Kategori: Software Manufacturing

MANFAAT DAN CARA TERMUDAH DALAM MENGHITUNG LABA DITAHAN PADA PROSES AKUNTANSI PERUSAHAAN

Laba ditahan merupakan salah satu bagian dari laba bersih perusahaan yang ditahan oleh perusahaan dan tidak dibayarkan sebagai dividen terhadap para pemegang saham. Uang ini biasanya akan diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan, agar menjadi “bahan bakar” utama kelangsungan hidup  perusahaan untuk kedepannya, atau bisa digunakan untuk melunasi hutang-hutang perusahaan.

Laba ini akan diakumulasikan dan akan dilaporkan sebagai ekuitas pemilik dalam Neraca. Besarnya laba ditahan biasanya akan ditentukan oleh kebijakan dewan komisaris perusahaan yang tentunya akan berbeda antara kebijakan satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Manfaat Dari Laba Ditahan

1. Untuk membiayai operasional perusahaan dalam upaya untuk pencapaian laba usaha yang lebih maksimal.
2. Untuk melunasi hutang-hutang perusahaan (jika ada).
3. Sebagai cadangan dana untuk kebutuhan investasi perusahaan.
4. Untuk perkembangan perusahaan di masa yang akan datang.

 Cara Untuk Menghitung Laba Ditahan Perusahaan

1. Kumpulkan data-data yang diperlukan dari laporan keuangan milik perusahaan.

Setiap perusahaan diharuskan untuk melakukan dokumentasi terhadap riwayat keuangan perusahaannya secara resmi. Jika Anda bisa melakukannya, maka biasanya Anda akan lebih mudah dalam menghitung laba ditahan selama periode yang berjalan dengan menggunakan angka-angka dari laporan resmi untuk mengetahui jumlah laba ditahan pada tanggal tertentu, laba bersih, dan dividen yang sudah dibayarkan, jika dibandingkan dengan Anda harus menghitungnya secara manual. Laba ditahan perusahaan sampai dengan periode pencatatan yang terakhir akan ditampilkan dalam Neraca, sementara laba bersih perusahaan akan ditampilkan dalam laporan Laba Rugi untuk periode yang sedang berjalan.

Jika Anda dapat memperoleh semua informasi itu, maka Anda akan bisa menghitung laba ditahan dengan rumus sebagai berikut:

Laba bersih – deviden yang dibayarkan = laba ditahan

Selanjutnya, untuk menghitung laba bersih kumulatif, tambahkan angka laba ditahan yang baru saja Anda hitung dengan saldo laba ditahan yang sudah ada pada saat ini (dari periode sebelumnya).

Sebagai contoh, misalnya pada akhir tahun 2016 bisnis Anda memiliki saldo laba ditahan kumulatif sebesar Rp. 512 juta. Selama tahun 2017, bisnis Anda menghasilkan laba bersih sebesar Rp.21,5 juta dan sudah membayarkan deviden sebesar Rp.5,5 juta. Mak saldo akhir untuk laba ditahan dari bisnis Anda sekarang adalah sebesar:

Rp. 21,5 juta – Rp. 5,5 juta = Rp. 16 juta
Rp. 512 juta + Rp. 16 juta = Rp. 528 juta

Jadi, bisnis Anda sudah memiliki laba ditahan sebesar Rp528 juta.

2. Apabila tidak memiliki informasi tentang laba bersih, maka mulailah dengan menghitung laba kotornya terlebih dahulu.

Apabila Anda masih belum mampu untuk mengakses nilai laba bersih secara pasti, maka Anda masih bisa menghitung laba bersih dari sebuah bisnis dengan menghitung secara manual melalui sebuah proses yang sedikit lebih panjang. Maka mulailah dengan cara menghitung laba kotor milik perusahaan. Laba kotor merupakan sebuah angka yang telah dihasilkan dari laporan laba rugi dan akan dihitung dengan cara mengurangi uang dari hasil penjualan dengan HPP (penjualan).

Seperti contoh: sebuah perusahaan berhasil mencapai angka penjualan sebesar Rp150.000 juta dalam satu kuartal, namun tetap harus membayar Rp.90.000 juta untuk barang-barang yang dibutuhkan dalam menghasilkan angka penjualan sebesar Rp.150.000 juta tersebut. Maka laba kotor selama satu kuartal ini adalah,

Rp.150.000.000 – Rp.90.000.000 = Rp.60.000.000

3. Hitunglah laba operasional perusahaan.

Laba operasional mencerminkan laba perusahaan setelah membayar berbagai biaya-biaya penjualan dan biaya-biaya operasional lainnya, seperti halnya upah yang sudah dibayarkan. Untuk menghitung laba operasi seperti ini, maka kurangi laba kotor dengan biaya-biaya operasional perusahaan (tidak termasuk harga pokok penjualan).

Misalnya, dalam kuartal yang sama di mana bisnis kita menghasilkan laba kotor sebesar Rp.60.000.000, terdapat pembayaran biaya-biaya administrasi dan juga upah sebesar Rp.15.000.000. Maka dengan demikian laba operasional perusahaan akan menjadi:

Rp.60.000.000 – Rp.15.000.000 = Rp.45.000.000.

4. Hitunglah laba bersih sebelum pajak.

Untuk menghitung laba bersih sebelum pajak, kurangilah laba operasional perusahaan dengan bunga, depresiasi, dan amortisasi. Depresiasi dan amortisasi yaitu berupa penyusutan dari nilai aktiva (berwujud dan tidak berwujud) selama masa ekonomisnya. Hal ini akan dicatat sebagai bentuk biaya dalam laporan laba rugi. Jika sebuah perusahaan telah membeli peralatan dengan harga Rp.10.000.000 dengan masa ekonomis selama 10 tahun, maka akan timbul biaya depresiasi sebesar Rp.1.000.000 per tahunnya, dengan asumsi bahwa nilainya telah terdepresiasi secara merata.

Misalnya perusahaan Anda telah membayar biaya bunga sebesar Rp.1.200.000 dan biaya depresiasi sebesar Rp.4.000.000. maka laba bersih sebelum pajak dari perusahaan Anda akan menjadi:

Rp.45.000.000 – Rp.1.200.000 – Rp.4.000.000 = Rp.39.800.000

5. Hitunglah laba bersih setelah pajak.

Biaya yang harus Anda perhitungkan adalah pajak. Untuk menghitung laba bersih setelah pajak, maka langkah pertama: kali-kan tarif pajak perusahaan dengan laba bersih sebelum pajak. Selanjutnya, untuk menghitung laba bersih setelah pajak, maka kurangi angka hasil perkalian seperti ini dari angka laba bersih sebelum pajak.

Seperti contoh: kita asumsikan bahwa tarif pajak adalah sekitar 34%. Biaya pajak yang harus kita bayar adalah sebesar,

34% (0,34)xRp39.800 .000= Rp13.532.000

Selanjutnya, akan kita kurangkan angka seperti ini dari jumlah laba bersih sebelum pajak sebagai berikut.

Rp.39.800.000 – Rp13.532.000 = Rp26.268.000

6. Kurangi dengan jumlah deviden yang sudah dibayarkan.

Setelah kita selesai menghitung berapa besarnya laba bersih milik perusahaan setelah dikurangi seluruh biaya-biaya yang menjadi kewajiban kita, maka kita harus memiliki sebuah angka yang bisa kita gunakan untuk menghitung besarnya laba ditahan selama satu periode pembukuan yang sedang berjalan. Untuk menghitungnya, maka kurangi laba bersih setelah pajak dengan deviden yang sudah dibayarkan.

Dalam contoh yang kita bahas, asumsikan bahwa kita membayar deviden kepada para investor sebesar Rp.10.000.000 untuk kuartal (bulan) ini. Laba ditahan untuk periode yang sedang berjalan ini akan menjadi,

Rp.26.268.000 – Rp.10.000.000 = Rp.16.268.000

7. Hitunglah saldo akhir dari akun laba ditahan.

Jangan lupa bahwa laba ditahan adalah akun yang bersifat kumulatif yang selalu menunjukkan perubahan bersih dari laba ditahan sejak berdirinya perusahaan. Untuk mengetahui berapa besarnya laba ditahan secara keseluruhan, maka tambahkan laba ditahan dari periode yang sedang berjalan tersebut dengan saldo akhir dari laba ditahan pada saat periode pembukuan yang berakhir.

Kita asumsikan bahwa perusahaan kita sudah menahan laba sebesar 30.000.000 sampai saat ini. Maka sekarang saldo pada akun laba ditahan kita akan menjadi,

Rp.30.000.000 + Rp.16.268.000 = Rp.46.268.000

Itulah beberapa penjelasan seputar laba ditahan. Untuk mempermudah dalam menghitung laba ditahan, maka Anda bisa memulai dengan membuat laporan laba ditahan dengan software akuntansi. terutama software akuntansi yang sudah berbasis online (cloud) yang dapat membantu Anda dalam membuat laporan laba ditahan secara instan. Dengan software accounting yang berbasis cloud, Anda juga dapat melihat bagaimana kondisi keuangan milik perusahaan dengan lebih mudah, cepat, aman.

Apabila membutuhkan software HRD, Payroll dan Accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

 

MENGENAL AKTIVITAS OPERASIONAL PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN MENGELOLA KEUANGANNYA DENGAN SOFTWARE AKUNTANSI

Pengertian pengelolaan keuangan adalah berupa penggunaan sumber daya yang diterima dan yang dipergunakan untuk penyelenggaraan pengelolaan terhadap fungsi keuangan. Dalam hubunganya dengan keuangan perkebunan kelapa sawit, pengelolaan keuangan sangat penting untuk menjalankan fungsi keuangannya. Sebelum kita lanjutkan kepada inti dari pokok pembahasan, maka berikut ini terlebih dahulu akan sedikit kita ulas tentang karakteristik dari jenis usaha perkebunan kelapa sawit.

Industri kelapa sawit memiliki karakteristik yang sedikit lebih khusus yang membedakannya dengan jenis-jenis usaha bidang lainnya seperti: jenis usaha dagang, industry manufaktur dan jasa, yang meliputi proses aktivitas pengelolaan tanaman yang menghasilkan produk yang bisa dikonsumsi dan selanjutnya akan diproses lebih lanjut agar dapat menghasilkan produk lainnya.

Aktivitas-aktivitas operasional dari jenis industri perkebunan kelapa sawit pada umumnya dapat digolongkan menjadi:

1. Masa awal yaitu pembibitan dan penanaman bibit muda, yang merupakan proses pengelolaan bibit tanaman untuk cikal bakal ditanam kembali dan akan dilanjutkan dengan proses penanaman.
2. Pemeliharaan dan pemupukan tanaman, merupakan proses pemeliharaan tanaman agar dapat melalui proses pertumbuhan dan pemupukan sampai dapat menghasilkan produk.
3. Hasil dari produk, proses pemanenan atas produk yang sudah siap di olah dan di jual atau dibibitkan kembali.
4. Pengemasan dan pemasaran, merupakan proses akhir dari penjualan produk kelapa sawit.

Mengelola keuangan dari perkebunan kelapa sawit biasanya berhubungan dengan anggaran dan pencatatan transaksi  harian yang berhubungan dengan ke 4 aktivitas operasional diatas sampai pada penyajian laporan keuangan. Dalam pembuatan laporan keuangan memang dibutuhkan adanya system akuntansi yang terbaik sehingga akan menghasilkan laporan keuangan yang lebih CEPAT dan AKURAT untuk dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak manajemen dalam pengambilan keputusan selanjutnya. Penggunaan software akuntansi akan dapat digunakan untuk jenis usaha perkebunan kelapa sawit yang membutuhkan adanya pembukuan yang sudah harus terintegrasi dengan berbagai aktivitas pencatatan mulai dari:

1. Penganggaran biaya operasional.
2. Pencatatan transaksi atas biaya dalam proses Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).
3. Pencatatan transaksi atas biaya dalam proses Tandan Buah Segar (TBS).
4. Pencatatan transaksi dan pengelolaan stok atas pemakaian stok, baik itu adalah berupa stok pendukung seperti obat-obatan, pupuk maupun stok dari hasil kelapa sawitnya.
5. Pencatatan terhadap penjualan, pembelian, kontrol terhadap piutang dan hutang.
6. Pencatatan dari operasional Kas dan Bank nya.

Proses penginputan yang lebih praktis, mudah, dan cepat akan mampu menghasilkan laporan keuangan hanya dalam hitungan detik saja.

Manfaat terpenting dalam penggunaan software akuntansi untuk jenis usaha kelapa sawit di antaranya adalah:

1. Kemudahan dalam hal mengontrol biaya-biaya per area kelapa sawit, baik itu adalah atas biaya operasional maupun biaya pemakaian atau penggunaan dari suku cadang serta stok pendukung lainnya.
2. Mengontrol biaya dalam proses mulai dari biaya pembibitan, penanaman, pemeliharaan sampai dapat menghasilkan produk kelapa sawit.
3. Kemudahan dalam hal mengontrol persediaan , baik itu adalah persediaan suku cadang, bibit dan hasil produk kelapa sawit.
4. Mendapatkan informasi dari laporan anggaran realisasi dan laporan laba rugi per pekerjaan dan per departemennya.

Nah, itulah pembahasan tentang mengenal siklus aktivitas operasional dari perkebunan kelapa sawit dan manfaat menggunakan software akuntansi untuk mengelola keuangannya, semoga bisa bermanfaat bagi Anda sekalian dan terimakasih. Salam sukses.

Apabila membutuhkan software accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

 

MENGENAL METODE FULL COSTING DAN VARIABLE COSTING DALAM AKUNTANSI BIAYA (PRODUKSI)

Full costing dan variabel costing (metode pembiayan) pada dasarnya merupakan metode yang berhubungan langsung dengan penentuan harga pokok produksi. Dalam metode full costing untuk menentukan harga pokok produksi yang mana semua biaya produksi akan diperhitungkan ke dalam harga pokok produksi. Hal tersebut tentunya menunjukkan bahwa metode full costing ini tidak membedakan antara biaya produksi variabel dan biaya produksi tetap, karena akan langsung dimasukkan ke dalam harga pokok produksi.

Sehingga untuk biaya produksi tetap tersebut masih sangat melekat pada setiap produk yang masih belum terjual, dengan begitu tidak akan membebankan untuk kelangsungan hidup dari bisnis untuk selanjutnya dan pada periode cost. Sedangkan metode variabel costing ini merupakan metode untuk penentuan harga pokok produksi yang hanya akan memasukkan biaya-biaya yang lebih bersifat variabel ke dalam harga pokok produksi. Yang mana untuk setiap biaya produksi tetap sendiri telah dianggap sebagai sebuah periode cost, sehingga tidak terdapat biaya tetap yang masih belum dibebankan pada periode tersebut.

Lalu, untuk selanjutnya bagaimana cara untuk menghitung harga pokok produksi pada metode full coseting dan variabel costing?

1. Metode Full Costing:

Perhitungan harga pokok produksi pada metode full costing terdiri dari:

1. Biaya Bahan Baku.
2. Biaya Tenaga Kerja Langusng (BTKL).
3. Biaya Overhead Pabrik Variabel.
4. Biaya Overhead Pabrik Tetap.
5. Harga Pokok Produksi.

Untuk bisa mendapatkan harga pokok produksi, maka dengan cara menjumlahkan total dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik tetap. Yang mana sebelumnya untuk mencari biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik variabel harus mengkalikan dengan jumlah setiap unit dari produk yang telah diproduksi.

Selanjutnya dari perhitungan harga pokok produksi pada setiap metode tersebut akan dilakukan pelaporan keuangan yang terdiri dari:

1. Hasil Penjualan.
2. Harga Pokok Produksi/Penjualan.
3. Laba Kotor.
4. Biaya Pemasaran Variabel.
5. Biaya Pemasaran Tetap.
6. Biaya Administrasi dan Umum Variabel.
7. Biaya Administrasi dan Umum Tetap.
8. Laba Bersih.

Untuk bisa mendapatkan laba kotor, dapat dengan cara menghitung selisih diantara hasil penjualan dan harga pokok produksi/penjualan. Sedangkan untuk mendapatkan laba bersihnya, dapat dengan menghitung selisih diantara setiap laba kotor yang telah didapatkan sebelumnya dengan jumlah total dari biaya pemasaran variabel yang telah dikalikan dengan setiap unit dari produk yang telah terjual, biaya pemasaran tetap, biaya administrasi dan umum variabel, biaya administrasi dan umum variabel serta biaya administrasi dan umum tetap.

2. Metode Variabel Costing:

Setelah mengetahui cara perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode full costing, maka selanjutnya adalah cara perhitungan harga pokok produksi sebagai berikut:

1. Biaya Bahan Baku.
2. Biaya Tenaga Kerja.
3. Biaya Overhead Pabrik Variabel.
4. Biaya pokok produksi.

Untuk bisa mendapatkan biaya pokok produksi, dengan cara menjumlahkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik variabel yang telah dikalikan dengan jumlah setiap unit produk yang telah diproduksi.

Maka selanjutnya untuk laporan keuangan dari metode variabel costing ini yang terdiri dari:

1. Hasil Penjualan.
2. Biaya Produksi Variabel.
3. Biaya Pemasaran Variabel.
4. Biaya Administrasi dan Umum Variabel.
5. Marjin Kontribusi
6. Biaya Produksi Tetap.
7. Biaya Pemasaran Tetap
8. Biaya Administrasi dan Umum Tetap.
9. Laba Bersih.

Agar bisa mendapatkan marjin kontribusi, dari hasil penjualan yang telah dikalikan dengan jumlah setiap unit produk yang sudah diproduksi dengan cara menghitung selisihnya dengan biaya produksi variabel dan biaya pemasaran varibel yang telah dikalikan dengan jumlah setiap unit produk yang telah diproduksi. Kemudian untuk mendapatkan laba bersihnya, dapat dengan cara menghitung selisih antara marjin kontribusi dengan biaya produksi tetap, biaya pemasaran tetap dan biaya administrasi dan umum tetap.

Dari informasi dan cara perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode dari full costing dan variabel costing di atas adalah bahwa metode full costing dari semua biaya produksi yang telah diperhitungkan dalam harga pokok produksinya. Akan tetapi akan ada biaya tetap yang masih belum dibebankan pada periode tersebut apabila terdapat produk yang masih belum laku terjual, karena di dalam produk tersebut terdapat biaya overhead tetap yang masih melekat. Sedangkan untuk metode variable costing hanya memperhitungkan biaya-biaya produksi yang lebih bersifat variabel dalam hal perhitungan harga pokok produksinya. Yang mana biaya tetap akan dianggap sebagai sebuah period cost dan akan langsung dibebankan pada setiap periode yang bersangkutan.

Selain itu dalam hal penyajian laporan keuangan yang berhubungan dengan laba rugi, maka metode full costing dan variabel costing seperti ini memiliki perbedaan. Pada setiap metode metode full costing, biaya overhead tetap yang akan dilaporkan dalam laporan laba rugi hanya berupa biaya  overhead tetap produk yang telah terjual saja pada periode tersebut. Sedangkan untuk variable costing, seluruh biaya overhead tetap yang terjadi dalam periode tersebut akan dilaporkan dalam laporan laba rugi dari perode tersebut, sehingga akan mengurangi pendapatan pada periode tersebut.

Demikianlah pembahasan tentang metode full costing dan variabel costing. Semoga akan dapat memberikan manfaat bagi Anda sekalian dalam menentukan harga pokok produksi.

Apabila membutuhkan software accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu!

CARA EFEKTIF MENGEMBANGKAN PASAR PRODUK AGAR OMZET MENINGKAT

Dalam pertarungan pemasaran produk membuat perusahaan yang belum siap akan menjadi ciut dengan sengitnya persaingan di masa kini. Meskipun sebenarnya kebutuhan untuk memaksimalkan pemasaran produk sangat dibutuhkan. Oleh sebab itu apa solusi yang bisa dilakukan? Jika ternyata pemasaran produk sudah mentok. Beberapa alternative dalam mengembangkan pemasaran produk adalah :

  1. Menemukan customer Baru.
  2. Memperluas cakupan wilayah pemasaran.
  3. Meningkatkan produksi produk.

Pada poin ke 1 seringkali tidak diperhatikan oleh tenaga pemasaran, karena beranggapan mencari customer baru penuh resiko. Misalnya jika penjualan kredit, selain menjadi piutang bad debt yang paling parah, penagihan molor terus menerus. Memang susah jika tidak tau rahasianya bagaimana mengembangkan pasar baru dengan mendapatkan customer baru setiap saat. Jika masih memikirkan cara pengelolaan piutang dagang ( Account receivable) maka sangatlah sayang, sebab saat ini sudah ada software accounting yang menyajikan fitur mengenai umur piutang pelanggan, sehingga over due piutang pelanggan bisa dijaga. Artinya semua piutang pelanggan yang mendekati jatuh tempo bisa langsung ditagihkan. Dengan software accounting pengelolaan piutang bisa lebih mudah, sebab di fitur itu terdapat out standing piutang dagang sehingga piutang dagang mudah dipantau di sisi umur. Jadi jangan kuatir dengan pengelolaan piutang pelanggan.

Kedua cakupan wilayah penjualan seringkali juga diabaikan dalam mengembangkan pemasaran sebab perusahaan sangat kekurangan mitra kerja sama. Atau takut melakukan kerja sama karena takut tidak bisa mengontrol para mitra kerja sama seperti agen/distributor/toko. Oleh sebab itu perusahaan cenderung hanya bertahan di wilayah penjualan yang terbatas, padahal dalam mengembangkan penjualan diperlukan wilayah pemasaran yang semakin luas. Pembuatan saluran pemasaran sangat penting disaat ini apalagi jika diketahui wilayah Indonesia sangat luas. Oleh sebab itu apabila pemilik usaha ragu-ragu dapat diyakinkan bahwa sekarang ini pihak mitra bisa dikontrol dengan baik mulai target penjualan, piutang dagangnya, sampai produk dijual kemana saja bisa dipantau lewat software distribusi cloud yang cukup canggih. Perusahaan tidak perlu investasi cukup tinggi  tinggal sewa saja maka pengontrolan kinerja mitra bisa dilakukan dengan baik.

Ketiga meningkatkan produksi produk adalah kewajiban produsen. Jika poin 1 dan 2 cukup berhasil maka produksi produk di perusahaan mesti ditingkatkan. Jika tidak ditingkatkan maka langkah poin 1 dan 2 percuma saja dilakukan. Namun poin 3 ini sering membuat beban pemilik bisnis karena tidak gampang manaikan produksi sebab selain sulitnya sumber daya manusia, juga sember daya lainnya. Sekarang ini ada software manufacturing yang bisa membantu dalam proses produksi, mulai bahan baku  sampai barang jadi dengan mudah bisa dipantau. Oleh sebab itu apabila poin 3 ini bisa terlaksana akan sangat menunjang kegiatan yang dilakukan di poin 1 dan 2.

Semoga artikel ini bermanfaat, apabila perusahaan membutuhkan tools dan informasi teknologi terkait pemasaran, silahkan klik di sini. Kami siap membantu.

Scroll to top