Kategori: Serba – Serbi

TATA CARA DALAM MELAKUKAN INITIAL PUBLIC OFFERING/IPO (2) PENAWARAN UMUM SAHAM PERDANA DARI PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan melanjutkan pembahasan artikel yang lalu yang berjudul: TATA CARA TENTANG BAGAIMANA DALAM MELAKUKAN INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO) PENAWARAN UMUM SAHAM PERDANA PERUSAHAAN. Pada pembahasan sebelumnya praktisi software akuntansi telah menjelaskan tentang hal-hal utama yang perlu untuk dilakukan oleh para calon emiten agar dapat menjadi perusahaan Go Publik. Tahapan yang dilakukan adalah persiapan, mengajukan niat untuk mendaftar, menawarkan saham lalu kemudian mencatatkan saham pada bursa efek.

Tentang tahapan persiapan, pada artikel lalu juga sudah dibahas bahwa para calon emiten perlu mempersiapkan segala kebutuhan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Setelah dokumen sudah dipersiapkan, maka struktur keuangan perusahan akan diperbaiki, lalu kemudian melakukan rapat umum para pemegang saham untuk meminta persetujuan dari mereka. Tentang langkah-langkah tersebut harus dilakukan secara bersama-sama dan sebagai persiapan awal.

Setelah persiapan awal sudah dilakukan, maka perusahaan akan mulai melangkah kepada tahapan selanjutnya, yaitu menunjuk lembaga-lembaga pasar modal untuk membantu dalam mengurus dan mendukung terlaksananya proses penawaran saham perdana. Lembaga tersebut meliputi Penjamin emisi (Underwariter), Akuntan Publik (Auditor Independen), Konsultan hukum, Notaris dan biro administrasi.

Nah, Itulah tahap-tahap untuk persiapan yang harus dilakukan untuk melakukan Penawaran Saham Perdana Initial Public Offering (IPO). Sekarang kita akan melanjutkan pembahasan pada tahapan untuk pengajuan Pernyataan Pendaftaran.

TAHAP PENGAJUAN PERNYATAAN PENDAFTARAN

Pada tahap ini, calon emiten harus melengkapi dokumen-dokumen pendukung untuk menyampaikan Pernyataan Pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga OJK memberian pernyataan bahwa Pernyataan Pendaftaran telah efektif.

Untuk menjadi perusahaan publik yang sahamnya sudah tercatat dan diperjual belikan pada bursa efek Indonesia (BEI), perusahaan harus mengajukan permohonan untuk mencatatkan saham, melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan, antara lain adalah:

 Profil perusahaan (Company Profile). Laporan yang berisikan tentang latar belakang perusahaan seperti sejarah berdirinya, fakta terkini dan visi misi perusahaan.
 Laporan keuangan (Financial Statement). Laporan yang memberikan informasi tentang bagaimana kinerja keuangan yang telah diperiksa oleh Auditor Independen.
 Opini Hukum.
 Proyeksi Keuangan. Laporan yang berisikan tentang anggran perusahaan yang meliputi perkiraan pendapatan dan biaya yang akan terjadi di masa depan.

Perusahan juga wajib untuk menyampaikan permohonan pendaftaran saham untuk dititipkan secara kolektif (Scirpless) dikustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Surat pernyataan yang sudah diajukan oleh para calon emiten akan di evaluasi ulang oleh Bursa efek Indonesia BEI dan akan mengundang beberapa lembaga pasar modal untuk mempresentasikan profil perusahaan seperti Under writer/penjamin emisi dan Profesi penunjang. Evaluasi perusahan juga meliputi kunjungan dari tim Bursa Efek Indonesia ke kantor perusahaan calon emiten untuk menilai kegiatan usaha calon emiten dan relevansinya dengan rencana IPO. Bursa efek Indonesia akan memberikan persetujuan prinsip berupa Perjanjian Pendahhuluan Pencatatan Saham kepada perusahaan ketika Bursa Efek Indonesia telah menentukan bahwa permohonan dari para calon emiten sudah diterima. Bersamaan dengan pengajuan permohonan ke Bursa efek Indonesia calon emiten juga harus mengajukan permohonan kepada Otoritas Jasa Keuanga Indonesia (OJK).

OJK akan mengevaluasi fakta-fakta material tentang penawaran saham, kondisi keuangan dan kegiatan usaha perusahaan yang diungkapkan melalui prospektus. Propektus adalah berupa Gabungan antara Profil perusahaan dengan laporan keuangan yang akan disajikan dalam satu dokumen untuk memberikan gambaran tentang saham yang sedang ditawarkan.

Prospektus yang berisikan tentang reksadana, saham, obligasi, dan jenis investasi-investasi lainnya. Selain itu prospektus juga berisikan tentang Laporan keuangan, profil dewan direksi dan juga dewan komisaris, rincian informasi tentang kompensasi mereka, masalah-masalah yang seringkali harus dihadapi oleh perusahaan dan informasi-informasi penting lainnya yang lebih bersifat material. Sebuah prospektus yang baik juga harus memuat tentang fakta-fakta yang lebih material. Keberhasilan dalam mendapatkan investor juga masih tergantung pada prospektus yang sudah disajikan. Prospektus ini akan langsung didistribusikan oleh penjamin emisi (Under writer) atau pialang saham (broker) terhadap investor potensioal. Sehingga harapan dari emitan atas saham yang sudah dilepas dapat langsung terserap semuanya oleh pasar.

Peraturan tentang prospektus ini telah diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal. Berdasarkan peraturan Bapepam lebih dikenal dengan beberapa tahapan prospektus di Indonesia yaitu:

Prospektus Awal

Prospektus ini digunakan hanya untuk mengukur minat dari pasar (book buiilding) terhadap para calon emiten. Prospektus ini berisikan tentang keseluruhan informasi yang perlu disampaikan kepada Bapepam kecuali Informasi penawaran, seperti nilai nominal, jumlah dan harga penawaran, efek penjamin efek, penjamin emisi, efek tingkat suku bunga, obligasi.

Prospektus ringkas

Prospektus ini lebih banyak memberikan informasi tentang ringkasan dari fakta-fakta dan berbagai pertimbangan. Informasi yang sudah diungkapkan pada prospektus ini berisikan tentang semua perkiraan yang berhubungan langsung dengan hak dan kewajiban dari para calon investor.

Prospektus final

Sebuah Prospektus yang akan dipublikasikan setelah Bapepam yang isinya menyatakan bahwa efektifitas atas Pernyataan Pendafataran yang telah diajukan oleh para calon emiten.

Prospektus yang disebutkan di atas akan diterbitkan oleh calon emiten menjelang perusahaan IPO.

Nah, itulah beberapa tips seputar bagaimana cara dalam melakukan Initial Public Offering (IPO) Penawaran umum saham perdana. Apabila pembaca ingin memahami dengan lebih mendalam tentang tata cara IPO, membutuhkan konsultasi seputar manajemen, dan membutuhkan Software Accounting pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900 (Owner) atau 081-8521172 (Office). Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya, terimakasih.

JENIS AUDIT DAN DAMPAK BURUK JIKA PEUSAHAAN SAMA SEKALI TIDAK PERNAH MELAKUKAN PROSES AUDIT INTERNAL

Berbicara tentang penyusunan laporan keuangan dalam sebuah organisasi perusahaan menurut Implementor software akuntansi sudah menjadi satu hal yang sangat wajib untuk dilakukan dan merupakan sarana terbaik dalam memenuhi berbagai kebutuhan akuntabilitas dan keterbukaan yang sudah disyaratkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadapnya. Laporan keuangan tersebut merupakan sumber informasi terbaik yang harus benar-benar menunjukkan bagaimana posisi keuangan perusahaan yan sebenarnya, kinerja dan berbagai perubahan posisi keuangan yang sudah digunakan sebagai dasar utama dalam hal pengambilan keputusan. Karena itu laporan keuangan berperan besar dalam keberlangsungan hidup dari perusahan, sehingga laporan keuangan yang akan disajikan diharapkan memiliki jaminan tentang kebenaran dan keakuratannya.

Namun saat ini Implementor software akuntansi akan lebih berfokus tentang audit dan beberapa kerugian yang akan didapatkan oleh perusahaan jika sama sekali tidak pernah melakukan proses audit pada internal operasional proses bisnisnya. Seiring dengan semakin cepatnya laju pertumbuhan perusahaan, maka tindakan audit semakin dibutuhkan karena adanya kebutuhan dari pihak pemerintah, para pemegang saham, pihak analis keuangan, para investor, dan juga publik untuk menilai bagaimana tingkat performa dari manajemen operasional perusahaan yan sudah berjalan selama ini. Dan upaya yan dilakukan untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut, maka dibutuhkan adanya proses audit manajemen sebagai salah satu sarana yang lebih reliable atas pertanggungjawaban dalam hal memberikan analisis, penilaian, dan rekomendasi atas berbagai aktivitas yang sudah dikerjakan selama ini.

Pada dasarnya, terdapat dua macam jenis audit yang sudah banyak diterapkan dalam internal perusahaan, yaitu:

1. Audit Internal.

Audit internal merupakan berbagai tindakan aktivitas dalam hal penjaminan dan konsultasi secara independen serta lebih obyektif yang telah didesain untuk memberikan nilai tambah dalam upaya untuk lebih meningkatkan operasional perusahaan. Audit internal sangat membantu perusahaan dalam mencapai tujuannya melalui adanya pendekatan yang lebih tersistematis agar dapat melakukan evaluasi dan upaya untuk meningkatkan efektivitas dari manajemen terhadap adanya resiko, pengendalian, dan juga terhadap proses tata kelola. Perusahaan yang sudah mempekerjakan auditor internal untuk melakukan audit keuangan maupun operasional.

2. Audit Eksternal.

Sedangkan untuk audit eksternal merupakan tinjauan atau berupa review terhadap adanya laporan keuangan perusahaan yang telah dilakukan oleh para tenaga profesional dan juga independen (KAP/Kantor Akuntan Publik) yang tidak keterkaitan sama sekali dengan perusahaan tersebut. Audit eksternal seperti ini memiliki peran yang lebih besar dalam hal pengawasan terhadap bagaimana kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya karena sudah dilakukan oleh para tenaga professional yang lebih berkompeten dalam bidangnya di luar perusahaan, sehingga diharapkan dapat memberikan penilaian yang jauh lebih obyektif.

Lalu dampak buruk seperti apa yang nantinya akan terjadi jika pada kenyataannya perusahaan sama sekali tidak pernah dilakukan proses diaudit?

1. Kredibilitas dan kinerja perusahaan yang sudah berjalan selama ini akan dinilai tidak baik di hadapan para pemegang saham, pihak investor, dan pemerintah karena tidak menyajikan laporan keuangan yang lebi terpercaya dan valid.

2. Beresiko besar untuk terjadinya tindakan-tindakan kecurangan yang selama ini banyak dilakukan oleh sebagian pihak dari manajemen yang tidak bertanggungjawab.

3. Tidak memiliki dasar yang lebih bisa dipercaya untuk menyiapkan surat-surat pemberitahuan pajak yang telah diserahkan terhadap pihak pemerintah.

4. Menghadapi berbagai hambatan dalam hal permodalan yang terlebih lagi jika sebagian besar menggunakan sumber pembiayaan dari luar perusahaan.

Tidak bisa disangkal lagi jika dunia usaha memiliki kepentingan yang begitu besar terhadap proses auditing. Proses audit dimaksudkan dalam upaya untuk lebih meningkatkan nilai informasi yang akan didapatkan dari proses akuntansi dengan cara melakukan berbagai macam penilaian  terhadap berbagai informasi tersebut, dan kemudian akan mengkomunikasikan hasil dari penilaian  terhadap pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan.

Dengan demikian, maka menurut Implementor software akan selalu ada saja kemungkinan-kemungkinan untuk ditemukan dan terjadinya kesalahan-kesalahan dalam sebuah informasi akuntansi, sehingga laporan keuangan yang telah dihasilkan tidak sampai menyesatkan dan dapat digunakan sebagai sebuah landasan dalam hal pengambilan keputusan yang lebih tepat. Untuk saat ini proses audit juga tidak lagi hanya sekedar untuk menemukan tindak kecurangan dalam hal penyajian-penyajian laporan keuangan oleh pihak manajemen, namun juga menjadi sangat penting karena adanya tuntutan dari pihak pemerintah, para investor, pihak pemegang saham, serta dari publik dalam menilai tentang bagaimana performa perusahaan selama ini. Apabila Anda membutuhkan informasi mengenai artikel ini lebih lanjut, atau membutuhkan pembimbingan mengenai set up Distributor, pembuatan SOP distributor, software accounting dan distributor, mohon bisa hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu!

PENGENDALIAN PENGELUARAN PERUSAHAAN DENGAN MEMANFAATKAN FASILITAS SOFTWARE ACCOUNTING

Perkembangan sebuah usaha untuk saat ini, baik dilihat dari sisi ruang lingkup maupun dari segi ukurannya yang semakin lebih mengarah kepada tingkat kompleks dan lebih meluasnya berbagai kegiatan dari usaha. Hal inilah yang menyebabkan pihak manajemen untuk tidak lagi bisa secara langsung turun tangan untuk mengendalikan berbagai kegiatan operasional perusahaan yang bertambah semakin kompleks tersebut.

Agar tetap bisa mengendalikan berbagai kegiatan perusahaan dengan lebih efektif, maka pihak manajemen harus lebih banyak untuk mengandalkan terhadap berbagai jenis pelaporan dan analisisnya.

Dan tentu saja hal-hal seperti ini bukannya tanpa mengandung resiko yang bisa jadi diakibatkan karena adanya kesalahan-kesalahan (errors) dan ketidakberesan (irregularities) yang mungkin saja akan terjadi dalam proses penyajian dari berbagai jenis laporan dan analisis keuangan perusahaan tersebut.

Dalam upaya untuk mengurangi berbagai resiko tersebut diatas, maka sebagai solusinya manajemen membutuhkan adanya alat pengendalian yang berupa pengendalian internal. Sebuah pengendalian internal yang mampu memfollow up segala urusan admisnistrasi dengan lebih cepat dan mampu dalam memberikan perlindungan terhadap berbagai kelemahan-kelemahan manusia (human errors) dan untuk mengurangi kemungkinan-kemungkinan terjadinya kesalahan-kesalahan dan dari ketidak beresan dalam penyajian berbagai jenis laporan dan analisis keuangan.

Hal itu sangat dimungkinkan karena dengan adanya fungsi pemeriksaan (check) dan peninjauan ulang (review) yang telah melekat terhadap pengendalian internal yang cukup memadai. Dengan menerapkan sistem pengendalian internal yang cukup memadai, maka diharapkan untuk selanjutnya akan mampu dalam dihasilkan laporan-laporan dan analisis-analisis yang bisa menjadi lebih diandalkan dalam hal pengambilan keputusan-keputusan strategi bisnis untuk kedepannya.

Pengendalian terhadap pengeluaran dalam sebuah perusahaan memang sangat penting karena adanya kontrol keuangan seperti ini berkaitan langsung dengan perencanaan berbagai kegiatan dimasa mendatang. Kontrol terhadap pengeluaran seperti ini juga berhubungan erat dengan keuntungan yang hendak ingin dicapai oleh setiap perusahaan terhadap produksi – produksi yang telah dipasarkan.

Kontrol keuangan seperti ini dapat dilakukan dengan cara membuat daftar pengeluaran perusahaan yang kemudian akan dituangkan ke dalam laporan keuangan perusahaan. Dengan adanya kontrol terhadap pengeluaran seperti ini, maka perusahaan akan mampu menentukan tentang tindakan-tidakan apa saja yang harus dilakukan terkait dengan perbandingan terhadap pengeluaran dan keuntungan. Selain itu dengan adanya kontrol terhadap keuangan seperti ini maka sebuah perusahaan akan mampu untuk lebih meminimalkan resiko terjadinya kerugian total terhadap bisnis.

Karena semakin berkembangnya dunia teknologi, terutama yang berhubungan dengan dunia program/software akuntansi saat ini dapat dengan mudah untuk membantu sebuah perusahaan dalam melakukan proses monitoring dan controlling terhadap berbagai pengeluaran perusahaan, sehingga akan dapat memberikan banyak sekali bantuan dalam hal pengambilan keputusan terhadap pihak manajemen perusahaan, apakah perusahaan ini telah mendapatkan target laba sesuai dengan yang diharapkan atau malah semakin merugi karena terlalu banyaknya pengeluaran dan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan yang tidak ter-controlling dengan lebih baik.

Jika sebuah perusahaan yang telah menggunakan suatu program/software akuntansi, maka akan dapat mengatur berbagai jenis pengeluaran dan akan dapat tercatat terhadap data-data program tersebut dan juga akan langsung tersajikan dalam berbagai bentuk laporan yang lebih sesuai, sehingga akan dapat menghemat banyak sekali waktu serta dapat lebih memudahkan suatu perusahaan dalam mengatur apapun seputar pengeluaran serta pendapatannya.

Secara garis besar, tugas-tugas yang mampu dilakukan oleh program akuntansi adalah sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data.

Proses ini diawali dengan cara menarik atau menangkap data-data perusahaan ke dalam sistem, kemudian dicatat, dan dikelompokkan berdasarkan setiap masing-masing kategori.

2. Memproses Data.

Tahapan selanjutnya adalah untuk pemrosesan data, data akan divalidasi, bisa juga dialih mediakan dan selanjutnya data tersebut akan terlebih dahulu disortir. Jika data termasuk kuantitatif maka selanjutnya penghitungan bisa langsung dilakukan.

3. Manajemen Data

Dalam manajemen data, terdapat berbagai macam aktivitas seperti halnya penyimpanan ke dalam arsip maupun untuk database, penyesuaian data dan retrif atau berupa pengambilan data kembali untuk diproses ulang agar bisa menjadi sebuah informasi.

4. Pengendalian dan Pengamanan Data-Data Perusahaan.

Tahap ini berfungsi untuk melindungi dan menjamin keamanan serta keakuratan dari suatu data karena dalam pemrosesan data yang seringkali terjadi kesalahan, hilang dan juga pencurian data-data penting perusahaan.

5. Pengadaan Informasi.

Merupakan penyampaian terhadap informasi atau berupa laporan yang cukup mudah untuk dipahami melalui jaringan komunikasi terhadap para penggunanya.
Apabila pembaca sekalian membutuhkan software Accounting, serta software HRD dan Payroll silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

RUMUS DAN PENGGUNAAN KURS TENGAH BI DAN KURS PAJAK BAGI PERUSAHAAN ASING DI INDONESIA

Kurs Tengah BI yang digunakan pada saat mencatat nilai konversi dari mata uang asing dalam laporan keuangan milik perusahaan dimana kurs ini seringkali digunakan oleh perusahaan-perusahaan asing yang sudah sudah lama atau yang baru akan beroperasi di Indonesia.

Pada kurs yang ada pada website BI, kita tidak akan bisa langsung mendapatkan informasi kurs tengah. Perlu adanya perhitungan yang matang terlebih dahulu untuk mengetahuinya. Adapun rumus dari perhitungan kurs tengah BI tersebut adalah sebagai berikut:

Rumus Kurs Tengah BI = Kurs Jual + Kurs Beli/2

Catatan: Kurs jual adalah (mata uang) yang ditambahkan dengan kurs beli (mata uang lalu dibagi dua (1+1)/2)

Contoh dari hasil pencatatan kurs tengah BI:

Saldo awal akun Kas dan Bank dalam mata uang Dollar (USD) adalah sebesar $ 2.345 apabila dikurskan dalam Rupiah adalah sebesar Rp 26.967.500,- dengan nilai kurs per 1 dollarnya adalah Rp 11.500,-. Pada setiap akhir tahun buku perusahaan nilai kurs per 1 dollarnya adalah Rp 12.500,- dengan diasumsikan bahwa saldo dari akun Kas dan Bank yang sama dengan saldo awal sebesar $ 2.345, jika di kurskan adalah menjadi sebesar Rp 29.312.500,-.

Saldo awal Kas dan Bank : Rp 26.967.500,-($1=11.500).
Saldo akhir Kas dan Bank : Rp 29.312.500,-($1=12.500).
Selisih kurs : Rp 2.336.000,-.

Jurnal akuntansi untuk kurs tengah BI

(Debet) Kas dan Bank Rp 2.336.000,-
(Credit) Keuntungan Selisih Kurs Rp 2.336.000,-

Keterangan : Kas dan Bank pada laporan neraca akan mengalami penurunan yang diakibatkan adanya konversi dari nilai kurs dollar kepada mata uang rupiah sebesar Rp 2.336.000,- yang semula adalah Rp 26.967.500,- menjadi sebesar Rp 29.312.500,- pada setiap akhir tahun (31 Desember). Sedangkan akun dari Kerugian selisih kurs akan semakin bertambah sebesar Rp 2.336.000,- yang nantinya akan sangat mempengaruhi terjadinya penurunan laba bersih milik perusahaan pada laporan laba ruginya.

Sedangkan Kurs Pajak merupakan nilai kurs yang nantinya akan digunakan sebagai Dasar utama untuk:

1. Pelunasan Bea Masuk.
2. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa.
3. Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
4. Pajak Ekspor.
5. Pajak Penghasilan atas pemasukan barang.
6. Hutang Pajak yang berhubungan dengan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
7. Pajak Ekspor.
8. Penghasilan yang telah diterima berupa mata uang asing dan harus dinilai terlebih dahulu ke dalam mata uang rupiah (di Rupaiahkan).

Penetapan terhadap kurs pajak ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan yang telah diterbitkan setiap minggunya. Kurs valuta asing dari sebuah Negara yang tidak tercantum dalam Keputusan Menteri Keuangan tersebut, sehingga nilai kurs yang akan digunakan sebagai dasar utama untuk pelunasan adalah dari kurs spot harian valuta asing yang bersangkutan di pasar internasional terhadap dollar Amerika Serikat yang masih berlaku pada saat penutupan hari kerja sebelumnya serta akan dikalikan dari kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat seperti yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang masih berlaku pada saat itu.

Kesimpulannya adalah:

Dari berbagai penjelasan diatas, maka bisa diketahui apabila perbedaan antara kurs tengah BI dengan kurs pajak terletak pada setiap masing-masing fungsinya. Yang mana kurs dari pajak yang akan digunakan dalam transaksi yang berhubungan dengan pajak (khususnya dalam pembuatan faktur pajak, serta untuk jenis laporan pajak terhadap kantor pajak), dan kurs tengah BI yang digunakan pada saat penutupan pembukuan akuntansi.

Adapun hubungan antara kurs tengan BI dengan kurs pajak adalah pada saat melakukan pencatatan pembukuan. Saat terdapat transaksi dalam mata uang asing, semua nilai yang berhubungan langsung dengan pajak yang telah dikonversi dengan kurs pajak, sementara untuk nilai transaksi total yang telah dikonversi menggunakan kurs tengah BI. Kedua nilai tersebut akan dicatat dalam pembukuan, ditambahkan dengan laba rugi dari selisih kurs yang didapatkan dari terjadinya selisih nilai transaksi kurs tengah BI dengan nilai transaksi kurs bank yang digunakan sebenarnya.

Nah, itulah sedikit penjelasan tentang rumus Kurs Tengah BI (Kurs Jual + Kurs Beli/2)
dan Kurs Tengah BI serta Kurs Pajak yang akan digunakan pada kebanyakan perusahaan-perusahaan asing yang telah lama atau yang masih baru akan beroperasi di Indonesia. Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca, apabila pembaca membutuhkan portal untuk kepabeanan, software accounting penunjang perpajakan dan lainnya silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu!

Scroll to top