Kategori: Accounting

BEBERAPA KOMPONEN-KOMPONEN PEMBENTUK SEGITIGA KECURANGAN / FRAUD TRIANGLE PADA INTERNAL ORGANISASI PERUSAHAAN

Dalam mendeteksi sebuah kecurangan yang sebelumnya pernah terjadi, seorang auditor setidaknya harus harus menganalisis terlebih dahulu beberapa penyebab utama yang biasanya paling mendasari dari terjadinya tindakan kecurangan. Berbagai penyebab-penyebab tersebut secara umum akan semakin nampak pada teori segitiga kecurangannya. Fraud triangle merupakan tiga macam hal yang semakin mendorong seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan. Beberapa dari komponen yang akan membentuk segitiga kecurangan tersebut akan dibahas pada artikel berikut ini.

• Penyebab Karena Terjadinya Tekanan (Pressure).

Adanya tekanan merupakan faktor pertama yang paling mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan. Dorongan yang seringkali muncul untuk melakukan tindakan ilegal tersebut sebenarnya dapat disebabkan karena orang tesebut memang memiliki beban hidup yang berat, berbagai tagihan yang semakin lama semakin menunggak, terlalu terbiasa dengan gaya hidup yang mewah, memilki penyakit yang harus disembuhkan dengan segera, bahkan semakin ketergantungan dengan obat-obatan terlarang seperti narkoba, dan lain sebagainya. Berdasarkan pada beberapa kasus yang sebeluumnya pernah terjadi, tindakan kecurangan bukan hanya disebabkan karena mereka sudah sangat terdesak dengan permasalahan keuangan. Namun karena adanya keinginan untuk bisa terlihat lebih menonjol apabila dibandingkan dengan yang lainnya. Keinginan tersebut untuk mendapatkan lebih banyak hal-hal yang diinginkan, keserakahan yang akan semakin mendorng seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan.

• Adanya Kesempatan (Oportunity).

Setelah faktor tekanan, selanjutnya adalah karena faktor adanya peluang. Kecurangan dan berbagai tindakan ilegal lainnya yang tidak akan bisa terjadi jika pengendalian internalnya sudah benar-benar efektif yang artinya adalah cukup mampu dalam memberikan keamanan bagi perusahaan dari berbagai upaya pihak-pihak yang dengan sengaja ingin memanfaatkan posisi yang sudah dimilikinya agar bisa mendapatkan keuntungan tersendiri maupun kelompok secara ilegal. Pengendalian internal yang lebih lemah terkait dengan adanya pengawasan yang masih kurang ketat dan berbagai cara dalam melakukan penyalahgunaan wewenang dan tanggungjawab.  Berdasarkan pada beberapa kasus yang sebelumnya pernah terjadi, biasanya faktor kesempatan yang paling berpengaruh besar untuk terjadinya tindakan kecurangan seperti ini.

• Rasionalisasi (Rationalization).

Setelah dari adanya faktor tekanan dan kesempatan, faktor lainnya yang tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi untuk terjadinya tindakakan kecurangan adalah pemikiran bahwa tindakan yang sudah dilakukannya termasuk masih dapat ditoleransi. Cara berpikir seperti inilah sangat berbahaya. Karena dengan menganggap bahwa perilaku yang sebenarnya dapat merugikan perusahaan, pemerintah, bahkan orang-orang yang berada disekitarnya, malah dianggap sebagai hal yang sudah biasa dan sangat wajar jika dilakukan akan sangat merusak tatanan sosial.

Berbagai pembenaran-pembenaran atau alasan-alasan yang mereka anggap masih dapat diterima, baik oleh akal sehat maupun masyarakat lain yang bisa disebabkan karena dalam lingkungan masyarakat asal individu tersebut sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan, benar menurut pandangan kelompok tertentu. Sebagai contohnya adalah, pada saat karyawan melihat keuntungan yang telah didapatkan oleh perusahaan begitu besar. Maka karyawan akan bisa beranggapan bahwa tanpa kehadirannya perusahaan tidak akan mampu mendapatkan keuntungan sebesar itu. Maka, jika pembagian keuntungan tersebut dirasa sangat tidak adil baginya, maka karyawan tersebut akan mencari cara lain agar dapat memaksimalkan keuntungan tersebut. Baik dengan cara penyalahgunaan wewenang maupun penipuan yang harus dilakukannya.

Contoh lainnya adalah seorang individu yang telah cukup lama bekerja pada sebuah perusahaan, tentunya akan menjadi sangat wajar dan masuk akal jika gaji yang diterimnya naik dan lebih tinggi daripada karyawan lainnya. Namun kenyatannya tidak demikian, gaji yang diterimanya tidak sesuai dengan pengorbanan waktunya. Maka, untuk memaksimalkan keuntungan dan keadilan berdasarkan pemikiran karyawan tersebut maka tindakan kecuranganpun akan dilakukannya.

Hal yang paling membahayakan lagi adalah perilaku-perilaku negatif yang akan dilakukan oleh individu yang telah dianggap sebagi hal yang sudah biasa dan dapat diterima oleh sebagian kelompok tertentu. Maka sebaik apapun pengendalain internal yang sudah dibuat, namun jika tidak diterapkan dan dipertanggungjawabkan dengan baik, maka fungsi dari pengendalian internal itu sendiri tidak akan berarti apapun. Selain itu, sebesar apapun  punishment yang sudah diterapkan yang memang bertujuan untuk memberikan efek jera bagi para pelakunya jika karakter individu yang berada didalamnya sangat buruk, lalu berkoalisi untuk tujuan negatif, dan tidak mau menerima pengendalian internal sama saja itu sudah tidak ada artinya.

Berikut ini merupakan penjelasan tentang fraud triangle dalam kasus “ENRON” yang sebelumnya pernah dibuat artikelnya.

• Presure.

Jika dilihat dari sudut pandang “Presure” tekanan, maka kenyatan yang harus diterima oleh ENRON begitu berat. Mengakui bahwa besarnya hutang yang dibebankan kepadanya kemungkinan kecil akan dapat terlunasi. Mengakui bahwa popularitas sebagai perusahaan paling inovatif yang telah didapatkannya berkali-kali oleh majalah fortune akan bisa diterima oleh perusahaan lain. Mengakui bahwa investor sebenarnya telah tertipu dengan laporan keuangan yang telah dimark up dengan sedemikian rupa.  Terakhir, setiap tindakan ilegal yang telah merugikan publik maka konsekwensinya adalah “Kurungan Penjara”.

Berbagai tekanan yang harus dihadapi menjadikan manajemen Enron harus rela melakukan berbagai upaya yang membuatnya bisa menjadi pelajaran terbesar bagi perusahaan lain. Untuk menyajikan laporan keuangan yang sedikit mencerminkan hutang, manajemen Enron membentuk anak perusahaan yang bertujuan secara khusus/Special Purpose Entity (SPE). Dan sebagian hutang dialihkan dengan  mereklas sebagian besar akun hutangnya kepada anak perusahaan yang bertujuan secara khusus untuk mengurangi begitu besarnya hutang yang harus diluasi.

Tekanan yang juga begitu besar dari pihak investor yang masih tetap saja berharap dari nilai saham Enron akan naik kembali dan memaksa pihak manajemen agar mampu membujuk karyawannya untuk membeli kembali saham-saham milik perusahaan. Namun usaha yang dilakukan oleh manajemen tersebut sama sekali tidak berhasil dalam menjadikan Saham perusahaan untuk terus bangkit, sehingga akibat terburuknya adalah jatah uang pensiun milik karyawan akan lenyap dan pendapatan perbulan karyawan akan menghilang setelah Enron dinyatakan benar-benar bangkrut total.

Tekanan berikutnya adalah untuk melenyapkan segala bukti dokumen yang berkaitan dengan perusahaan yang bertujuan khusus. Manajemen merasa sangat khawatir jika bukti-bukti tersebut akan dapat ditemukan oleh pemeriksa keuangan. Dan akibatnya adalah semua jajaran dari tingkat petinggi Enron akan dituntut penjara setelah memang sudah terbukti bersalah.

• Oportunity.

Kejahatan keuangan yang sudah dilakukan oleh Perusahan Enron memang bisa saja terjadi karena adanya peluang untuk melakukannya. Manajemen Enron akan menolak diterapkannya pengendalian internal yang jauh lebih ketat lagi. Pemimpin yang memiliki sifat dasar yang sangat buruk, jika mendapatkan tekanan juga akan bertindak semakin buruk. Posisi-posisi yang lebih strategis yang dapat dimanfaatkannya untuk menjalankan tujuannya terselubungnya.

• Rationalization.

Yang harus lebih diingat adalah bahwa keputusan manajemen merupakan keputusan bersama. Keputusan bersama juga tidak dapat dijadikan sebagai suatu pembenaran atas keputusan yang salah. Membentuk perusahaan bertujuan khusus untuk menyembunyikan begitu banyaknya beban hutang perusahan induk merupakan hasil dari keputusan bersama. Menghancurkan bukti-bukti yang berhubungan langsung dengan perusahan yang bertujuan khusus merupakan satu bentuk upaya untuk menyelamatkan diri dengan bersama-sama. Jadi rationalization merupakan cara pandang dimana perilaku yang tidak terpuji akan dianggap sangat layak untuk dilakukan jika dengan alasan tertentu.

Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Pengendalian internal memang sangat penting untuk dilakukan terhadap perusahaan untuk menjaga harta kekayaan milik perusahaan. Pengendalian internal yang terbaik akan dapat dibentuk melalui Standar Operasional Procedur (SOP). Bagi para pembaca sekalian yang ingin memiliki pengendalian internal yang lebih baik. Maka silahkan menghubungi kami di
groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

MANAJEMEN DAN PEMBAGIAN JENIS-JENIS HUTANG PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan sedikit membahas artikel tetang bagaimana cara terbaik dalam mengelola hutang. Alasan mengapa hutang sangat perlu untuk dikelola adalah karena hutang berhubungan langsung dengan kas. Jika perusahaan terlambat membayar hutang, perusahaan tentunya akan dikenakan denda sebesar yag telah ditetapkan pada awal saat perjanjian.

Sebelum kita membahas tentang bagaimana caranya untuk mengelola hutang dengan benar, marilah kita mengenal sedikit gambaran umum tentag hutang ini. Menurut Kieso Hutang merupakan penundaan yang berasal dari peristiwa masa lalu dengan mengeluarkan sumber daya.

Hutang dapat menyebabkan kewajiban keuangan maupun menimbulkan kewajiban pelaksanaan. Kelompok hutang yang masuk kedalam kewajiban keuangan misalnya hutang usaha, hutang pajak, hutang deviden, hutang bunga dan hutang-hutang yang lainnya. Sementara untuk kewajiban pelaksanaan, misalnya adalah sewa diterima dimuka, beban yang sudah diterima dimuka, uang garansi pembelian dari para pembeli.

Berdasarkan pada jangka waktu pelunasannya hutang dapat dikelompokan kedalam hutang jangka panjang dan hutang jangka pendek. Berikut dibawah ini adalah terlebih dahulu dijelaskan tentang jenis-jenis hutang jangka pendek, yaitu :

• Hutang dagang.

Kewajiban yang muncul karena disebabkan perusahaan sudah membeli barang dagangan secara kredit. Kewajiban hutang ini harus dipenuhi dalam jangka waktu singkat.

• Hutang wesel.

Kewajiban yang sudah tertulis kepada pihak-pihak lain yang dapat dibuktikan dan berisi tentang kesanggupan untuk membayar sejumlah uang tertentu dan pada tanggal tertentu juga.

• Beban-beban yang masih harus dibayar (Accrued expense).

Kewajiban perusahaan yang meliputi beban yang harus dibayarkan pada satu periode pelaporan, namun masih belum dibayarkan (Ditangguhkan).  Sehingga masih merupakan hutang dan perusahaan harus tetap melunasinya.

• Hutang devien.

Kewajiban perusahan untuk membagi sejumlah deviden tertentu kepada para pemegang saham, namun masih belum dibayarkan pada periode tersebut. Sehingga jumlah tersebut akan dicatat sebagai uang deviden, hutang kepada para pemegang saham.

• Pendapatan deviden.

Pendapatan yang berasal dari pembagian deviden yang sudah disetorkan kembali. Penetapan ini berasal dari para pemegang saham.

• Pendapatan yang sudah diterima dimuka.

Pendapatan ini muncul karena perusahaan sudah menerima pembayaran atas suatu pekerjaan, akan tetapi pekerjaannya masih belum selesai dikerjakan. Dan karena masih belum selesai, maka manajemen harus mencatatnya sebagai hutang terlebih dahulu, karena menerima pembayaran dari aktivitas yang masih belum tuntas dikerjakan.

• Bagian-bagian dari hutang jangka panjang yang sudah masuk masa jatuh tempo.

Kewajiban ini memang memiliki termin yang sangat panjang, karena bagian dari kewajiban jangka panjang. Akan tetapi dikelompokan ke dalam hutang lancar karena perusahaan perlu membayar angsuran dari hutang tersebut.

Sementara kewajiban jangka panjang yang termasuk di dalamnya adalah:

• Hutang hipotik.

Kewajiban yang nilanya akan dijamin dengan harta yang tidak bergerak/asset tetap. Kelompok asset tetap ini misalnya tanah, dan gedung. Alasannya adalah karena pemberi dana pinjaman dapat menyita asset peminjam yang sudah digunakan sebagai jaminan sewaktu-waktu peminjam sudah tidak mampu lagi untuk melunasi kewajiban tersebut.

• Hutang obligasi.

Kewajiban bagi pihak manajemen untuk menerbitkan obligasi dalam jumlah tertentu kepada para pemegang saham. Manajemen juga berjanji untuk membayar pokok besarta kupon bunganya.

Hutang jangka pendek bisa disebut juga dengan hutang  lancar. Sifat dari kewajiban ini harus segera dilunasi, karena biasanya untuk jangka waktu pelunasannya kurang dari satu tahun. Sementara untuk hutang jangka panjang biasanya disebut dengan hutang tidak lancar. Sifat dari kewajiban ini tetap harus segera dilunasi apabila perusahaan memang sudah memilk dana. Agar tidak semakin memberatkan perusahaan pada saat masa jatuh temponya, manajemen dapat mengalokasikan sebagian dari akun hutang jangka pendek dan menetapkan nilai dari angsurannya.

Setelah dijelaskan mengenai bentuk-bentuk dan sifat dari hutang serta macam-macam hutang, maka sekarang kita akan beralih kepada pembahasan pengelolaan hutang.

Kecilnya nilai dari utang lancar mungkin saja yang menjadi penyebab utama mengapa pos ini tidak diperhatikan. Dan akibatnya perusahan akan mengalami kekurangan kas. Hal-hal yang perlu untuk diperhatikan dalam penelolaan hutang adalah :

Pertama, kita harus mengetahui terlebih dahulu apakah hutang lancar dapat segera terlunasi semua apabila kita melunasinya dalam waktu dekat. Untuk mengetahuinya kita bisa menggunakan rasio lancar. Dimana rasio seperti ini akan membandingkan antara harta lancar dengan hutang lancar. Berikut ini adalah formulanya:

Kriterianya yang semakin besar angka yang sudah dihasilkan dari rasio tersebut, maka akan menjadi semakin baik. Itu artinya harta perusahaan yang lebih bersifat liquid dapat dijadikan sebagai pendukung bagi hutang lancar perusahaan.
Kedua, Modal kerja bersih Modal kerja merupakan modal yang sangat diperlukan oleh perusahaan untuk membiayai seluruh kegiatan sesuai dengan plan yang sudah dibuat, biasanya lebih sering disebut dengan grand project. Nilai dari modal kerja tersebut berasal dari harta lancar perusahaan setelah dikurangi dengan kewajiban yang harus segera dibayarkan. Modal kerja ini bagi perusahaan berfungsi sebagi sumber pembiayaan kegiatan perusahaan untuk jangka pendek, seperti pembelian persediaan, pembayaran operasional, membayar upah pegawai dan beban operasional lainnya.

Ketiga, kita harus mengetahui apa saja yang menjadi batasan atas hutang tersebut. Manajemen diharapkan tidak semakin terlena dengan adanya iming iming dari pihak penyedia dana, yang akan memberikan keringanan hutang dengan termin yang lebih panjang dan nilai bunga yang lebih kecil. jika manajemen terjebak kedalam hutang jangka panjang besar, maka akan menjadi semakin menjadikan perusahaan lebih sulit untuk dapat keluar dari permasalahan (IT).

Nah, itulah sedikit tips seputar bagaimana pengelolaan terbaik pada hutang. Apabila pembaca ingin memahami dengan lebih mendalam tentang manajemen piutang dan memutuhkan konsultasi seputar manajemen perusahaan, para pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.
Sampai bertemu lagi pada pembahasan artikel selanjutnya.

MENDETEKSI BERBAGAI TINDAKAN KECURANGAN PERUSAHAAN MELALUI ANGKA-ANGKA RASIO

Laporan keuangan yang meliputi laporan posisi keuangan, laporan kinerja keuangan, dan laporan aliran kas merupakan laporan yang mengambarkan bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan eksternal seperti pemilik perusahaan, investor, kreditur, pemerintah untuk tujuan pengambilan keputusan terkait perkembangan perusahaan berdasarkan pada informasi yang disediakan. Namun dalam standart Audit Internasional (International Standards on Auditing) menyatakan bahwa posisi managemen sangat rentan untuk melakukan manipulasi, karena manajemen memiliki kendali penuh atas penyajian laporan keuangan. Lingkungan perusahaan yang memiliki pengendalian internal yang lemah akan menjadi lebih mudah bagi manajemen untuk melakukan kecurangan.

Laporan keuangan merupakan catatan angka-angka historis yang menggambarkan bagaimana kondisi keuangan perusahaan pada periode tertentu. Memperhatikan angka-angka tersebut saja tidak akan cukup dalam memberikan pemahaman terhadap laporan keuangan. Menghubungkan antara satu pos dengan pos lainnya akan lebih memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Angka rasio merupakan hasil dari penghubungan antara angka dari pos satu dengan angka dari pos lainnya. Karena laporan keuangan merupakan hasil penyajian dari pihak manajemen yang sangat berpeluang besar untuuk dimanipulasi, maka angka dari hasil rasio juga dapat dilakukan analisa untuk mendeteksi kecurangan.

Dibawah ini akan disajikan beberapa rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi kecurangan

Rasio kinerja perusahaan ROA, EBT/TA, dan EBIT/TA

1. Net profit to total Aset (ROA).

“Rasio yang berasal dari perbandingan antara nilai penghasilan dengan jumlah asset. Rasio ini menunjukan seberapa efektif asset-asset yang masih dimilki oleh perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin besar rasio yang ditunjukan, maka semakin besar pula kemampuannya dalam menghasilkan laba”.

2. Earning before tax to total aset (EBT/TA).

“Rasio ini akan dihasilakan dengan cara membandingkan antara angka laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini bertujuan hampir sama denga ROA, yaitu untuk mengukur kinerja perusahaan melalui laba yang sudah dihasilkan, namun bedanya laba yang sudah diukur oleh ROA adalah laba besih sementara laba yang akan diukur oleh EBT/TA adalah laba sebelum pajak”.

3. EBIT to Total Asets (EBIT/TA).

“Rasio ini dihasilkan dari perbandingan antara angka laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini mengukur kinerja perusahaan sebelum dikurangi dengan beban bunga dan beban pajak.” Manajemen akan memanfaatkan rasio ROA aktual pada tahun-tahun sebelumnya untuk dapat memproyeksikan target keuangan pada tahun-tahun berikutnya. ROA yang lebih tinggi dari pada tahun-tahun sebelumnya menunjukan bahwa kinerja manajemen tampak mengalamai peningkatan. Semakin tinggi rasio ROA, juga akan semakin terlihat baik pula kinerja dari manajemen. Akan tetapi tingginya rasio ROA juga dapat menjadi perhatian bahwa manajemen sedang melakukan kecurangan dalam menyajikan laporan keuangan berupa manajemen laba. Manajer akan ditengarahi berusaha untuk meningkatkan tampilan kinerjanya mencapai target laba yang ditentukan oleh perusahaan agar mendapatkan bonus. Begitu besarnya kasus ini biasanya terjadi pada perusahaan yang lebih berorientasi kepada laba, mengukur kinerja dari setiap staff dengan besarnya laba yang dihasilkan.

Rasio Penggunaan Asset

1. Current Asset to Current liabilitas (CA/CL).

“Rasio yang dihasilkan dengan membandingkan antara angka asset lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin kewajiban lancarnya dengan asset lancarnya. Semakin tinggi rasio yang sudah dihasilkan, maka akan menjadi semakin kecil pula kemungkinan bagi perusahaan dalam mengalami kegagalan keuangan.”

Beberapa hal yang dapat mendasari alasan rasio asset lancar terhadap kewajiban lancar mengandung kecurangan adalah kemungkinan terbesar bagi manajemen yang ingin menghindari pelanggaran kontrak kewajiban untuk jangka panjang. Kewajiban jangka panjang membutuhkan komitmen yang lebih tinggi perusahaan, yaitu perusahaan akan mampu menjamin kewajibannya. Tekanan yang diterima oleh pihak manajemen akan menjadikan mereka berusaha agar nilai asset lancarnya tampak lebih besar daripada yang seharusnya, sehingga dinilai akan mampu menjamin kewajiban jangkan panjang. Alasan lainnya adalah dari adanya keinginan untuk menyajikan laba agar nampak lebih tinggi dari seharusnya. Dengan menyembunyikan beberapa akun kewajiban, maka laba perusahaan akan nampak sedikit lebih naik.

Dalam kelompok asset lancar terdapat pos persediaan. Ketika pos persediaan mengalami penurunan secara terus menerus tanpa didukung  dengan informasi penjualan maka bisa dicurigai bahwa perusahaan telah kehilangan persediaannya. Nilai persedian yang terus menurun tanpa adanya bukti penjualan dapat mengindikasikan bahwa ada pihak-pihak yang sengaja melakukan penyelewengan pada persediaan perusahaan. Hal ini juga merupakan bentuk kecurangan.

2. Account receivable to total assets (REC/TA).

“Rasio yang dihasilkan dari perbandingan antara nilai asset lancar dengan total asset. Rasio ini mengukur seberapa dominan penjualan kredit mempengaruhi besarnya keseluruhan dari asset perusahaan. Semakin tinggi angka rasio ini, maka akan menjadi semakin besar pula transaksi penjualan kredit yang membentuk total asset.”

Terdapat anggapan bahwa perusahaan yang paling untung adalah perusahaan yang mampu mencetak penjualan paling tinggi. Selain itu besarnya insentif bagi manajer penjualan apabila mampu melakukan penjulan sebanyak banyaknya menjadi motifasi agar nilai penjulan masih tetap tinggi, sehingga tetap mendapatkan bonus tinggi. Namun dari tingginnya angka rasio REC/TA yang tidak wajar dapat dicurigai manjer melakukan penjualan fiktif. Menjual ke pelanggan fiktif. Selain itu dapat juga dicurigai bahwa manajer tengah me mark-up nilai beberapa penjualan, sehingga secara total nampak lebih tinggi.

Pihak manajemen menyajikan piutang lebih besar dari pada seharusnya. Waktu jatuh tempo piutang dinilai kembali. Melalui kebijakan baru umur piutang dinilai lebih panjang, syarat kredit dinilai juga menjadi lebih ringan. Sehingga piutang yang awalnya telah jatuh tempo dan lebih sulit untuk ditagih, bahkan telah dicatat sebagai beban tidak tertagih oleh perusahaan dimunculkan kembali. Diakui sebagai piutang, dinilai asset perusahaan.

3. Retained Earning / Net Profit (RE/NP).

“Rasio ini dihasilkan dengan membandingkan antara angka laba ditahan dengan laba bersih periode berjalan.”

Laba ditahan berisikan komponen laba tahun lalu, deviden yang belum dibagikan kepada pemegang saham, laba tahun berjalan dan taksiran pajak tangguhan. Alasan rasio ini perlu mendapatkan perhatian ialah ada kemungkinan bahwa nilai modal yang disetorkan berupa saham dicatat lebih besar daripada seharusnya. Hal ini terjadi jika perusahaan bersangkutan memiliki induk perusahaan yang berada di luar negeri, menggunakan jenis mata uang berbeda. Sehingga nilai kurs dalam menentukan besarnya transaksi harus benar-benar diperhatikan.

Berikut dibawah ini adalah beberapa tips untuk menghindari terjadinya kecurangan:

1. Memeriksa persediaan di tempat penyimpanan persediaan biasanya gudang secara rutin, berkala paling tidak satu bulan sekali. Hal ini untuk meyakinkan bahwa nilai persediaan yang tercatat pada laporan keuangan sesuai dengan jumlah fisik persediaan.
2. Menerapkan sistem forecasting dengan perhitungan statistik untuk mengurangi terjadinya penumpukan barang.
3. Menggunakan metode statistik atau software yang dapat menghitung penentuan re-order serta dokumentasi yang dapat mengingatkan manajemen agar dapat mengurangi keterlambatan penerimaan barang.
4. Mempebaiki sistem pengendalian internal, misalnya memastikan bahwa tidak ada jabatan-jabatan yang kosong sehingga diisi dengan orang yang sama. perangkapan jabatan merupakan salah satu indikasi bahwa pengendalian internal perusahaan sangat lemah. Misalnya bagian penerimaan barang dengan bagian penyimpanan barang dilakukan oleh orang yang sama. tidak adanya pemisahan jabatan untuk menangani pekerjaan yang membutuhkan koreksi memudahkan terjadinya kecurangan dan penyalahgunaan wewenang. Barang yang datang tidak diperiksa terlebih dahulu oleh bagian penerimaan terkait jumlah barang, jenis barang, dan harga barang yang diterima. Begitu juga dengan bagian pengeluaran dengan bagian penyimpanan, barang yang keluar tidak diperiksa jenis barangnya, jumlah barangnya, dan harga barangnya.
5. Membuat standar operasional prosedur yang labih baik. Standar oerasional prosedur dibentuk bersamaan dengan dibentuknya dokumen-dokumen yang mendukung kegiatan staff bersangkutan. Jika media pencatatannya tidak mendukung bagaimana bisa menciptakan pengendalian internal yang baik.
6. Melakukan konfirmasi pada setiap pelanggan yang memiliki besarnya saldo piutang tertentu. Hal ini untuk meyakinkan bahwa saldo akhir yang tampak pada laporan keuangan memang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.
7. Menyediakan price list yang lebih up to date. Penjualan hanya akan diakui jika nilai penjualan sesuai dengan nilai harga jual yang disyaratkan.
8. Selalu memantau kebijakan manajemen. Memastikan bahwa setiap kebijakan yang sudah diterapkan dibuatkan notulen meeting atau Internal memo.
9. Memperketat syarat kredit. Dengan diberlakukannya syarat kredit ketat, menjadikan staff penjualan menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan penjualan. Mereka harus memperhatikan kemampuan calomn konsumen dalam melunasi kewajibannya.
10. Selalu memperhatikan nilai kurs dengat lebih cermat, karena transaksi yang dilakukan dengan mata uang berbeda harus dicatat sesuai dengan nilai kurs pada saat transaksi terjadi.

Bagi pembaca semoga artikel ini dapat bermanfaat. Pengendalian internal memang sangat penting bagi perusahaan untuk menjaga harta kekayaan perusahaan. Pengendalian internal yang baik dapat dibentuk melalui Standar Operasional Perusahaan (SOP). Bagi para bapak/ibu pembaca sekalian yang ingin memiliki pengendalian internal yang lebih baik. Maka silahkan menghubungi kami di
groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

SEPUTAR ECONOMIC ORDER QUANTITY (JUMLAH PEMESANAN EKONOMI)

Pada Kesempatan kali ini tim praktisi software akuntansi akan sedikit berbagi informasi tentang “ECONOMIC ORDER QUANTITY/JUMLAH PEMESANAN EKONOMI”. Bagi kebanyakan manajer gudang biasanya lebih banyak menggunakan model Economic Order Quantity (EOQ) atau Jumlah Pemesanan Ekonomi dalam melakukan pemesanan persediannya yang dilakukan sebagai salah satu alternatif cara dalam memberikan alasan yang mungkin masih bisa diterima oleh bagian gudang maupun bagian pembelian. Dan berikut ini adalah sedikit penjelasannya dari praktisi software akuntansi.

Pertama-tama kita akan membahas tentang definisi dari Economic Order Quantity (EOQ). EOQ sendiri merupakan sebuah alat yang sangat berguna untuk menentukan bagaimana kuantitas dari pesanan persediaan. Tujuannya adalah agar tim manajemen dapat lebih mengoptimalkan kinerja dari bagian pergudangan dengan cara menekan biaya untuk proses penyimpanan dan biaya pemesanan persediaan. Dalam konsep EOQ sendiri pihak manajemen diharapkan agar dapat lebih meminimalkan jumlah barang yang sudah dipesan atau mengoptimalkan pembeliannya.

Beberapa karakteristik dari Model Economic Order Quantity (EOQ) tersebut adalah:

1. Barang-barang yang akan dipesan jumlahnya konstan.
2. Informasi mengenai permintaan konsumen, biaya pemesanan, biaya transportasi, waktu pemesanan sampai barang dikirimkan lebih bersifat konstan.
3. Harga barang per unit konstan dan sama sekali tidak berpengaruh pada jumlah barang yang sudah dipesan.
4. Kualitas dari barang yang sudah dipesan bersifat konstan.
5. Biaya penyimpanan per tahun untuk satu unit barang nilainya adalah selalu konstan.

Manfaat dari penggunaan Economic Order Quantity (EOQ) adalah sebagai berikut:

1. proses produksi agar bisa tetap lancar, sebab manajemen akan semakin terhindar dari kehabisan stock barang atau back order.
2. Jumlah permintaan akan dapat diketahui secara pasti.

Tujuan utama dari penggunaan model EOQ adalah untuk menetapkan seberapa banyak jumlah barang yang sudah dipesan yang akhirnya akan semakin mengurangi biaya persediaan. Berikut dibawah ini akan disajikan formula untuk menentukan seberapa banyak jumlah pesanan persedian berdasarkan EOQ:

Contoh kasus:
PT. Adhi Nusa adalah perusahan distrbutor sebagai penyalur minuman berkarbonasi yakni Pepsi Cola. Dalam satu tahun terakhir Pepsi Cola yang digunakan adalah sebanyak 1.100 BIB (Bag in the Box) dan melakukan pemesanan sebanyak 45.8 kali. Setiap kali melakukan pemesanan PT. Adhi Nusa harus membayar biaya kirim sebesar Rp 4.625.-. Harga Pembelian per unitnya adalah sebesar Rp 70.650.-. Setiap tahun besarnya biaya penyimpanan adalah sebesar Rp 17.662,5 (70.650 x 25%).

Dari contoh kasus seperti diatas, maka kita akan mencari biaya yang paling ekonomis untuk melakukan pemesanan. Berikut di bawah ini adalah rumus formulanya:


Sekarang kita akan mulai menghitung biaya yang paling optimal dari ketiga skenario tersebut. Yaitu pemesanan yang dilakuan adalah sebesar 20 BIB, 24 BIB, dan 27 BIB. Diantaranya adalah 3 skenario tersebut yang mana biaya pemesanan dan penyimpananya adalah yang paling optimal.

Skenario pertama, adalah dengan asumsi Jika 1.100 BIB Pepsi Cola telah dikirimkan sebanyak 20 kali dalam setahun, maka biaya pemesanan dan biaya penyimpanannya adalah sebesar:

Skenario kedua, Jika 1.100 BIB Pepsi Cola dikirim sebanyak 24 kali dalam setahun maka biaya pemesanan dan biaya penyimpanannya adalah sebesar:

Skenario Ketiga, Jika 1.100 BIB Pepsi Cola dikirim sebanyak 27 kali dalam setahun maka biaya pemesanan dan biaya penyimpanannya sebesar:

Dari perhitungan seperti diatas, maka akan nampak bahwa dari beberapa skenario tersebut telah menunjukan adanya biaya pemesanan dan pengiriman yang berbeda-beda.  Jika membandingkan dari ketiga skenario seperti diatas, maka skenario dengan adanya pemesanan sebanyak 24 kali dalam setahun telah menyediakan pengeluaran biaya yang terkecil. Dengan demikian, apabila perusahaan telah menggunakan skenario yang kedua, maka perusahaan akan dapat lebih menghemat pengeluarannya.

Nah, itulah sedikit penjelasan terkait ECONOMIC ORDER QUANTITY  dari praktisi software akunansi, terima kasih telah berkunjung ke website kami, semoga bisa bermanfaat untuk Anda sekalian dan bagi para pembaca yang ingin mengetahui secara lebih mendalam seputar “ECONOMIC ORDER QUANTITY”, membutuhkan konsultasi permasalahan manajemen, Membutuhkan Pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software silahkan menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900, atau 081-8521172. Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya.

Scroll to top