yang akan melunasi hutang beseta bunganya.

5. Para Investor.

Sebelum akan menanamkan modalnya, para investor akan mengevaluasi perusahaan terlebih dahulu. Tidak  mungkin bagi mereka untuk masuk ke perusahaan kemudian melakukan pemeriksaan. Tindakan yang paling rasional adalah dengan cara mengevaluasi bagaimana kinerja perusahaan dari laporan keuangan yang sudah mereka sajikan sebelumnya.

Tujuan dari investor untuk menggunakan laporan keuangan perusahaan sebelum melakukan investasi adalah karena mereka ingin mengetahui seberapa besar resiko dan keuntungan yang sudah melekat pada perusahaan. Penilaian terhadap resiko akan dapat diperoleh dari proses analisa yang terkait dengan berbagai ancaman dan prospek pasar untuk ke depannya, sementara untuk penilaian keuntungan yang diperoleh dari mengetahui berapa besarnya laba termasuk juga historinya.

6. Pihak Pemerintah.

Bagi pemerintah, laba perusahana akan dapat digunakan sebagai satu dasar penetapan anggaran belanja pemerintah. Perlu diingat bahwa salah satu sumber pemasukan bagi pemerintah untuk menetapkan anggaran adalah dari pajak. Pajak yang telah disetorkan kepada pemerintah akan menjadi pemasukan bagi mereka dan kemudian akan dikembelikan lagi melalui pembangunan sarana dan prasarana publik.

7. Konsumen.

Kepentingan konsumen terhadap laporan keuangan yang terkait akan selalu berhubungan dengan kewajiban untuk jangka panjang yang dimiliki oleh perusahaan terhadap konsumen. Misalnya apakah garansi yang telah diberikan oleh perusahaan masih dapat diklaim oleh konsumen di kemudian hari, atau perusahan telah kehilangan kemampuan untuk menjaga keberlangsungannya (Going concern).

8. Peneliti.

Setiap konsumen akan selalu berharap untuk bisa mendapatkan adanya peningkatan kinerja dari sebuah produk tanpa ada peningkatan biaya. Maka hal seperti ini akan menjadi obyek bagi para peneliti, mereka dapat mencari formula baru tentang bagaimana caranya untuk mencapai kepuasan dari para konsumen dan adanya peningkatan profitabilitas perusahaan secara bersamaan

9. Regulator.

Kepentingan dari agen regulator terhadap laporan keuangan perusahaan adalah ingin memastikan bahwa laporan keuangan yang sudah dihasilkan dan telah disajikan oleh perusahaan telah benar-benar sesuai dengan peraturan yang sebelumnya telah ditetapkan. Agen regulatory biasanya lebih bersifat independen, yaitu hanya bersikap dan bertindak sesuai dengan peraturan yang masih berlaku.

Nah itulah sedikit penjelasan yang terkait dengan pengguna laporan keuangan. Terima kasih telah berkunjung ke website kami. Apabila para pembaca sekalian membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu pada pembahasan artikel selanjutnya.

STARTEGI UNTUK MENGURANGI BIAYA PERSEDIAAN (2)

1. Bekerja sama dengan distributor pengiriman.

Sebenarnya dari beberapa konsumen yang mengeluhkan bahwa barang yang sudah mereka terima telah banyak yang rusak, dan perusahaan  terpaksa harus menerima kembali atau mengirim ulang dengan barang yang lebih baik. Bagi pihak manajemen, menjalin hubungan dengan distributor pengiriman barang dapat menjadi pilihan yang paling bijak untuk mengurangi beban terkait dengan kerugian pada saat proses pengiriman. Apabila terjadi kerusakan barang ketika dalam perjalanan, maka bukan lagi menjadi permasalahan perusahaan. Resiko tersebut telah dialihkan kepada pihak distributor. Kebijakan ini lebih memfokuskan pada kepuasan konsumen, khusunya bagi para pengguna akhir. Usaha ini menawarkan cara tercepat dan beresiko rendah bagi perusahaan dalam mencapai operasional pelayanan secara berurutan.

Selain itu terlalu banyaknya barang yang dikirim juga dipengaruhi oleh besarnya daya muat kontainer yang digunakan. Perusahaan yang bekerjasama dengan distributor pengiriman tidak perlu menyediakan tempat Parking untuk truk pengangkut yang berukuran sangat besar, yang akan memenuhi area pabrik.

2. Mensinergikan Suplier.

Suplier harus memiliki akses pada setiap data-data konsumen, termasuk juga histori penjualan maupun proyeksinya. Mensinergikan antara suplier sebagai penyedia barang dengan perusahaan sebagai produsen ke dalam satu kesatuan supply chain dapat mempersingkat proses produksi. Memberikan semua informasi  yang dibutuhkan suplier secara real time untuk mengelola komponen persediaan, sehingga mereka dapat membantu dengan lebih maksimal. Tujuan dari pensinergian tersebut ialah untuk menunda pengiriman barang sampai batas persediaan tertentu, idealnya adalah hingga mencapai titik untuk dikonsumsi. Yang diharapkan dari strategi ini ialah dapat meningkatkan efektifitas proses produksi dan penerimaan barang.

Dengan memberikan informasi perilaku pemesanan produsen kepada suplier, maka suplier akan dapat mengirimkan barang kepada produsen jika dinilai telah mencapai titik tertentu/reorder point. Manfaatnya bagi perusahaan adalah dapat lebih menekan biaya pesanan/Ordering cost (preparation set up Cost), yaitu biaya yang terjadi karana adanya kegiatan memesan kepada vendor sampai barang tiba di gudang atau mulai melakukan organisasi untuk memulai produksi di dalam pabrik. Biaya administrasi dan manajerial untuk menyiapkan pembelian atau pesanan, misalnya biaya telepon, biaya pencatatan dan lain sebagainya.

3. Memperbaiki pelayanan suku cadang.

Dalam hal manajerial, sangat penting sekali untuk mengefektifkan pelayanan operasional. Kebanyakan dari perusahaan jatuh karena mereka sudah sejak awal salah dalam mengelola persediaan, khususnya terhadap suku cadang. Biasanya perusahaan tersebut sedang dihadapkan pada begitu banyaknya jumlah persediaan yang besar, kinerja departemen pergudangan yang tidak optimal, berkurangnya kepuasan konsumen, dan terbuangnya peluang untuk menjual produk lain termasuk juga suku cadang setelah penjualan dilakukan (Sales after sales).

Berikut ini merupakan beberapa cara yang masih dapat dilakukan untuk mengelola persediaan dan suku cadang dengan lebih tepat.

• Membuat anggaran belanja persediaan dan suku cadang dengan lebih akurat.
• Hindari penyimpanan persediaan yang berlebihan.
• Monitor tingkat persediaan agar produksi tidak terhambat.
• Menselaraskan kebutuhan persediaan dengan suku cadanganya berdasarkan fungsinya. Hanya menyediakansuku cadang atas prodk yang dijual.

4. Melibatkan manajemen puncak.

Setiap departemen pada perusahaan manufaktur memiliki persediaan tersendiri dan diatur oleh setiap masing-masing kepala bagian. Setiap departemen memiliki kebebasannya sendiri untuk mengelola persediaannya, maka akan menjadi semakin sulit bagi departemen lainnya untuk terlibat dalam pengelolaan meskipun memiliki proses yang berkaitan. Secara hirarki dengan melibatkan manajemen puncak, semua departemen akan tetap tunduk kepada kebijakan yang sudah dibuat oleh manajemen yang lebih tinggi. Adapaun kebijakan yang masih dapat diterapkan adalah setiap individu dalam sebuah departemen akan bertanggungjawab atas besarnya nilai persediaan yang menjadi tanggungjawabnya. Strategi seperti ini dinilai dapat mengendalikan proses pengendalian atas persediaan dan semakin meningkatkan keefisienan dari proses produksinya.

5. Otorisasi akan dipegang oleh satu pihak.

Agar dapat lebih meningkatkan kekuatan pengelolaan persediaan, perusahan dapat memilih  hanya satu saja departemen yang bertanggungjawab penuh dan dapat berkolaborasi dengan fungsi lainnya, seperti departemen teknis maupun departemen pembelian. Dipilihnya satu organisasi untuk mengatur persedian agar tidak sampai terjadi perselisihan yang terkait dengan penyediaan persediaan dan proses didalamnya. Selain itu cara seperti ini akan dapat mempertahankan budaya, dan tetap fokus kepada rencana utama (grand project) perusahaan.

6. Memperbaiki database persedian.

Salah satu informasi terpenting yang terkait dengan berbagai informasi persediaan merupakan informasi tentang perputaran persediaan. Dengan memiliki data-data perputaran persediaan manajemen akan dapat memonitor seberapa lama barang persediaan tersebut akan ditahan, belum terjual. Perusahaan juga masih dapat menaksirkan waktu keterlambatan pengirimannya.

7. Menetapkan titik pemesanan kembalinya.

Ada sebagian perusahan yang menetapkan titik pemesanan kembali (reorder point) pada tingkat serendah mungkin. Tujuannya adalah agar persediaan yang sudah tersimpan tidak menjadi usang, akibat dari pemesanan yang terlalu berlebihan meskipun berakibat pada biaya pengiriman yang menjadi lebih besar.

Nampakna tidak semua perusahaan dapat menerapkan kebijakan seperti ini. Hanya perusahaan yang bergerak pada usaha penjualan barang makanan dan minuman fast moving saja yang lebih cocok untuk menerapkannya. Mengusahakan agar barang dapat sampai ke pada end-user sebelum batas waktu (Expired date) adalah suatu kebijakan yang paling tepat (IT).

Nah, itulah sedikit penjelasan yang terkait dengan pengelolaan persediaan. Diharapkan setelah membaca artikel ini para pembaca sekalian dapat mengendalikan biaya persediaan, mengalokasikan pada kegiatan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Pemangkasan biaya persediaan oleh perusahaan akan berhasil jika sudah sesuai dengan kondisi lingkungan perusahaan. Strategi yang sama belum tentu akan dapat diterapkan pada perusahaan yang sama, masih tergantung pada kondisi lainnya. Bagi para pembaca sekalian yang membutuhkan bimbingan seputar pengelolaan persediaan silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

Scroll to top