Kategori: Finance

TIPS MENGELOLA KAS KECIL (2) DAN BAGAIMANA KRITERIA ORANG YANG AKAN BERTANGGUNGJAWAB UNTUK MENGELOLA KAS KECIL TERSEBUT

Pada Kesempatan kali ini implementor software akuntansi akan sedikit menjelaskan tentang bagaimana tips dalam hal pengelolaan kas kecil (Petty Cash). Pada kesempatan sebelumnya implementor software akuntansi telah memberikan sedikit penjelasan tentang bagaimana cara untuk pengelolaan kas kecil dan informasi terakhir pada Pencatatan kas kecil dengan metode fluktuatif (Fluctuative Methode).

Metode pencatatan dana kas kecil yang terus berubah-ubah dan dapat benar-benar disesuaikan dengan bagaimana kondisi perusahaan. Metode lain yang masih dapat digunakan oleh perusahan dalam hal mencatat kas kecil adalah berupa metode Tetap (Imprest Fund System). Dan berikut dibawah ini adalah penjelasannya.

Jika kita mengggunakan metode tetap (Imprest Fund System), maka jumlah dana dari kas kecil akan selalu tetap. Pada setiap pengeluaran pemegang dana kas kecil juga tidak akan langsung mencatat transaksi tersebut, namun mengumpulkan terlebih dahulu bukti-bukti transaksi pengeluarannya.

Seperti contoh : Pada tanggal 1 Desember tahun 2000 Anda menetapkan dana kas kecil sebesar Rp 10.000.000,- dan pengeluaran kas kecil sampai tanggal 19 Desember untuk tahun 2000 adalah sebesar Rp 9.000.000,- dengan rincian sebagai berikut :


Pada tangal 19 dilakukan pengisian kembali sebesar Rp 9.000.000, sejak 20 Desember tahun 2000 sampai dengan tanggal 31 Desember tahun 2000 terjadi transaksi-transaksi sebagai berikut :


Selanjtunya, transaksi-transaksi diatas akan dicatat sebagai berikut :


Namun, apabila pada tanggal 31 Desember tahun 2000 kasir tidak dilakukan pengisian kembali dana kas kecil, maka jurnal yang perlu dicatat adalah sebagai berikut:

Jurnal diatas harus dicatat karena tidak dilakukan pengisian kembali, maka transaksi-transaksi yang sudah terjadi akan langsung dibebankan pada kas kecil.

*Sebagai catatan bahwa transaksi-transksi di atas akan digolongkan sebagai beban administrai dan umum.

Manfaat dari mengunakan metode tetap (Imprest Fund System) adalah sebagai berikut:

1. Membantu para staff accounting dalam melakukan closing.
2. Membuat proses pencatatan akan menjadi lebih sederhana.
3. Lebih memudahkan untuk menelusuri (Trace) dari setiap transaksi pengeluaran.
4. Memudahkan penelusuran dari pos-pos yang berkaitan dengan pengeluaran dari kas kecil.
5. Memudahkan bendahara dalam menentukan jumlah dana untuk periode selanjutnya.
6. Pengawasan pada kas kecil yang menjadi lebih baik.

Dari beberapa manfaat yang telah disebutkan di atas, perusahaan yang menggunakan metode imprest perlu memperhatikan bahwa keleluasaan bendahasa kas kecil memang sangat terbatas. Mereka tidak dapat memeriksa saldo akhir bulan dan tidak dapat mengambil dan mengisi kas sebelum akhir periodenya.

Menentukan Staf yang Bertanggung Jawab Terhadap Kas Kecil

Setelah menetapkan besarnya saldo awal dan metode pencataten kas kecil, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah menentukan orang yang memegang fungsi kas kecil. orang yang akan memegang kas kecil biasanya disebut dengan bendahara kas/ kasir. Tugas utama mereka adalah untuk mencatat pengeluaran-pengeluaran rutin yang jumlahnya tidak terlalu besar dan dan lebih bersifat pengeluaran tunai.

Beberapa kriteria orang yang mungkin cocok untuk ditempatkan pada posisi kasir adalah sebagai berikut.

1. Cukup menguasai pembukuan akuntansi. Seorang kasir diharapkan memiliki pengetahuan cukup tentang cara pencatatan transaksi yang meliputi penerimaan uang, dan pembayarannya.
2. Rapi. Kasir harus mencatat transaksi dengan lebih rapi, tujuannya adalah agar berbagai informasi yang sudah dihasilkan akan dapat dipahami oleh para penggunannya.
3. Senang dengan pekerjaan pencatatan (clerical). Klerical merupakan pekerjaan pencatatan yag sering/rutin dilakukan. Oleh seseorang yang menyukai aktifitas catat mencatat akan sangat cocok jika ditempatkan pada fungsi kasir.
4. Jujur. Jujur disini dirtikan mencatat transaksi apa adanya. Besarnya transaksi yang akan terjadi dicatat sebesar seperti apa yang tertulis pada bukti transaksi. Kasir tidak diijinkan mencatat transaksi berdasarkan pada asumsi dan kepentingan pribadi.
5. Berpikir Logis. Kasir akan selalu dihadapkan pada permasalahan yang membutuhkan penalaran dalam pengambilan keputusan yang berbentuk angka. Meskipun harus berkelut pada angka, namun seorang kasir juga harus dapat mengambil keputusan yang berdasarakan pada prinsip dan asumsi. Dam dari sinilah fungsi dari logika tersebut.
6. Bekerja berdasarkan pada standard. Semua pengambilan keputusan harus didasarkan pada standar akuntansi. Seorang kasir tidak diijinkan untuk menggunakan asumsi yang berlawanan dari standar yang telah ditetapkan.
7. Detail. Detail disini bisa diartikan setiap jumlah yang sudah ditampilkan pada transaksi, kasir harus selalu melihat perincian dari transaksi tersebut.
8. Teliti. Seorang kasir juga akan selalu dihadapkan pada transaksi uang yang merupakan harta milik perusahaan. maka sifat ketelitiannya juga harus sudah tertanam pada diri si kasir. Teliti disini berarti hanya mengakui transaksi yang didukung oleh bukti-bukti transaksi saja, sehingga dalam pencatatannya harus dilakukan secara lebih obyektif. Angka yang dicatat harus sesuai dengan bukti transaksi yang sebenarnya.
9. Konsisten. Seorang kasir harus tetap konsisten daam melakukan pencatatan pada setiap transaksi yang terjadi. Konsisten dapat diartikan tetap patuh pada staandar akuntansi dan berbagai peraturannya.
10. Disiplin. Seorang kasir yang tidak diperkenankan akan mengabaikan data, bukti transaksi, prosedur , dan kebijakan yang masih berkaitan dengan tanggungjawabnya. Tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan metrialitasnya.
11. Skeptis. Seorang kasir yang baik akan selalu merasa selalu ingin tau yang besar. artinya adalah selalu mengambil keputusan yang lebih didasarkan pada bukti transaksi yang masih dapat dipertanggung jawabkan.
12. Sederhana. Seorang kasir harus dapat berpikir dengan lebih sederhana, yakni harus lebih mengedepankan sikap hati-hatinya (Konsevatif) dalam setiap pengambilan keputusan.

Nah, itulah sedikit tips seputar bagaimana cara dalam mengelola kas kecil. Apabila para pembaca sekalian ingin memahami dengan lebih mendalam tentang bagaimana cara untuk mengelola kas kecil, atau membutuhkan konsultasi manajemen, dan membutuhkan Software Accounting, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900 atau 081-8521172. Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya

BEBERAPA KOMPONEN-KOMPONEN PEMBENTUK SEGITIGA KECURANGAN / FRAUD TRIANGLE PADA INTERNAL ORGANISASI PERUSAHAAN

Dalam mendeteksi sebuah kecurangan yang sebelumnya pernah terjadi, seorang auditor setidaknya harus harus menganalisis terlebih dahulu beberapa penyebab utama yang biasanya paling mendasari dari terjadinya tindakan kecurangan. Berbagai penyebab-penyebab tersebut secara umum akan semakin nampak pada teori segitiga kecurangannya. Fraud triangle merupakan tiga macam hal yang semakin mendorong seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan. Beberapa dari komponen yang akan membentuk segitiga kecurangan tersebut akan dibahas pada artikel berikut ini.

• Penyebab Karena Terjadinya Tekanan (Pressure).

Adanya tekanan merupakan faktor pertama yang paling mempengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan. Dorongan yang seringkali muncul untuk melakukan tindakan ilegal tersebut sebenarnya dapat disebabkan karena orang tesebut memang memiliki beban hidup yang berat, berbagai tagihan yang semakin lama semakin menunggak, terlalu terbiasa dengan gaya hidup yang mewah, memilki penyakit yang harus disembuhkan dengan segera, bahkan semakin ketergantungan dengan obat-obatan terlarang seperti narkoba, dan lain sebagainya. Berdasarkan pada beberapa kasus yang sebeluumnya pernah terjadi, tindakan kecurangan bukan hanya disebabkan karena mereka sudah sangat terdesak dengan permasalahan keuangan. Namun karena adanya keinginan untuk bisa terlihat lebih menonjol apabila dibandingkan dengan yang lainnya. Keinginan tersebut untuk mendapatkan lebih banyak hal-hal yang diinginkan, keserakahan yang akan semakin mendorng seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan.

• Adanya Kesempatan (Oportunity).

Setelah faktor tekanan, selanjutnya adalah karena faktor adanya peluang. Kecurangan dan berbagai tindakan ilegal lainnya yang tidak akan bisa terjadi jika pengendalian internalnya sudah benar-benar efektif yang artinya adalah cukup mampu dalam memberikan keamanan bagi perusahaan dari berbagai upaya pihak-pihak yang dengan sengaja ingin memanfaatkan posisi yang sudah dimilikinya agar bisa mendapatkan keuntungan tersendiri maupun kelompok secara ilegal. Pengendalian internal yang lebih lemah terkait dengan adanya pengawasan yang masih kurang ketat dan berbagai cara dalam melakukan penyalahgunaan wewenang dan tanggungjawab.  Berdasarkan pada beberapa kasus yang sebelumnya pernah terjadi, biasanya faktor kesempatan yang paling berpengaruh besar untuk terjadinya tindakan kecurangan seperti ini.

• Rasionalisasi (Rationalization).

Setelah dari adanya faktor tekanan dan kesempatan, faktor lainnya yang tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi untuk terjadinya tindakakan kecurangan adalah pemikiran bahwa tindakan yang sudah dilakukannya termasuk masih dapat ditoleransi. Cara berpikir seperti inilah sangat berbahaya. Karena dengan menganggap bahwa perilaku yang sebenarnya dapat merugikan perusahaan, pemerintah, bahkan orang-orang yang berada disekitarnya, malah dianggap sebagai hal yang sudah biasa dan sangat wajar jika dilakukan akan sangat merusak tatanan sosial.

Berbagai pembenaran-pembenaran atau alasan-alasan yang mereka anggap masih dapat diterima, baik oleh akal sehat maupun masyarakat lain yang bisa disebabkan karena dalam lingkungan masyarakat asal individu tersebut sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan, benar menurut pandangan kelompok tertentu. Sebagai contohnya adalah, pada saat karyawan melihat keuntungan yang telah didapatkan oleh perusahaan begitu besar. Maka karyawan akan bisa beranggapan bahwa tanpa kehadirannya perusahaan tidak akan mampu mendapatkan keuntungan sebesar itu. Maka, jika pembagian keuntungan tersebut dirasa sangat tidak adil baginya, maka karyawan tersebut akan mencari cara lain agar dapat memaksimalkan keuntungan tersebut. Baik dengan cara penyalahgunaan wewenang maupun penipuan yang harus dilakukannya.

Contoh lainnya adalah seorang individu yang telah cukup lama bekerja pada sebuah perusahaan, tentunya akan menjadi sangat wajar dan masuk akal jika gaji yang diterimnya naik dan lebih tinggi daripada karyawan lainnya. Namun kenyatannya tidak demikian, gaji yang diterimanya tidak sesuai dengan pengorbanan waktunya. Maka, untuk memaksimalkan keuntungan dan keadilan berdasarkan pemikiran karyawan tersebut maka tindakan kecuranganpun akan dilakukannya.

Hal yang paling membahayakan lagi adalah perilaku-perilaku negatif yang akan dilakukan oleh individu yang telah dianggap sebagi hal yang sudah biasa dan dapat diterima oleh sebagian kelompok tertentu. Maka sebaik apapun pengendalain internal yang sudah dibuat, namun jika tidak diterapkan dan dipertanggungjawabkan dengan baik, maka fungsi dari pengendalian internal itu sendiri tidak akan berarti apapun. Selain itu, sebesar apapun  punishment yang sudah diterapkan yang memang bertujuan untuk memberikan efek jera bagi para pelakunya jika karakter individu yang berada didalamnya sangat buruk, lalu berkoalisi untuk tujuan negatif, dan tidak mau menerima pengendalian internal sama saja itu sudah tidak ada artinya.

Berikut ini merupakan penjelasan tentang fraud triangle dalam kasus “ENRON” yang sebelumnya pernah dibuat artikelnya.

• Presure.

Jika dilihat dari sudut pandang “Presure” tekanan, maka kenyatan yang harus diterima oleh ENRON begitu berat. Mengakui bahwa besarnya hutang yang dibebankan kepadanya kemungkinan kecil akan dapat terlunasi. Mengakui bahwa popularitas sebagai perusahaan paling inovatif yang telah didapatkannya berkali-kali oleh majalah fortune akan bisa diterima oleh perusahaan lain. Mengakui bahwa investor sebenarnya telah tertipu dengan laporan keuangan yang telah dimark up dengan sedemikian rupa.  Terakhir, setiap tindakan ilegal yang telah merugikan publik maka konsekwensinya adalah “Kurungan Penjara”.

Berbagai tekanan yang harus dihadapi menjadikan manajemen Enron harus rela melakukan berbagai upaya yang membuatnya bisa menjadi pelajaran terbesar bagi perusahaan lain. Untuk menyajikan laporan keuangan yang sedikit mencerminkan hutang, manajemen Enron membentuk anak perusahaan yang bertujuan secara khusus/Special Purpose Entity (SPE). Dan sebagian hutang dialihkan dengan  mereklas sebagian besar akun hutangnya kepada anak perusahaan yang bertujuan secara khusus untuk mengurangi begitu besarnya hutang yang harus diluasi.

Tekanan yang juga begitu besar dari pihak investor yang masih tetap saja berharap dari nilai saham Enron akan naik kembali dan memaksa pihak manajemen agar mampu membujuk karyawannya untuk membeli kembali saham-saham milik perusahaan. Namun usaha yang dilakukan oleh manajemen tersebut sama sekali tidak berhasil dalam menjadikan Saham perusahaan untuk terus bangkit, sehingga akibat terburuknya adalah jatah uang pensiun milik karyawan akan lenyap dan pendapatan perbulan karyawan akan menghilang setelah Enron dinyatakan benar-benar bangkrut total.

Tekanan berikutnya adalah untuk melenyapkan segala bukti dokumen yang berkaitan dengan perusahaan yang bertujuan khusus. Manajemen merasa sangat khawatir jika bukti-bukti tersebut akan dapat ditemukan oleh pemeriksa keuangan. Dan akibatnya adalah semua jajaran dari tingkat petinggi Enron akan dituntut penjara setelah memang sudah terbukti bersalah.

• Oportunity.

Kejahatan keuangan yang sudah dilakukan oleh Perusahan Enron memang bisa saja terjadi karena adanya peluang untuk melakukannya. Manajemen Enron akan menolak diterapkannya pengendalian internal yang jauh lebih ketat lagi. Pemimpin yang memiliki sifat dasar yang sangat buruk, jika mendapatkan tekanan juga akan bertindak semakin buruk. Posisi-posisi yang lebih strategis yang dapat dimanfaatkannya untuk menjalankan tujuannya terselubungnya.

• Rationalization.

Yang harus lebih diingat adalah bahwa keputusan manajemen merupakan keputusan bersama. Keputusan bersama juga tidak dapat dijadikan sebagai suatu pembenaran atas keputusan yang salah. Membentuk perusahaan bertujuan khusus untuk menyembunyikan begitu banyaknya beban hutang perusahan induk merupakan hasil dari keputusan bersama. Menghancurkan bukti-bukti yang berhubungan langsung dengan perusahan yang bertujuan khusus merupakan satu bentuk upaya untuk menyelamatkan diri dengan bersama-sama. Jadi rationalization merupakan cara pandang dimana perilaku yang tidak terpuji akan dianggap sangat layak untuk dilakukan jika dengan alasan tertentu.

Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Pengendalian internal memang sangat penting untuk dilakukan terhadap perusahaan untuk menjaga harta kekayaan milik perusahaan. Pengendalian internal yang terbaik akan dapat dibentuk melalui Standar Operasional Procedur (SOP). Bagi para pembaca sekalian yang ingin memiliki pengendalian internal yang lebih baik. Maka silahkan menghubungi kami di
groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

MANAJEMEN DAN PEMBAGIAN JENIS-JENIS HUTANG PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan sedikit membahas artikel tetang bagaimana cara terbaik dalam mengelola hutang. Alasan mengapa hutang sangat perlu untuk dikelola adalah karena hutang berhubungan langsung dengan kas. Jika perusahaan terlambat membayar hutang, perusahaan tentunya akan dikenakan denda sebesar yag telah ditetapkan pada awal saat perjanjian.

Sebelum kita membahas tentang bagaimana caranya untuk mengelola hutang dengan benar, marilah kita mengenal sedikit gambaran umum tentag hutang ini. Menurut Kieso Hutang merupakan penundaan yang berasal dari peristiwa masa lalu dengan mengeluarkan sumber daya.

Hutang dapat menyebabkan kewajiban keuangan maupun menimbulkan kewajiban pelaksanaan. Kelompok hutang yang masuk kedalam kewajiban keuangan misalnya hutang usaha, hutang pajak, hutang deviden, hutang bunga dan hutang-hutang yang lainnya. Sementara untuk kewajiban pelaksanaan, misalnya adalah sewa diterima dimuka, beban yang sudah diterima dimuka, uang garansi pembelian dari para pembeli.

Berdasarkan pada jangka waktu pelunasannya hutang dapat dikelompokan kedalam hutang jangka panjang dan hutang jangka pendek. Berikut dibawah ini adalah terlebih dahulu dijelaskan tentang jenis-jenis hutang jangka pendek, yaitu :

• Hutang dagang.

Kewajiban yang muncul karena disebabkan perusahaan sudah membeli barang dagangan secara kredit. Kewajiban hutang ini harus dipenuhi dalam jangka waktu singkat.

• Hutang wesel.

Kewajiban yang sudah tertulis kepada pihak-pihak lain yang dapat dibuktikan dan berisi tentang kesanggupan untuk membayar sejumlah uang tertentu dan pada tanggal tertentu juga.

• Beban-beban yang masih harus dibayar (Accrued expense).

Kewajiban perusahaan yang meliputi beban yang harus dibayarkan pada satu periode pelaporan, namun masih belum dibayarkan (Ditangguhkan).  Sehingga masih merupakan hutang dan perusahaan harus tetap melunasinya.

• Hutang devien.

Kewajiban perusahan untuk membagi sejumlah deviden tertentu kepada para pemegang saham, namun masih belum dibayarkan pada periode tersebut. Sehingga jumlah tersebut akan dicatat sebagai uang deviden, hutang kepada para pemegang saham.

• Pendapatan deviden.

Pendapatan yang berasal dari pembagian deviden yang sudah disetorkan kembali. Penetapan ini berasal dari para pemegang saham.

• Pendapatan yang sudah diterima dimuka.

Pendapatan ini muncul karena perusahaan sudah menerima pembayaran atas suatu pekerjaan, akan tetapi pekerjaannya masih belum selesai dikerjakan. Dan karena masih belum selesai, maka manajemen harus mencatatnya sebagai hutang terlebih dahulu, karena menerima pembayaran dari aktivitas yang masih belum tuntas dikerjakan.

• Bagian-bagian dari hutang jangka panjang yang sudah masuk masa jatuh tempo.

Kewajiban ini memang memiliki termin yang sangat panjang, karena bagian dari kewajiban jangka panjang. Akan tetapi dikelompokan ke dalam hutang lancar karena perusahaan perlu membayar angsuran dari hutang tersebut.

Sementara kewajiban jangka panjang yang termasuk di dalamnya adalah:

• Hutang hipotik.

Kewajiban yang nilanya akan dijamin dengan harta yang tidak bergerak/asset tetap. Kelompok asset tetap ini misalnya tanah, dan gedung. Alasannya adalah karena pemberi dana pinjaman dapat menyita asset peminjam yang sudah digunakan sebagai jaminan sewaktu-waktu peminjam sudah tidak mampu lagi untuk melunasi kewajiban tersebut.

• Hutang obligasi.

Kewajiban bagi pihak manajemen untuk menerbitkan obligasi dalam jumlah tertentu kepada para pemegang saham. Manajemen juga berjanji untuk membayar pokok besarta kupon bunganya.

Hutang jangka pendek bisa disebut juga dengan hutang  lancar. Sifat dari kewajiban ini harus segera dilunasi, karena biasanya untuk jangka waktu pelunasannya kurang dari satu tahun. Sementara untuk hutang jangka panjang biasanya disebut dengan hutang tidak lancar. Sifat dari kewajiban ini tetap harus segera dilunasi apabila perusahaan memang sudah memilk dana. Agar tidak semakin memberatkan perusahaan pada saat masa jatuh temponya, manajemen dapat mengalokasikan sebagian dari akun hutang jangka pendek dan menetapkan nilai dari angsurannya.

Setelah dijelaskan mengenai bentuk-bentuk dan sifat dari hutang serta macam-macam hutang, maka sekarang kita akan beralih kepada pembahasan pengelolaan hutang.

Kecilnya nilai dari utang lancar mungkin saja yang menjadi penyebab utama mengapa pos ini tidak diperhatikan. Dan akibatnya perusahan akan mengalami kekurangan kas. Hal-hal yang perlu untuk diperhatikan dalam penelolaan hutang adalah :

Pertama, kita harus mengetahui terlebih dahulu apakah hutang lancar dapat segera terlunasi semua apabila kita melunasinya dalam waktu dekat. Untuk mengetahuinya kita bisa menggunakan rasio lancar. Dimana rasio seperti ini akan membandingkan antara harta lancar dengan hutang lancar. Berikut ini adalah formulanya:

Kriterianya yang semakin besar angka yang sudah dihasilkan dari rasio tersebut, maka akan menjadi semakin baik. Itu artinya harta perusahaan yang lebih bersifat liquid dapat dijadikan sebagai pendukung bagi hutang lancar perusahaan.
Kedua, Modal kerja bersih Modal kerja merupakan modal yang sangat diperlukan oleh perusahaan untuk membiayai seluruh kegiatan sesuai dengan plan yang sudah dibuat, biasanya lebih sering disebut dengan grand project. Nilai dari modal kerja tersebut berasal dari harta lancar perusahaan setelah dikurangi dengan kewajiban yang harus segera dibayarkan. Modal kerja ini bagi perusahaan berfungsi sebagi sumber pembiayaan kegiatan perusahaan untuk jangka pendek, seperti pembelian persediaan, pembayaran operasional, membayar upah pegawai dan beban operasional lainnya.

Ketiga, kita harus mengetahui apa saja yang menjadi batasan atas hutang tersebut. Manajemen diharapkan tidak semakin terlena dengan adanya iming iming dari pihak penyedia dana, yang akan memberikan keringanan hutang dengan termin yang lebih panjang dan nilai bunga yang lebih kecil. jika manajemen terjebak kedalam hutang jangka panjang besar, maka akan menjadi semakin menjadikan perusahaan lebih sulit untuk dapat keluar dari permasalahan (IT).

Nah, itulah sedikit tips seputar bagaimana pengelolaan terbaik pada hutang. Apabila pembaca ingin memahami dengan lebih mendalam tentang manajemen piutang dan memutuhkan konsultasi seputar manajemen perusahaan, para pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.
Sampai bertemu lagi pada pembahasan artikel selanjutnya.

MENDETEKSI BERBAGAI TINDAKAN KECURANGAN PERUSAHAAN MELALUI ANGKA-ANGKA RASIO

Laporan keuangan yang meliputi laporan posisi keuangan, laporan kinerja keuangan, dan laporan aliran kas merupakan laporan yang mengambarkan bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan eksternal seperti pemilik perusahaan, investor, kreditur, pemerintah untuk tujuan pengambilan keputusan terkait perkembangan perusahaan berdasarkan pada informasi yang disediakan. Namun dalam standart Audit Internasional (International Standards on Auditing) menyatakan bahwa posisi managemen sangat rentan untuk melakukan manipulasi, karena manajemen memiliki kendali penuh atas penyajian laporan keuangan. Lingkungan perusahaan yang memiliki pengendalian internal yang lemah akan menjadi lebih mudah bagi manajemen untuk melakukan kecurangan.

Laporan keuangan merupakan catatan angka-angka historis yang menggambarkan bagaimana kondisi keuangan perusahaan pada periode tertentu. Memperhatikan angka-angka tersebut saja tidak akan cukup dalam memberikan pemahaman terhadap laporan keuangan. Menghubungkan antara satu pos dengan pos lainnya akan lebih memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Angka rasio merupakan hasil dari penghubungan antara angka dari pos satu dengan angka dari pos lainnya. Karena laporan keuangan merupakan hasil penyajian dari pihak manajemen yang sangat berpeluang besar untuuk dimanipulasi, maka angka dari hasil rasio juga dapat dilakukan analisa untuk mendeteksi kecurangan.

Dibawah ini akan disajikan beberapa rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi kecurangan

Rasio kinerja perusahaan ROA, EBT/TA, dan EBIT/TA

1. Net profit to total Aset (ROA).

“Rasio yang berasal dari perbandingan antara nilai penghasilan dengan jumlah asset. Rasio ini menunjukan seberapa efektif asset-asset yang masih dimilki oleh perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin besar rasio yang ditunjukan, maka semakin besar pula kemampuannya dalam menghasilkan laba”.

2. Earning before tax to total aset (EBT/TA).

“Rasio ini akan dihasilakan dengan cara membandingkan antara angka laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini bertujuan hampir sama denga ROA, yaitu untuk mengukur kinerja perusahaan melalui laba yang sudah dihasilkan, namun bedanya laba yang sudah diukur oleh ROA adalah laba besih sementara laba yang akan diukur oleh EBT/TA adalah laba sebelum pajak”.

3. EBIT to Total Asets (EBIT/TA).

“Rasio ini dihasilkan dari perbandingan antara angka laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini mengukur kinerja perusahaan sebelum dikurangi dengan beban bunga dan beban pajak.” Manajemen akan memanfaatkan rasio ROA aktual pada tahun-tahun sebelumnya untuk dapat memproyeksikan target keuangan pada tahun-tahun berikutnya. ROA yang lebih tinggi dari pada tahun-tahun sebelumnya menunjukan bahwa kinerja manajemen tampak mengalamai peningkatan. Semakin tinggi rasio ROA, juga akan semakin terlihat baik pula kinerja dari manajemen. Akan tetapi tingginya rasio ROA juga dapat menjadi perhatian bahwa manajemen sedang melakukan kecurangan dalam menyajikan laporan keuangan berupa manajemen laba. Manajer akan ditengarahi berusaha untuk meningkatkan tampilan kinerjanya mencapai target laba yang ditentukan oleh perusahaan agar mendapatkan bonus. Begitu besarnya kasus ini biasanya terjadi pada perusahaan yang lebih berorientasi kepada laba, mengukur kinerja dari setiap staff dengan besarnya laba yang dihasilkan.

Rasio Penggunaan Asset

1. Current Asset to Current liabilitas (CA/CL).

“Rasio yang dihasilkan dengan membandingkan antara angka asset lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin kewajiban lancarnya dengan asset lancarnya. Semakin tinggi rasio yang sudah dihasilkan, maka akan menjadi semakin kecil pula kemungkinan bagi perusahaan dalam mengalami kegagalan keuangan.”

Beberapa hal yang dapat mendasari alasan rasio asset lancar terhadap kewajiban lancar mengandung kecurangan adalah kemungkinan terbesar bagi manajemen yang ingin menghindari pelanggaran kontrak kewajiban untuk jangka panjang. Kewajiban jangka panjang membutuhkan komitmen yang lebih tinggi perusahaan, yaitu perusahaan akan mampu menjamin kewajibannya. Tekanan yang diterima oleh pihak manajemen akan menjadikan mereka berusaha agar nilai asset lancarnya tampak lebih besar daripada yang seharusnya, sehingga dinilai akan mampu menjamin kewajiban jangkan panjang. Alasan lainnya adalah dari adanya keinginan untuk menyajikan laba agar nampak lebih tinggi dari seharusnya. Dengan menyembunyikan beberapa akun kewajiban, maka laba perusahaan akan nampak sedikit lebih naik.

Dalam kelompok asset lancar terdapat pos persediaan. Ketika pos persediaan mengalami penurunan secara terus menerus tanpa didukung  dengan informasi penjualan maka bisa dicurigai bahwa perusahaan telah kehilangan persediaannya. Nilai persedian yang terus menurun tanpa adanya bukti penjualan dapat mengindikasikan bahwa ada pihak-pihak yang sengaja melakukan penyelewengan pada persediaan perusahaan. Hal ini juga merupakan bentuk kecurangan.

2. Account receivable to total assets (REC/TA).

“Rasio yang dihasilkan dari perbandingan antara nilai asset lancar dengan total asset. Rasio ini mengukur seberapa dominan penjualan kredit mempengaruhi besarnya keseluruhan dari asset perusahaan. Semakin tinggi angka rasio ini, maka akan menjadi semakin besar pula transaksi penjualan kredit yang membentuk total asset.”

Terdapat anggapan bahwa perusahaan yang paling untung adalah perusahaan yang mampu mencetak penjualan paling tinggi. Selain itu besarnya insentif bagi manajer penjualan apabila mampu melakukan penjulan sebanyak banyaknya menjadi motifasi agar nilai penjulan masih tetap tinggi, sehingga tetap mendapatkan bonus tinggi. Namun dari tingginnya angka rasio REC/TA yang tidak wajar dapat dicurigai manjer melakukan penjualan fiktif. Menjual ke pelanggan fiktif. Selain itu dapat juga dicurigai bahwa manajer tengah me mark-up nilai beberapa penjualan, sehingga secara total nampak lebih tinggi.

Pihak manajemen menyajikan piutang lebih besar dari pada seharusnya. Waktu jatuh tempo piutang dinilai kembali. Melalui kebijakan baru umur piutang dinilai lebih panjang, syarat kredit dinilai juga menjadi lebih ringan. Sehingga piutang yang awalnya telah jatuh tempo dan lebih sulit untuk ditagih, bahkan telah dicatat sebagai beban tidak tertagih oleh perusahaan dimunculkan kembali. Diakui sebagai piutang, dinilai asset perusahaan.

3. Retained Earning / Net Profit (RE/NP).

“Rasio ini dihasilkan dengan membandingkan antara angka laba ditahan dengan laba bersih periode berjalan.”

Laba ditahan berisikan komponen laba tahun lalu, deviden yang belum dibagikan kepada pemegang saham, laba tahun berjalan dan taksiran pajak tangguhan. Alasan rasio ini perlu mendapatkan perhatian ialah ada kemungkinan bahwa nilai modal yang disetorkan berupa saham dicatat lebih besar daripada seharusnya. Hal ini terjadi jika perusahaan bersangkutan memiliki induk perusahaan yang berada di luar negeri, menggunakan jenis mata uang berbeda. Sehingga nilai kurs dalam menentukan besarnya transaksi harus benar-benar diperhatikan.

Berikut dibawah ini adalah beberapa tips untuk menghindari terjadinya kecurangan:

1. Memeriksa persediaan di tempat penyimpanan persediaan biasanya gudang secara rutin, berkala paling tidak satu bulan sekali. Hal ini untuk meyakinkan bahwa nilai persediaan yang tercatat pada laporan keuangan sesuai dengan jumlah fisik persediaan.
2. Menerapkan sistem forecasting dengan perhitungan statistik untuk mengurangi terjadinya penumpukan barang.
3. Menggunakan metode statistik atau software yang dapat menghitung penentuan re-order serta dokumentasi yang dapat mengingatkan manajemen agar dapat mengurangi keterlambatan penerimaan barang.
4. Mempebaiki sistem pengendalian internal, misalnya memastikan bahwa tidak ada jabatan-jabatan yang kosong sehingga diisi dengan orang yang sama. perangkapan jabatan merupakan salah satu indikasi bahwa pengendalian internal perusahaan sangat lemah. Misalnya bagian penerimaan barang dengan bagian penyimpanan barang dilakukan oleh orang yang sama. tidak adanya pemisahan jabatan untuk menangani pekerjaan yang membutuhkan koreksi memudahkan terjadinya kecurangan dan penyalahgunaan wewenang. Barang yang datang tidak diperiksa terlebih dahulu oleh bagian penerimaan terkait jumlah barang, jenis barang, dan harga barang yang diterima. Begitu juga dengan bagian pengeluaran dengan bagian penyimpanan, barang yang keluar tidak diperiksa jenis barangnya, jumlah barangnya, dan harga barangnya.
5. Membuat standar operasional prosedur yang labih baik. Standar oerasional prosedur dibentuk bersamaan dengan dibentuknya dokumen-dokumen yang mendukung kegiatan staff bersangkutan. Jika media pencatatannya tidak mendukung bagaimana bisa menciptakan pengendalian internal yang baik.
6. Melakukan konfirmasi pada setiap pelanggan yang memiliki besarnya saldo piutang tertentu. Hal ini untuk meyakinkan bahwa saldo akhir yang tampak pada laporan keuangan memang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.
7. Menyediakan price list yang lebih up to date. Penjualan hanya akan diakui jika nilai penjualan sesuai dengan nilai harga jual yang disyaratkan.
8. Selalu memantau kebijakan manajemen. Memastikan bahwa setiap kebijakan yang sudah diterapkan dibuatkan notulen meeting atau Internal memo.
9. Memperketat syarat kredit. Dengan diberlakukannya syarat kredit ketat, menjadikan staff penjualan menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan penjualan. Mereka harus memperhatikan kemampuan calomn konsumen dalam melunasi kewajibannya.
10. Selalu memperhatikan nilai kurs dengat lebih cermat, karena transaksi yang dilakukan dengan mata uang berbeda harus dicatat sesuai dengan nilai kurs pada saat transaksi terjadi.

Bagi pembaca semoga artikel ini dapat bermanfaat. Pengendalian internal memang sangat penting bagi perusahaan untuk menjaga harta kekayaan perusahaan. Pengendalian internal yang baik dapat dibentuk melalui Standar Operasional Perusahaan (SOP). Bagi para bapak/ibu pembaca sekalian yang ingin memiliki pengendalian internal yang lebih baik. Maka silahkan menghubungi kami di
groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

Scroll to top