Kategori: Finance

MANFAAT DAN CARA TERMUDAH DALAM MENGHITUNG LABA DITAHAN PADA PROSES AKUNTANSI PERUSAHAAN

Laba ditahan merupakan salah satu bagian dari laba bersih perusahaan yang ditahan oleh perusahaan dan tidak dibayarkan sebagai dividen terhadap para pemegang saham. Uang ini biasanya akan diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan, agar menjadi “bahan bakar” utama kelangsungan hidup  perusahaan untuk kedepannya, atau bisa digunakan untuk melunasi hutang-hutang perusahaan.

Laba ini akan diakumulasikan dan akan dilaporkan sebagai ekuitas pemilik dalam Neraca. Besarnya laba ditahan biasanya akan ditentukan oleh kebijakan dewan komisaris perusahaan yang tentunya akan berbeda antara kebijakan satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Manfaat Dari Laba Ditahan

1. Untuk membiayai operasional perusahaan dalam upaya untuk pencapaian laba usaha yang lebih maksimal.
2. Untuk melunasi hutang-hutang perusahaan (jika ada).
3. Sebagai cadangan dana untuk kebutuhan investasi perusahaan.
4. Untuk perkembangan perusahaan di masa yang akan datang.

 Cara Untuk Menghitung Laba Ditahan Perusahaan

1. Kumpulkan data-data yang diperlukan dari laporan keuangan milik perusahaan.

Setiap perusahaan diharuskan untuk melakukan dokumentasi terhadap riwayat keuangan perusahaannya secara resmi. Jika Anda bisa melakukannya, maka biasanya Anda akan lebih mudah dalam menghitung laba ditahan selama periode yang berjalan dengan menggunakan angka-angka dari laporan resmi untuk mengetahui jumlah laba ditahan pada tanggal tertentu, laba bersih, dan dividen yang sudah dibayarkan, jika dibandingkan dengan Anda harus menghitungnya secara manual. Laba ditahan perusahaan sampai dengan periode pencatatan yang terakhir akan ditampilkan dalam Neraca, sementara laba bersih perusahaan akan ditampilkan dalam laporan Laba Rugi untuk periode yang sedang berjalan.

Jika Anda dapat memperoleh semua informasi itu, maka Anda akan bisa menghitung laba ditahan dengan rumus sebagai berikut:

Laba bersih – deviden yang dibayarkan = laba ditahan

Selanjutnya, untuk menghitung laba bersih kumulatif, tambahkan angka laba ditahan yang baru saja Anda hitung dengan saldo laba ditahan yang sudah ada pada saat ini (dari periode sebelumnya).

Sebagai contoh, misalnya pada akhir tahun 2016 bisnis Anda memiliki saldo laba ditahan kumulatif sebesar Rp. 512 juta. Selama tahun 2017, bisnis Anda menghasilkan laba bersih sebesar Rp.21,5 juta dan sudah membayarkan deviden sebesar Rp.5,5 juta. Mak saldo akhir untuk laba ditahan dari bisnis Anda sekarang adalah sebesar:

Rp. 21,5 juta – Rp. 5,5 juta = Rp. 16 juta
Rp. 512 juta + Rp. 16 juta = Rp. 528 juta

Jadi, bisnis Anda sudah memiliki laba ditahan sebesar Rp528 juta.

2. Apabila tidak memiliki informasi tentang laba bersih, maka mulailah dengan menghitung laba kotornya terlebih dahulu.

Apabila Anda masih belum mampu untuk mengakses nilai laba bersih secara pasti, maka Anda masih bisa menghitung laba bersih dari sebuah bisnis dengan menghitung secara manual melalui sebuah proses yang sedikit lebih panjang. Maka mulailah dengan cara menghitung laba kotor milik perusahaan. Laba kotor merupakan sebuah angka yang telah dihasilkan dari laporan laba rugi dan akan dihitung dengan cara mengurangi uang dari hasil penjualan dengan HPP (penjualan).

Seperti contoh: sebuah perusahaan berhasil mencapai angka penjualan sebesar Rp150.000 juta dalam satu kuartal, namun tetap harus membayar Rp.90.000 juta untuk barang-barang yang dibutuhkan dalam menghasilkan angka penjualan sebesar Rp.150.000 juta tersebut. Maka laba kotor selama satu kuartal ini adalah,

Rp.150.000.000 – Rp.90.000.000 = Rp.60.000.000

3. Hitunglah laba operasional perusahaan.

Laba operasional mencerminkan laba perusahaan setelah membayar berbagai biaya-biaya penjualan dan biaya-biaya operasional lainnya, seperti halnya upah yang sudah dibayarkan. Untuk menghitung laba operasi seperti ini, maka kurangi laba kotor dengan biaya-biaya operasional perusahaan (tidak termasuk harga pokok penjualan).

Misalnya, dalam kuartal yang sama di mana bisnis kita menghasilkan laba kotor sebesar Rp.60.000.000, terdapat pembayaran biaya-biaya administrasi dan juga upah sebesar Rp.15.000.000. Maka dengan demikian laba operasional perusahaan akan menjadi:

Rp.60.000.000 – Rp.15.000.000 = Rp.45.000.000.

4. Hitunglah laba bersih sebelum pajak.

Untuk menghitung laba bersih sebelum pajak, kurangilah laba operasional perusahaan dengan bunga, depresiasi, dan amortisasi. Depresiasi dan amortisasi yaitu berupa penyusutan dari nilai aktiva (berwujud dan tidak berwujud) selama masa ekonomisnya. Hal ini akan dicatat sebagai bentuk biaya dalam laporan laba rugi. Jika sebuah perusahaan telah membeli peralatan dengan harga Rp.10.000.000 dengan masa ekonomis selama 10 tahun, maka akan timbul biaya depresiasi sebesar Rp.1.000.000 per tahunnya, dengan asumsi bahwa nilainya telah terdepresiasi secara merata.

Misalnya perusahaan Anda telah membayar biaya bunga sebesar Rp.1.200.000 dan biaya depresiasi sebesar Rp.4.000.000. maka laba bersih sebelum pajak dari perusahaan Anda akan menjadi:

Rp.45.000.000 – Rp.1.200.000 – Rp.4.000.000 = Rp.39.800.000

5. Hitunglah laba bersih setelah pajak.

Biaya yang harus Anda perhitungkan adalah pajak. Untuk menghitung laba bersih setelah pajak, maka langkah pertama: kali-kan tarif pajak perusahaan dengan laba bersih sebelum pajak. Selanjutnya, untuk menghitung laba bersih setelah pajak, maka kurangi angka hasil perkalian seperti ini dari angka laba bersih sebelum pajak.

Seperti contoh: kita asumsikan bahwa tarif pajak adalah sekitar 34%. Biaya pajak yang harus kita bayar adalah sebesar,

34% (0,34)xRp39.800 .000= Rp13.532.000

Selanjutnya, akan kita kurangkan angka seperti ini dari jumlah laba bersih sebelum pajak sebagai berikut.

Rp.39.800.000 – Rp13.532.000 = Rp26.268.000

6. Kurangi dengan jumlah deviden yang sudah dibayarkan.

Setelah kita selesai menghitung berapa besarnya laba bersih milik perusahaan setelah dikurangi seluruh biaya-biaya yang menjadi kewajiban kita, maka kita harus memiliki sebuah angka yang bisa kita gunakan untuk menghitung besarnya laba ditahan selama satu periode pembukuan yang sedang berjalan. Untuk menghitungnya, maka kurangi laba bersih setelah pajak dengan deviden yang sudah dibayarkan.

Dalam contoh yang kita bahas, asumsikan bahwa kita membayar deviden kepada para investor sebesar Rp.10.000.000 untuk kuartal (bulan) ini. Laba ditahan untuk periode yang sedang berjalan ini akan menjadi,

Rp.26.268.000 – Rp.10.000.000 = Rp.16.268.000

7. Hitunglah saldo akhir dari akun laba ditahan.

Jangan lupa bahwa laba ditahan adalah akun yang bersifat kumulatif yang selalu menunjukkan perubahan bersih dari laba ditahan sejak berdirinya perusahaan. Untuk mengetahui berapa besarnya laba ditahan secara keseluruhan, maka tambahkan laba ditahan dari periode yang sedang berjalan tersebut dengan saldo akhir dari laba ditahan pada saat periode pembukuan yang berakhir.

Kita asumsikan bahwa perusahaan kita sudah menahan laba sebesar 30.000.000 sampai saat ini. Maka sekarang saldo pada akun laba ditahan kita akan menjadi,

Rp.30.000.000 + Rp.16.268.000 = Rp.46.268.000

Itulah beberapa penjelasan seputar laba ditahan. Untuk mempermudah dalam menghitung laba ditahan, maka Anda bisa memulai dengan membuat laporan laba ditahan dengan software akuntansi. terutama software akuntansi yang sudah berbasis online (cloud) yang dapat membantu Anda dalam membuat laporan laba ditahan secara instan. Dengan software accounting yang berbasis cloud, Anda juga dapat melihat bagaimana kondisi keuangan milik perusahaan dengan lebih mudah, cepat, aman.

Apabila membutuhkan software HRD, Payroll dan Accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

 

TIPS SEDERHANA UNTUK PENCATATAN (PEMBUKUAN) JENIS USAHA JASA SALON

Semakin meningkatnya kesadaran setiap orang, apalagi profesi yang lebih cenderung menuntut seseorang untuk selalu berpenampilan menarik dan sedap dipandang seperti: para marketer, SPG dari sebuah produk dan profesi-profesi lainnya yang lebih menuntut untuk selalu berpenampilan menarik. Karena alasan itulah yang menjadi pendorong utama mengapa mereka harus semakin rajin untuk melakukan perawatan diri, baik dilakukan sendiri di rumah maupun yang mengharuskan mereka untuk pergi ke salon.

Kebiasaan seperti itulah yang terkadang semakin lama semakin mendorong seseorang untuk lebih jeli dan kreatif dalam mengawali jenis usaha dalam bidang jasa salon kecantikan dan salon kesehatan ini, diawali dengan mengandalkan bekal pengalaman sebagai salah satu pelanggan atau sebelumnya pernah mengikuti kursus kecantikan dan perawatan.

Semakin padatnya dunia persaingan bisnis yan sudah semakin bertambah ketat. Para pelaku usaha jasa seperti ini sudah mulai bergerak dengan tidak hanya lebih fokus untuk mengandalkan kepada menentukan strategi pemasaran yang jitu untuk usaha dalam menjaring konsumen saja, namun juga sudah mulai untuk memperhatikan sitem manajemen keuangannya juga.

Biasanya bagi kebanyakan jenis usaha salon yang masih terbilang baru, pemilik usaha hanya lebih memfokuskan kepada kelancaran dari proses pemasarannya saja, sedangkan untuk urusan pembukuannya lebih banyak diserahkan kepada staff accounting/keuangannya saja.

Dan pembukuan yang dilakukan juga hanya masih sebatas pada penjualan dan pembelian saja. Pembukuan secara manual, meskipun sudah dibuat dengan sangat rapi masih belum cukup untuk mengetahui tentang seberapa besar nilai dari keuntungan untuk stiap bulannya, atau berapa banyak dari jumlah stok yang sudah terpakai selama periode satu bulan tersebut.

Jenis usaha jasa salon pada system pencatatan keuangannya memang kurang lebih berbeda dengan jenis usaha penjualan produk barang. Demikian pula apabila Anda ingin menggunakan software akuntansi pada jenis usaha salon Anda, maka diperlukan adanya suatu trik khusus dalam meng-input data-datanya.

Misalnya saja untuk jenis transaksi potong rambut, yang dapat diinput adalah ke dalam menu kas bank (kas masuk/pemasukan). Sedangkan untuk jenis-jenis transaksi yang lebih banyak menggunakan produk seperti pewarnaan rambut, maka jasa pewarnaannya juga akan diinput ke dalam menu kas bank (kas masuk) sedangkan untuk penggunaan produknya akan diinput dalam menu penjualan. Meskipun pada kenyataannya produk pewarna yang telah digunakan masih terdapat sisa, namun sudah diakui sebagai penjualan (sisa pewarna tidak bisa/tidak boleh digunakan oleh customer lain).

Seringkali para pengusaha salon lebih banyak membeli produk perawatan dalam ukuran yang lebih besa, karena harga yang diberikan jauh lebih murah (harga diskon). Tentu saja produk tersebut akan dapat digunakan untuk berulang kali pada banyak konsumen (misalnya saja shampoo atau conditioner). Proses tersebut tidak bisa hanya dibiayakan saja jika pembukuannya dilakukan secara manual. Pembukuan untuk jenis usaha jasa salon secara manual hanya akan mencatat pembelian shampoo/conditioner dan kemudian juga hanya bisa melakukan perkiraan untuk satu botol shampoo saja yang dapat digunakan untuk berapa kali pemakaian. Namun akan menjadi berbeda halnya apabila Anda sudah menggunakan sistem yang sudah serba terkomputerisasi, yang mana untuk penggunaan shampoonya akan dicatat sebagai sebuah process costing, yaitu: dengan cara membiayakan barang yang sudah dikeluarkan dari gudang. Dengan demikian akan didapatkan data dari aliran persediaan barang yang lebih tepat.

Karena itu juga sangat disarankan untuk jenis usaha jasa seperti ini untuk menerapkan sistem yang sudah mulai terkomputerisasi. Dengan cara melakukan sistem akuntansi yang sudah serba terkomputerisasi, maka pemilik usaha jasa ini akan dapat memantau bagaimana aliran kas, mengetahui laba dan berbagai biaya-biaya yang selama ini telah dikeluarkan dalam satu periode dengan lebih cepat dan hasil yang akurat.

Apabila membutuhkan software HRD, Payroll dan Accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

KEBIJAKAN DAN PROSEDUR PENGENDALIAN MUTU KANTOR JASA AKUNTANSI (KJA)

Apakah Anda tahu tentang apa yang dimaksud dengan kantor jasa akutansi (KJA)? KJA adalah Akuntan profesional yang akan memberikan jasa terhadap publik (professional accountans in public practice), dan memiliki tanggungjawab yang jauh lebih besar dalam bertindak untuk menjaga kepentingan publik (public interest).

Perkembangan dan keberadaan Kantor Jasa Akuntansi (KJA) sudah mulai semakin diperhitungkan. Hal ini sangat wajar, karena arti pentingnya sebuah peraturan untuk persaingan bisnis global yang disadari atau tidak sudah menjadikan perusahaan ada pada titik nadi dari tingkat kedewasaan dan penerapan moral dalam mengembangkan bisnisnya.

Setiap Kantor Jasa Akuntansi (KJA) harus memiliki sistem pengendalian mutu yang sudah diterapkan pada semua jasa Akuntansi, seperti: jasa pembukuan, jasa laporan keuangan, jasa manajemen, jasa perpajakan, jasa prosedur yang sudah disepakati atas informasi keuangan serta jasa sistem teknologi keuangan dan lain sebagainya.

Biasanya, komunikasi akan menjadi lebih baik jika dilakukan secara tertulis, namun tingkat keefektifan dari sistem pengendalian mutu Kantor Jasa Akuntansi (KJA) tidak akan terpengaruh oleh ketiadaan dokumentasi tentang kebijakan dan prosedur dari pengendalian mutu yang sudah ditetapkan oleh KJA. Dokumentasi tentang kebijakan dan prosedur pengendalian mutu dari KJA besar juga akan lebih besar tingkat rutinitasnya apabila dibandingkan dengan dokumentasi dari KJA kecil, begitu pula untuk dokumentasi akan menjadi lebih ekstensif di Kantor Jasa Akuntansi yang memiliki banyak kantor apabila dibandingkan dengan dokumentasi dari Kantor Jasa Akuntansi yang hanya memiliki satu kantor saja.

Setiap sistem pengendalian mutu dari kantor jasa akuntansi memiliki keterbatasan bawaan yang bisa sangat berpengaruh besar terhadap tingkat efektivitasnya.  Seperti perbedaan kinerja dari staff dan juga seputar pemahaman persyaratan profesional, bisa sangat mempengaruhi tingkat kepatuhan tentang kebijakan dan prosedur dari pengendalian mutu KJA. Sistem pengendalian mutu Kantor Jasa Akuntansi harus bisa memberikan keyakinan bahwa bagian dari pelayanan jasa Akuntansi oleh suatu Kantor Jasa Akuntansi yang telah dilaksanakan harus benar-benar sesuai dengan sistem dan prosedur kerja yang sudah ditetapkan sebelumnya.

KJA harus mempertimbangkan setiap unsur-unsur pengendalian mutu yang akan dibahas sejauh mana diterapkan untuk prakteknya. Unsur-unsur pengendalian mutu selalu berhubungan antara satu sama lain. Oleh karena itu, praktek kerja KJA akan sangat mempengaruhi kebijakan pelatihannya. Dalam memenuhi ketentuan yang sudah dimaksudkan, maka KJA harus membuat kebijakan dan juga prosedur terhadap pengendalian mutu tentang:

1. Independensi, yang akan memberikan keyakinan bahwa setiap organisasi profesional harus mempertahankan independensi sebagaimana diatur dalam Aturan Etik Akuntan.
2. Penugasan personel, yang memberikan keyakinan bahwa penugasan akan dilaksanakan oleh staff profesional yang memiliki keahlian secara teknis untuk penugasan pelayanan jasa tersebut.
3. Konsultasi, yang memberikan keyakinan bahwa personel akan memperoleh informasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan dari orang yang memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi dan pertimbangan yang memadai.
4. Supervisi, yang memberikan keyakinan bahwa pelaksanaan ikatan akan untuk memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh Kantor Jasa Akuntansi. Lingkup supervisi dan review yang benar-benar sesuai tentang kondisi tertentu, tergantung dari beberapa faktor, seperti kerumitan masalah, kualifikasi staff dan lingkup konsultasi yang sudah digunakan.
5. Proses Kerja personel, yang memberikan keyakinan bahwa semua staff profesionalnya memiliki karakteristik yang pas, sehingga lebih memungkinkan bagi mereka untuk melakukan pelayanan secara kompeten. Profesional, yang memberikan keyakinan bahwa personel juga memiliki pengetahuan yang cukup memadai. Sehingga mereka akan bisa memenuhi tanggungjawabnya masing-masing.
6. Penerimaan dan kelanjutan dengan klien, yang memberikan keyakinan bahwa pelayanan dan perikatan dari klien akan bisa diterima atau dilanjutkan untuk bisa memaksimalkan hubungan dengan klien yang manajemennya tidak memiliki integritas.

Cakupan & Keterterapan Sistem Pengendalian Mutu (SPM):

• SPM mengatur tanggungjawab KJA atas sistem pengendalian mutu dalam melaksanakan ikatan selain asuransi dan SPM tersebut harus memperhatikan ketentuan dari Kode Etik Akuntan Profesional.
• SPM wajib diterapkan oleh KJA berhubungan dengan jasa yang diberikan, yang mana sifat dan luas SPM tergantung dari faktor seperti: ukuran dan karakteristik dari operasi KJA dan masuk tidaknya KJA dalam jaringan kantor.

Tujuan KJA Dalam Menetapkan & Memelihara Sistem Pengendalian Mutu (SPM):

1. Untuk memberi keyakinan (reasonable assurance).
2. KJA dan personelnya harus mematuhi standar profesi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Laporan yang disampaikan oleh KJA sesuai dengan keadaan.
4. Ketentuan SPM dirancang agar dapat mencapai tujuan di atas, dan KJA harus mempertimbangkan untuk perlu tidaknya tambahan ketentuan dalam mencapai tujuan tersebut.

Unsur Unsur Sistem Pengendalian Mutu terdiri atas:

1. Tanggung jawab kepemimpinan.
2. Ketentuan etika.
3. Penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klien dan ikatan.
4. Sumber daya manusia.
5. Pelaksanaan perikatan.
6. Pemantauan.

Pengawasan melekat, yang telah memberikan keyakinan bahwa prosedur yang berhubungan dengan berbagai unsur-unsur pengendalian mutu yang sudah diterapkan dengan efektif. Prosedur pengawasan bisa dirancang dan dilaksanakan secara individu yang bertindak untuk mewakili kepentingan dari Kantor Jasa Akuntansi (KJA) dan jenis-jenis dari prosedur pengawasan yang sudah melekat dan telah digunakan tergantung oleh Kantor Jasa Akutansi masing-masing.

Apabila membutuhkan software HRD, Payroll dan Accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

 

MULAILAH PEMBUKUAN TOKO UNTUK MENYELAMATKAN USAHA DARI RESIKO KEBANGKRUTAN

Secara sepintas, dari para pemikiran orang-orang awam, uang yang tersedia dalam laci toko, maka uang itulah uang yang biasanya dianggap sudah tersedia yang biasa digunakan dengan suka-suka oleh si pemilik tokonya. Namun apabila kita melihat dengan kacamata akuntasi secara seksama, maka sebenarnya dari uang tersebut masih ada yang disebut dengan uang modal barang dagangan, yang apabila kita menggunakannya, maka semua jumlah dari uang tersebut tidak akan dapat menggantikan atau untuk belanja dari barang-barang dagangan baru sebagai pengganti barang-barang penjualan yang sudah laku terjual.

Dan apabila pemakaian dari uang tersebut tidak dikelola dengan lebih teliti (tidak dipisah-pisahkan), yaitu mana uang keuntungan bersih dari hasil penjualan yang akan bisa kita gunakan untuk kebutuhan pribadi, dan mana uang yang selanjutnya akan digunakan kembali sebagai modal untuk pembelian barang-barang penjualan lagi, maka bukankah semakin lama, maka seluruh barang-barang yang ada di toko akan segera habis? dan jika barang dagangan yang sudah habis serta tidak ada lagi uang yang akan bisa digunakan untuk meng-kulak (belanja) barang-barang dagangan baru, cepat atau lambat toko kita tidak akan dapat lagi menjual barang-barang dagangan. Sehingga tidak ada lagi uang yang bisa masuk ke dalam laci uang yang di toko. Bahasa sederhananya adalah: tokonya sudah bangkrut!!

Ini masih berskala kecil, seperti toko-toko kelontong yang dari kampong-kampung/desa bahkan toko-toko kelontong yang ada dikota-kota besarpun bisa bernasib demikian apabila keuangan tokonya tidak serius dikelola dengan lebih teliti. Lalu bagaimana dengan toko yang berskala lebih besar? Dengan jumlah pemasukan yang rata-rata sudah jelas terlihat lebih berlipat-lipat ganda besarnya, dan jumlah dari barang dagangan yang mencapai ribuan jenisnya.

Tentunya begitu terlihat menggiurkan dengan nominal uang yang terlihat sangat banyak dan jauh lebih menggiurkan untuk segera dibelanjakan secepat mungkin digunakan membeli asset-asset penunjang kebutuhan toko, seperti: pembelian mobil pengangkut dagangan, tanah untuk perluasan toko/cabang toko, gudang, dan lain sebagainya oleh si pemilik tokonya. Sementara sebenarnya uang tersebut sebagian besarnya adalah, justru merupakan modal sebenarnya untuk keberlangsungan hidup dari usaha tokonya. Tidak sedikit diantara usaha-usaha toko besar yang dengan cepat mengalami kebangkrutan karena hal-hal sepele seperti ini, karena terlalu kurangnya pengelolaan keuangan secara teliti dan tepat, belum bisa membedakan yang mana uang untuk kebutuhan modal dan yang mana uang hasil dari keuntungan bersihnya.

Pastinya dari seluruh penjelasan diatas Anda sekarang akan bisa membayangkan sendiri bukan, apabila semua uang yang ada di laci toko akan untuk kebutuhan, baik itu adalah kebutuhan pribadi maupun sebagai penunjang sarana dalam usaha untuk memperlancar kebutuhan asset toko?

Salah satu faktor utama dari penunjang keberhasilan usaha adalah dari adanya pembukuan toko yang lebih teliti. Yaitu dengan adanya pencatatan dan pengelolaan keuangan perusahaan yang baik dan benar. Dan hal ini berlaku bagi semua jenis toko, baik itu adalah toko kecil, toko besar, pabrik, distributor, kontraktor, developer, atau apapun  jenis jenis usaha dan berskala usaha kecil/menengah atau yang lebih besar tanpa ada pengecualian satupun.

Bisa jadi Anda sangat pintar dan mungkin bisa dibilang sangat sukses dalam bidang pemasaran, omset selalu bisa tinggi dan akan selalu naik dan naik lagi setiap bulannya,  namun apabila pembukuan dari toko milik Anda tidak diatur dan dikelola dengan teliti, maka hal ini bisa juga terlalu beresiko besar untuk mengalami kebangkrutan toko. Kunci pertama dalam mewujudkan pencatatan toko dengan baik dan lebih teliti dalam hal ini adalah dengan jalan kedisplinan dan ketekunan.

Mulailah dalam mengatur pembukuan toko yang teliti, baik dan benar dari sekarang, tidak ada kata terlambat untuk bisa memulainya. Terlambat itu adalah pada saat barang-barang yang ada di toko sudah benar-benar habis dan Anda sudah tidak mampu lagi untuk berbelanja lagi, karena uangnya sudah tiba-tiba habis sekaligus entah pergi kemana semua karena Andalah yang menggunakannya tanpa pernah memperhitungkannya. Terimakasih dan salam sukses!

Apabila membutuhkan software HRD, Payroll dan Accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

 

Scroll to top