Kategori: Manajemen

BEBREAPA RASIO YANG TERGABUNG DALAM RASIO PROFITABILITAS PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini praktisi software accounting akan sedikit berbagi informasi tentang apa yang dimaksud dengan Rasio Profitabilitas. Pada setiap akun dari laporan keuangan biasanya memiliki informasi untuk pengambilan keputusan. Nilai dari akun-akun tersebut juga sama sekali tidak memberikan pengaruh yang lebih signifikan jika memang seorang analis ingin memperlakukan akun-akun tersebut secara terpisah. Agar bisa mendapatkan informasi yang lebih baik, maka sangat perlu dibuat sebuah perbandingan diantara beberapa akun-akun penting. Membandingkan satu akun dengan akun yang lainnya bertujuan untuk mendapatkan sebuah Rasio. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi yang lebih luas lagi.

Rasio-rasio yang akan dibahas pada artikel kali ini merupakan rasio yang berfungsi untuk mengukur kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba. Rasio yang tergabung dalam Rasio profitabilitas, yaitu berupa:

1. Rasio Margin laba Kotor (Gross Profit Margin).
2. Rasio Margin laba Bersih (Net Profit Margin).
3. Rasio modal terhadap laba (Return On Equity).
4. Rasio asset terhadap laba (Return On Aset).
5. Rasio laba per saham (Earning Per Share).

1. Rasio Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin).

Margin laba kotor (Gross Profit Margin) merupakan sebuah rasio yang mengukur tentang seberapa optimal perusahaan dalam mengelola penjualan melalui penetapan harga pokok penjualan (Cost of Good Sold). Rasio ini akan memberikan informasi kepada para pengguna tentang seberapa efisen kemampuan dari pihak manajemen untuk menghasilkan keuntungan dengan hanya memperhitungan biaya langsungnya saja.

Biaya langsung (Direct Cost) merupakan biaya yang secara langsung berhubungan dengan produksi suatu barang. Contohnya adalah biaya langsung sebagai biaya bahan baku, dan biaya tenaga kerja langsung. Sementara biaya tidak langsung (Undirect Cost) adalah biaya yang berhubungan langsung dengan proses produksi secara keseluruhan. Contohnya adalah biaya tenaga kerja tidak langsung, Biaya penyusutan mesin, Biaya listrik, Biaya air, Biaya administrasi dan biaya gudang.

Berikut dibawah ini Rumus Gross Profit Margin

Contohnya seperti berikut:
PT. ABC pada tahun 2000 mencatatkan bahwa penjualannya adalah sebesar Rp. 400.000.000,-dan harga pokok yang digunakan adalah sebesar Rp 150.000.000,-. Laba kotor yang diperoleh dari perhitungan pendapatan penjualan dikurangi dengan harga pokok penjualan. Jika menngunakan rumus seprti diatas, maka akan diperoleh nilai marjin laba kotor sebesar 62.5% dari perhitungan dibawah ini.

Semakin besar angka margin laba kotor, maka akan semakin baik pula kinerja dari perusahaan. Dan sebaliknya, semakin kecil angka margin dari laba kotor, maka akan semakin kurang baik perusahaan tersebut dalam mengelola operasionalnya. Perusahaan yang memiliki rasio margin laba kotor tertinggi artinya adalah jarak antara nilai harga pokok penjualan dengan harga jual yang ditetapkan relatif jauh berbeda.

2. Rasio Margin Laba Bersih (Net Profit Margin).

Margin laba kotor (Net Profit Margin) berfungsi untuk mengukur sampai seberapa optimal perusahaan dalam mengelola laba bersihnya setelah pajak. Rasio ini akan membandingkan antara jumlah laba bersih dengan total pendapatan. Formula perhitungannya hampir sama dengan cara untuk menghitung Margin laba kotor, bedanya adalah yang menjadi penilaian berupa nilai laba bersihnya.

Seperti contoh berikut yang bukan merupakan perhitungan, akan tetapi berupa perbandingan cara menilai kinerja terbaik perusahaan melalui rasio Margin Laba Bersih.

Dari keempat perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama tersebut, hanya ada satu yang mencatatkan bagaimana kinerja operasional terbaiknya, yaitu PT. Duta Sarana. Meski nilai penjualan PT. Duta Saran adalah yang paling rendah diantara perusahaan lainnya, namun perusahaan ini mampu menghasilkan kinerja yang lebih efisien.

3. Rasio Modal Terhadap Laba (Return On Equity (ROE).

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal yang dimiliki oleh perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio ini lebih sering digunakan oleh para pemegang saham, karena mereka ingin mengetahui sampai seberapa optimal kinerja dari pihak manajemen dalam memanfaatkan modal yang sudah disetor untuk menghasilkan laba.

Indikator perusahaan yang lebih baik dalam memanfaatkan modalnya, yaitu tampak pada angka rasio yang jauh lebih tinggi. Jika nilai rasio yang didapatkan sangat kecil, maka itu artinya perusahaan tidak mampu mengelola modalnya degan lebih efisien. “Akan tetapi jika hanya mengevaluasi ROE untuk mengukur kinerja perusahaan akan dapat memberikan gambaran yang masih kurang tepat.”
Jika calon Investor melakukan seleksi perusahaan untuk tujuan investasi, maka sebaiknya harus lebih memperhatikan tingkat arus kas bebas (Free cash Flow).  Nilai kas setelah dikurangi belanja modal seperti membayar gaji karyawan, biaya produksi, tagihan, utang dan bunganya, pajak, dan lain sebagainya.

Rasio (ROE) seperti ini juga ada kaitannya dengan hutang yang dimilki oleh perusahaan. Jumlah ekuitas perusahaan tidak hanya bersumber dari modal yang disetor saja, akan tetapi juga ada yang berasal dari hutang. Jika nilai yang didapat dari rasio ROE ini lebih tinggi, maka seorang analis sebaiknya memperhatikan jumlah kewajiban hutang perusahaan. Boleh jadi kegiatan operasional perusahan menjadi lebih banyak didukung oleh dana yang berasal dari hutang apabila dibandingkan dari modal disetor. Sehingga kinerja perusahaan menjadi tidak relevan jika diukur hanya menggunakan modal yang disetor saja.

Terima kasih telah berkunjung ke website kami, itulah sedikit penjelasan yang terkait dengan rasio profitabilitas. Bagi para pembaca sekalian yang ingin mengetahui secara lebih mendalam seputar rasio profitabilitas, membutuhkan konsultasi masalah manajemen, Memerlukan Pembenahan Standar Operationa Procedure (SOP) dan membutuhkan software accounting silahkan menghubungi groedu@gmail.com atau kontak ke 081-252-982900 atau 081-8521172. Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada kelanjutan dari pembahasan artikel ini yang selanjutnya.

TIPS UNTUK PEMBUKUAN AKUNTANSI FOOD BEVERAGES BUSINES (USAHA MAKANAN DAN MINMAN) YANG LEBIH SEDERHANA DAN SIMPLE

Kunci utama dari sebuah bisnis restoran agar bisa sukses adalah sederhana, yaitu dari keuntungan. Berbisnis restoran, biasanya bisnis makanan dan minuman juga harus terus memutar uang agar bisa membuat bisnisnya mampu bertahan, dan dalam rangka untuk menghasilkan banyak uang, pemilik bisnis juga perlu untuk mengetahui tentang bagaimana sistem akuntansi dasar dari sebuah restoran untuk mengontrol arus kasnya, mengurangi tingkat kerugian dan lebih memaksimalkan keuntungan mereka. Melacak keuangan Anda akan mampu menempatkan Anda agar berada di tempat yang lebih baik untuk memantau bagaiamana arus kas dan menjadikan bisnis Anda dapat bertahan dalam waktu yang lebih lama.

1. Melakukan manajemen terhadap arus kas restoran.

Mengelola arus kas yang berarti juga harus melacak semua uang yang telah masuk dan keluar dalam bisnis makanan dan minuman Anda. Memperkirakan bagaimana arus kas di masa depan akan bisa menjadi permainan tebak-tebakan sampai Anda benar-benar mampu untuk bisa mendapatkan pola bisnis restoran/makanan dan minuman Anda, atau ketika Anda sedang membandingkan uang yang telah masuk dengan uang yang sudah keluar. Pada dasarnya, setiap bisnis akan selalu berusaha untuk mendapatkan income yang lebih dari segala biaya yang selama ini telah dikeluarkan. Ketika sebuah bisnis akan mampu menjadi lebih banyak menghasilkan uang daripada menghabiskannya, maka dari itu akan semakin memaksimalkan laba bersih dan perusahaan Anda akan tetap terus bertumbuh.

2. Menjaga rekap dari setiap transaksi.

Merekam bagaimana perputaran dari arus kas Anda, juga termasuk pendapatan dan beban, memang sangat penting untuk sebuah prosedur akuntansi bisnis Anda. Penghasilan yang dalam hal ini sudah mencakup semua uang tunai, kartu kredit dan juga berbagai penjualan cek yang sudah diterima. Biaya yang telah keluar juga harus tetap dicatat dengan bantuan dari penggunaan nota dan faktur. Sistem Point of Sale (POS) Anda biasanya akan mampu melacak semua kartu kredit dan uang tunai hasil dari penjualan, dan semua penerimaan juga harus segera diajukan dan dicatat dalam dokumen laba rugi (Profit & Loss Document). Hal semacam ini juga sangat penting untuk menjadikan Anda tidak sampai menutup mata”pada jumlah persediaan Anda saat ini.

3. Mengelola inventaris perusahaan.

Persediaan dalam berbisnis makanan dan minuman meliputi bahan baku, mesin pengolah, dan juga berbagai jenis produk dan bahan-bahan yang sudah Anda miliki di tangan untuk menghasilkan makanan dan minuman yang terbaik. Persediaan merupakan faktor terpenting dalam pengelolaan akuntansi perusahaan makanan dan minuman, karena merupakan sebuah investasi dan persediaan yang paling banyak dibutuhkan untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Anda harus selalu mempertimbangkan bagaimana inventaris Anda sebagai kas dalam bentuk yang berbeda-beda, dan mampu menghitung secara lebih konsisten dan serba menyeluruh.

4. Perhitungan untuk Laba Rugi (Profit & Loss).

Dokumen dari laba rugi sebuah bisnis makanan dan minuman yang berfungsi sebagai laporan untuk dapat meringkas pendapatan, biaya dan persediaan, menggambarkan tingkat keuntungan total dan kerugian dari bisnis selama masa periode waktu tertentu. Hal terbaik untuk mempersiapkan dokumen semacam ini adalah untuk setiap minggu jika memang memungkinkan. Hal seperti ini akan menjadikan Anda semakin lebih mudah untuk melacak angka untuk membandingkan setiap masing-masing laporan dari bulan ke bulan berikutnya, bahkan dari tahun ke tahun berikutnya. Selain itu, laporan dari laba rugi bersih dari semua informasi yang lebih relevan dengan arus kas Anda, termasuk juga dari penjualan dan upah tenaga kerja Anda.

5. Penggunaan program Akuntansi Online (Berbasis cloud).

Meskipun untuk jenis bisnis makanan dan minuman sendiri mungkin memiliki staf akuntan yang tersedia untuk melakukan masing-masing pekerjaannya, banyak diantara beberapa bisnis restoran  makanan dan minuman yang menggunakan program komputer untuk membantu merekam segala informasi keuangan mereka. Software terbaik termasuk juga dengan menggunakan sistem Point of Sale (POS), software keuangan, dan juga beberapa perangkat lunak untuk mengintegrasikan kinerja dari keduanya. Sistem yang sudah serba terintegrasi seperti ini akan dapat semakin mengurangi beban, bahkan menghilangkan biaya operator dan membantu mereka sepenuhnya dalam hal menganalisis keuangan mereka dengan cara menjalankan dan menganalisa setiap laporan keuangan secara lebih komprehensif. Bagi para pembaca yang memang membutuhkan bimbingan seputar pengelolaan SDM, maka silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

STRATEGY MENGURANGI BIAYA AKUNTAN UNTUK MEMPERCEPAT PROSES PENUTUPAN LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

Laporan keuangan yang terdiri dari beberapa pos dan fungsi-fungsi tertentu. Setiap fungsi yang dikerjakan oleh satu orang staff. Sehingga untuk dapat menutup laporan keuangan juga tidak bisa hanya lebih mengandalkan kecepatan kinerja dari satu orang staff saja, akan tetapi membutuhkan kerjasama tim yang lebih solid.

Agar proses penutupan laporan keuangan bisa menjadi lebih cepat, maka dibutuhkan adanya koordinasi dalam sebuah tim. Misalnya untuk mempermudah dalam hal pemberian approval, Main set sistem agar mampu melakukan cross chek secara otomatis, meringkas pekerjaan yang lebih bervarisi, dan menetapkan scedul kerja yang saling melengkapi satu sama lain dalam sebuah tim.

Mempercepat pemberian approval sebenarnya dapat dilakukan hanya dengan mengurangi tingkat pengendalian. Sebuah dokumen pengajuan yang biasanya harus disetujui oleh 6 orang atau lebih, seperti Senior 1, Senior 2, Super visor 1, Supervisor 2, Manager 1, Manager 2, masih dapat dirubah hanya menjadi 3 orang saja, yaitu Senior, supervisor dan manager.

Menghindari agar tidak sampai mengerjakan pekerjaan yang hampir sama saja secara berulang-ulang, masih dapat dilakukan hanya dengan cara membentuk kerangka kerja yang mampu menyediakan pengendalian dari berbagai macam sisi. Misalnya agar mampu dalam melakukan cross check antar setiap masing-masing departemen.

Meningkatkan efektifitas dari akuntan hanya dapat diperoleh dengan cara meringkas job deskripsi dari para akuntan agar tidak sampai menjadi bervariasi. Misalnya, seorang staff yang bertanggung jawab atas aktiva perusahaan juga harus diberikan tangungjawab untuk menghitung biaya depresiasinya.

Memberikan Pelatihan Kepada Para Staff Accounting

Pemberian pelatihan kepada para staff accounting memang sangat bermanfaat, karena untuk seorang staff accounting yang memegang tanggungjawab atas berbagai pencatatan transaksi keuangan perusahaan. Tujuan dari pelatihan tersebut adalah untuk memberikan pemahaman secara penuh atas sistem dan proses aliran kerja perusahaan, paling tidak pada hal-hal yang telah muncul hanya pada layar monitor saja.

Untuk mengurangi terjadinya resiko kesalahan perusahaan yang dapat menyediakan sistem yang lebih bersifat Demonstration, hasil sistem masukan dari sistem yang tidak berpengaruh pada sistem lainnya. Digunakan oleh staff yang masih menjalani masa percobaan/training, sebagai salah satu cara untuk pendekatan dalam menyelesaikan berbagai permasalah tanpa adanya resiko. Manfaatkan training untuk para staff accounting juga dapat mengurangi biaya lembur, meningkatan efisiensi biaya, untuk membantu perkembangan dan semangat bekerja para karyawan.

Memperbaiki Pelaporan Akuntansi Perusahaan

Biasanya seorang manajer keuangan baru, seringkali melakukan sedikit perubahan pada tampilan dari laporan databasenya. Seorang manajer keuangan dapat memperbaiki template laporan database dengan bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Pekerjaan yang paling menantang ini dipercaya akan mampu dalam mempercepat terjadinya penutupan dari pelaporan keuangan. Hal terpenting dalam hal perbaikan template, yaitu dengan cara memberikan pengendalian untuk menciptakan keakuratan data-data yang lebih baik.

Mendapatkan Data Akuntansi Yang Lebih Baik

Kunci utama dalam mendapatkan data base yang lebih baik adalah dengan cara berkomunikasi. Melalui komunikasi, penjelasan atas bebagai perlakuan transasksi dapat diperoleh dengan baik. Sehingga apabila dimintai penjelasan akan menjadi lebih mudah untuk menyampaikannya.

Merampingkan Proses Closing Perusahaan

Manajemen yang dapat melakukan eliminasi terhadap beberapa posisi tertentu. Kemudian memberikan pelatihan kepada mereka agar dapat bekerja pada tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi lagi. Staff tersebut harus mampu menunjukan adanya sebuah peningkatan kemampuan terlebih dahulu. Meskipun sebenarnya  terdengar sedikit tidak bermoral, namun bagi perusahan dapat menyimpan lebih banyak uangnya.

Pada beberapa kasus ini, misalnya untuk melakukan pekerjaan rekonsiliasi perusahaan, maka tidak perlu untuk melakukan penambahan staff untuk melakukannya. Agar segala beban dapat berkurang, maka biasanya seorang staff akan dipaksa untuk mengerjakan rekonsiliasi sampai harus lembur.

Pada kasus lain, seorang manager yang memberikan tambahan kewajiban pada seorang staff atas penerapan perangkat lunak (Software) akuntansi baru. Tujuannya adalah agar staff tersebut dapat meneruskan informasinya kepada staff lainnya, meskipun malah menjadikan beban kerjanya menjadi semakin lebih berat.

Tidak semua accoounting software dapat sesuai dengan alur proses dari bisnis perusahaan. Pemilihan software juga harus mampu untuk lebih mempersingkat alur informasi akuntansinya. Apabila perusahaan memang berencana ingin mengganti software akuntansinya, maka diharapkan tidak banyak merubah aliran informasi. Misalnya setelah penerapan software akuntansi baru, seorang staff yang biasanya menangani hutang akan dipindahkan ke bagian piutang. Dengan perpindahan tersebut, maka manajemen akan dapat  memperbaiki kinerja piutangnya.

Pada saat terdapat seseorang staff yang mengundurkan diri, maka pekerjaan tersebut harus segera diisi dengan staff baru. Manajemen dapat membagi pekerjaan tersebut kepada dua orang staff lainnya sambil menuggu staff baru untuk bergabung dengan perusahaan. Dan tampaknya strategi seperti ini dapat lebih menekan beban keuangan perusahaan, namun pihak manajemen juga perlu untuk lebih mempertimbangkan sistem pengendalian internalnya.

Setelah dijelaskan tentang beberpa cara untuk bisa mengurangi beban yang berkaitan dengan akuntan. Lalu sekarang bagaimana caranya agar strategi tersebut bisa berhasil…? Sebuah pertanyaan sekaligus berupa kritikan yang harus bisa dijawab… berikut ini adalah kebijakan yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen.

Menyesuaikan kompensasi. Setelah mengurangi jumlah staff, melatihnya, kemudian menaikan gaji staff tersebut. Hal ini tidak akan sama dengan memperkerjakan seorang staff baru, karena nanti hasilnya juga akan berdampak pada biaya turnovernya. Selain itu insentif tambahan juga dapat menambah motivasi dan produktivitas dari para karyawan.

Memperbaiki peralatan. Misalnya dari adanya pengurangan staff karena disebabkan suatu peyesuaian dengan software accounting baru. Maka tentunya pemilihan software baru tersebut juga harus mampu untuk lebih mempersingkat dari sistem aliran dokumennya. Sehingga dengan sistem yang lebih baru tersebut akan dapat lebih meningkatkan efektifitas kinerja dan efisiensi biayanya.

Memperbaiki prosedur. Perbaikan prosedur juga dapat dilakukan dengan cara mengeliminasi tugas-tugas yang sebenarnya tidak memberika nilai tambah. Misalnya dalam prosedur pencatatan hutang usaha dimana pihak manajemen dapat membuat sebuah kebijakan dengan cara merubah pelaporan dengan hard copy yang diganti menjadi e-mail.

Nah, itulah sedikit penjelasan yang terkait dengan proses pengelolaan Beban dari departemen Accounting. Diharapkan setelah membaca artikel ini para pembaca sekalian akan mampu mengendalikan biaya tersebut, dan mampu mengalokasikan pada kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Bagi para pembaca sekalian yang membutuhkan bimbingan seputar pengelolaan SDM, silahkan menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

KOMPONEN-KOMPONEN DAN LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN DALAM SIKLUS AKUNTANSI (ACCOUNTING CYCLE)

Komponen-komponen pembentuk laporan keuangan, seperti: laporan posisi keuaangan, laporan kinerja keruangan, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan merupakan beberapa komponen terpenting yang ada di dalam laporan keuangan. Pada artikel kali ini praktisi software akuntansi akan sedikit membahas tentang bagaimana proses untuk pembentukan laporan keuangan. Proses tersebut sampai sekarang lebih dikenal dengan sebutan siklus akuntansi.

Siklus akuntansi (Accounting Cycle) merupakan sebuah alur siklus yang akan diawali dengan cara melakukan jurnal dan analisis atas bukti-bukti transaksi yang sudah terjadi sampai dengan melaporkannya dalam bentuk laporan keuangan. Pembuatan laporan keuangan sendiri akan digambarkan pada beberapa penjelasan seperti dibawah ini:

1. Menerima bukti-bukti transaksi.
2. Bukti transaksi yang sebelumnya telah diterima yang kemudian akan dianalisis untuk menentukan tentang bagaimana perlakuan akuntansinya.
3. Setelah jurnal sudah dibuat, maka transaksitransakss tersebut akan langsung terkumpul di dalam satu laporan jurnal umum. Laporan ini berisikan tentang semua transaksi-transaksi yang sebelumnya telah dijurnal pada periode waktu tertentu. Jurnal umum yang berfungsi untuk mencatat berbagai transaksi-transaksi untuk pertamakalinya, transaksi yang sudah tercatat berdasarkan pada waktu terjadinya transaksi tersebut. Secara berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya (Kronologis transaksi).
4. Setiap transaksi yang selanjutnya akan dikelompokan pada laporan buku besar berdasarkan dari kebijakan pihak manajemen. Buku besar yang berisikan tentang bermacam-macam pos dari sekian jenis transaksi yang sebelumnya telah dibukukan.
5. Dengan berdasarkan informasi pada buku besar, maka Buku besar pembantu akan dapat dibuat untuk menyajikan rincian dari buku besar. Biasanya lebih sering disebut dengan buku besar pembantu, buku besar khusus untuk menjelaskan setiap masing-masing pos tertentu.

Misalnya untuk transaksi penjualan yang dapat dikelompokan berdasarkan nama-nama konsumen, informasi yang telah didapatkan akan disampoaikan di dalam  buku besar pembantu penjualan sebagai berikut :

• Tanggal terjadinya transaksi penjualan.
• Nomor faktur yang sudah digunakan untuk membeli (jika penjualan dilakukan secara kredit).
• Nama pembeli, dapat perorangan maupun badan.
• Jumlah nominal rupiah yang telah diterima/di bayarkan.
• Buku besar penerimaan uang yang dapat dikelompokan berdasarkan pada sumber uang yang sudah diterima. Informasi yang dapat disampaikan dalam buku besar pembantu adalah berupa penerimaan sebagai berikut :

• Tanggal kas diterima.
• Keterangan atas penerimaan kas.
• Pos pada rekening mana saja yang perlu di lakukan penambahan (Debet). Misalnya seperti peneriman kas, Bank A, Bank B, dan Bank C.
• Pos pada rekening mana saja yang merupakan sumber penerimaan kas (Kredit). Misalnya penerimaan dari penjualan, pelunasan piutang dan lain sebagainya.

Buku besar Pengeluaran uang dapat dikelompokan berdasarkan pada bermacam-macam pos yang menyebabkan terjadinya pengeluaran uang. Berbagai informasi yang akan dapat disampaikan dalam buku besar pembantu pengeluaran uang adalah sebagai berikut :

• Tanggal terjadinya transaksi pengeluaran uang.
• Nomor cek ke berapakah yang berhubungan langsung dengan pengeluaran uang.
• Pos-pos manakah yang bertambah karena disebabkan oleh adanya pengeluaran uang, misalnya seperti peralatan kantor, persediaan, berkurangnya hutang dan lain sebagainya.
• Pos-pos manakah yang telah berkurang dari kelompok pos kas dan setara kas akibat dari pengeluaran uang, misalnya dari kas conter, Bank A, Bank B, atau Bank C.

Buku besar pembelian dapat dibentuk hanya berdasarkan pada nama suplier. Informasi  yang dapat disampaikan dalam buku besar pembantu pembelian adalah sebagai berikut :

• Tanggal terjadinya pembelian.
• Nomor order ke berapakah yang berhubungan langsung dengan pembelian.
• Nama supliernya.
• Barang yang sudah dibeli.
• Jumlah rupiah dari transaksi pembeliannya.

6. Saldo akhir pada setiap pos di dalam buku besar dapat digunakan untuk membentuk neraca lajur, kertas kerja akuntansi untuk membentuk laporan keuangan.
7. Setelah terbentuk neraca lajur, kita akan bisa membuat neraca saldo. Neraca Saldo yang merupakan daftar dari rekening-rekenig buku besar bersaldo debet dan kredit. Neraca saldo juga dapat berfungsi untuk memeriksa keseimbangan antara nilai debet dan kredit yang sudah tercatat  dalam buku besar. Karena itulah maka neraca saldo seperti ini masih belum dipengaruhi sepenuhnya oleh jurnal penyesuaian, maka neraca saldo ini biasanya lebih sering disebut dengan neraca saldo sebelum penyesuaian. Membuat neraca saldo terlebih dahulu merupakan cara paling awal sebelum akan membuat ayat jurnal penyesuaian.
8. Setelah neraca lajur dibuat, maka bukti penyesuaian akan dikumpulkan. Setelah semua bukti-bukti terkumpul, maka selanjutnya kita bisa melakukan penyesuaian. Biasanya untuk penyesuaian yang berkaian dengan transaksi akrual. Misalnya seperti: Biaya yang dibayar terlebih dahulu untuk beberapa bulan kedepan harus diakui aktualisasinya untuk bulan ini, yaitu besarnya nilai yang harus dibebankan untuk bulan periode berjalan. Selain beban, pendapatan juga perlu dilakukan penyesuaian untuk menentukan besarnya pendapatan yang sudah diakui untuk periode berjalan.
9. Penyelesaian atas penyesuaian transaksi akan membentuk neraca saldo setelah penyesuaian. Neraca saldo ini lebih lengkap informasinya dibandingkan sebelum dilakukan penyesuaian. Perlu di perhatikan bahwa dalam melakukan proses ini, diperlukan adanya tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi agar proses pembentukan laporan keuangan bisa lebih tepat.
10. Laporan keuangan pertama kali yang dibuat adalah laporan kinerja keuangan (Financial Statement). Biasanya disebut dengan laporan laba rugi. Laporan ini akan menunjukan bagaimana kinerja perusahan yang akan ditunjukan dengan besarnya laba (rugi) pada periode tertentu. Besarnya angka laba akan ditentukan dengan cara mengurangkan besarnya pendapatan yang sudah diterima dengan beban-beban yang terjadi. Penyususnan laporan laba rugi seperti ini menggunakan prinsip matching konsep, yaitu menandingkan antara pendapatan dengan beban untuk memperoleh pendapatan itu sendiri.
11. Setelah laporan laba rugi sudah terbentuk, maka selanjutnya adalah dengan membuat Laporan Neraca. Nilai angka laba yang sudah terbentuk dari kinerja peusahaan akan langsung terakumulasi dengan nilai ekuitas, laba berjalan. Pos-pos pada neraca yang menggambarkan saldo akhir dari jumlah kekayaan perusahaan dan kewajibannya.
12. Laporan perubahan dari ekuitas yang kemudian bisa dibentuk, setelah terbentuknya laporan Neraca dan laporan laba rugi.
13. Laporan perubahan arus kas yang berisikan tentang perubahan dari arus kas dari berbagai aktifitas operasional, aktifitas investasi dan aktifitas pendanaan yang dapat diselesaikan setelah laporan perubahan ekuitas sudah terbentuk.
14. Menyiapkan penjelasan atas laporan keuangan, yang dapat disajikan di dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan yang berisikan tentang rincian atas pos-pos yang telah disajikan di dalam laporan keuangan dan berbagai macam kebijakan yang sudah digunakan oleh perusahaan.
15. Setelah beberapa proses diatas sudah diselesaikan, maka selanjutnya harus membuat jurnal penutup.

Nah, itulah beberapa penjelasan tentang bagaimana cara dalam menyiapkan laporan keuangan. Semoga bisa bermanfaat dalam menambah wawasan Anda sekalian tentang memberikan informasi kinerja perusahaan kepada para pengguna laporan keuangan. Mungkin setelah membaca artikel ini para pembaca sekalian masih merasa kesulitan dengan bagaimana cara untuk membuat laporan keuangan.

Bagi para pembaca yang perusahaannya belum memiliki aplikasi perangkat untuk membuat laporan keuangan, maka kami menyediakan software accounting (Finance and Accounting Software). Software tersebut dapat menyiapkan laporan keuangan yang dibutuhkan perusahaan Anda dan semakin memudahkan pekerjaan Anda. Silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda sekalian.

Scroll to top