Tag: Auditor Finance & accounting Makasar

ISTILAH-ISTILAH LAIN DARI LAPORAN LABA RUGI DAN PERBEDAAN ANTARA JENIS USAHA TRADING DAN SERVICE (JASA)

Laporan laba-rugi merupakan salah satu bagian dari laporan keuangan yang berfungsi untuk menunjukkan perbandingan antara pendapatan-pendapatan yang diperoleh selama satu periode tertentu dan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan pendapatan tersebut. Selisih diantara pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya yang lebih besar daripada biaya adalah dikategorikan sebagai laba sedangkan jika selisihnya lebih besar biaya daripada pendapatan, maka bisa dikatakan sebagai kerugian yang harus diterima oleh perusahaan.

Laba-rugi yang terkadang lebih sering disebut sebagai laporan pendapatan dan total biaya merupakan laporan yang berfungsi utama untuk menunjukkan bagaimana kemajuan keuangan yang telah diperoleh perusahaan dan juga sebagai penghubung utama dari dua neraca yang saling berurutan.

Arti penting dari laporan laba rugi adalah sebagai alat utama untuk mengetahui apa saja pencapaian yang telah didapatkan oleh perusahaan selama ini dan juga untuk mengetahui nilai, yaitu sampai berapakah hasil bersih atau laba yang telah didapat oleh perusahaan dalam satu periode tertentu.

Berikut ini merupakan beberapa istilah yang seringkali digunakan dalam laporan laba-rugi versi Statement of Financial Accounting Concepts dan oleh FASB, yaitu sebagai berikut:

1. Gain (Laba): merupakan naiknya modal dari aktiva bersih yang berasal dari transaksi sampingan atau berupa transaksi yang jarang sekali terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang sangat mempengaruhi badan usaha tersebut selama satu periode kecuali yang seringkali muncul dari pendapatan (revenue) atau berupa investasi oleh pemiliknya, seperti: laba yang muncul karena disebabkan oleh penjualan aktiva tetap milik perusahaan.

2. Loss (Rugi): adalah berupa penurunan modal (aktiva bersih) karena disebabkan oleh transaksi yang jarang sekali terjadi dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian-kejadian lain yang sangat mempengaruhi badan usaha tersebut selama satu periode tertentu kecuali yang muncul dari biaya (expense) atau dari distribusi dari pemilik, seperti:  rugi karena penjualan surat berharga.

3. Revenue (Pendapatan): merupakan aliran dana yang telah masuk atau berupa kenaikan lain dari aktiva suatu badan usaha atau dari pelunasan hutang (atau kombinasi dari keduanya) selama satu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang-barang (produksi), penyerahan jasa (penjualan jasa), atau dari berbagai kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama dari sebuah badan usaha.

4. Expense (Biaya): berupa aliran dana yang telah keluar atau pemakaian lain dari aktiva atau karena munculnya hutang (atau berupa kombinasi dari keduanya) selama satu periode tertentu yang berasal dari penyerahan atas pembuatan barang (penjualan barang produksi), penyerahan atas jasa (menjual jasa), atau dari pelaksanaan kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama dari sebuah badan usaha.

5. Income (Penghasilan/Pemasukan): berupa selisih dari penghasilan-penghasilan yang sesudah dikurangi biaya-biaya lain. Jika pendapatan yang jauh lebih kecil daripada biaya, maka selisihnya lebih sering disebut sebagai rugi.

6. Cost (Harga Perolehan): Merupakan sejumlah uang yang telah dikeluarkan atau hutang yang muncul dengan upaya agar dapat memperoleh barang atau berupa jasa. Jumlah seperti ini pada saat terjadinya transaksi biasanya akan dicatat sebagai aktiva, seperti halnya: pembelian mesin-mesin produksi, dan pembayaran uang muka sewa (biaya DP sewa).

Perbedaan Perusahaan Dagang dan Perusahan yang Bergerak Dalam Bidang Jasa

Dari perkembangannya, terdapat beberapa jenis bidang usaha beberapa diantaranya adalah jenis perusahaan dagang dan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa. Lalu seperti apa perusahaan dagang? Bagaimana proses dari perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa? Apa perbedaan dari keduanya?

Perusahaan dagang merupakan salah satu dari jenis bidang usaha yang kegiatan utamanya adalah dengan menjual barang/produk jadi tanpa merubah sedikitpun bentuk fisiknya (produksi). Ketika terjadi transaksi secara ekonomis akun yang dikreditkan adalah berupa penjualan dan yang didebit adalah kas atau piutang dagang, maka itu bisa dikatakan sebagai perusahaan dagang. Sedangkan perusahaan jasa adalah salah satu dari jenis usaha yang kegiatan utamanya adalah dengan menyediakan “jasa” terhadap konsumen. Sehingga ketika terjadi transaksi secara ekonomis biasanya akun yang akan dikredit adalah pendapatan jasa dan yang didebitkan adalah kas atau piutang usaha (bukan piutang dagang).

Perbedaan dari keduanya adalah pada jenis perusahaan dagang (yang pada hakikatnya kebanyakan akan menggunakan system persediaan perpetual) dan pada saat penjualan barang, terdapat tambahan akun yang didebitkan, yaitu Harga Pokok Penjualan (HPP) dan mengkredtikan akun Persediaan Barang. HPP inilah yang kemudian akan dimasukkan ke dalam laporan laba rugi sebagai pengurang atas akun Pendapatan.

Jadi, kesimpulannya adalah pada laporan laba rugi jenis perusahaan jasa tidak terdapat adanya HPP sedangkan pada jenis perusahaan dagang, baik itu adalah yang menggunakan sistem persediaan perpetual maupun periodik selalu terdapat HPP dalam setiap laporan laba ruginya”

Lalu, mengapa pada perusahaan jasa tidak terdapat HPP? Tentu saja adalah karena perusahaan jasa sama sekali tidak memiliki persediaan untuk dijual, jikapun terdapat persediaan, maka persediaan tersebut hanya akan dijadikan sebagai persediaan untuk melakukan penjualan jasa atau dalam akuntansi lebih sering disebut sebagai biaya atas jasa yang dilakukan, seperti: jasa praktek dokter, sebenarnya dia hanya menjual jasa periksa, namun juga terkadang memberikan obat sebagai salah satu sarana untuk penunjang jasanya tersebut, sehingga sudah tentu ada persediaannya sebagai pelengkap jasa pemeriksaan terhadap pasien yang sakit. Karena rasanya sangatlah tidak etis jika seorang dokter yang membuka praktek hanya memberikan jasa periksa saja, sementara obatnya pasien sendiri yang harus membeli atau menebus ditempat lain. Karena ditempat dokter tersebut tidak menyediakan obat (hanya jasa periksa saja).

Sebenarnya sah-sah saja jika perusahaan jasa menampilkan HPP pada laporan laba ruginya. Namun dalam PSAK sendiri tidak pernah mengatur apakah perusahaan jasa harus menyajikan Harga Pokok Penjualan atau tidak. PSAK 1 paragraf 101 hanya menyebutkan bahwa, entitas minimal harus menyajikan “biaya penjualan” yang terpisah dari biaya-biaya lainnya. Semoga bisa bermanfaat dan salam sukses. Apabila pembaca membutuhkan portal untuk kepabeanan, software accounting penunjang perpajakan dan lainnya silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu!

BEBERAPA ALASAN PENTING MENGAPA PEMBUKUAN (AKUNTANSI) KEUANGAN PERUSAHAAN HARUS BAHKAN WAJIB UNTK DILAKUKAN

Sebagai seorang pemilik dari sebuah bisnis, jadwal yang terlalu padat sudah pasti menjadi sebagai hal yang sudah biasa terjadi bagi Anda dan mengharuskan Anda untuk mengabaikan hal-hal sepele yang sebenarnya sangat penting seperti halnya pembukuan keuangan perusahaan. Tumpukan-tumpukan invoice, dokumen-dokumen akuntansi, dan laporan-laporan pengeluaran tanpa Anda sadari semakin lama malah semakin meningkat sampai juga terkadang menjadi semakinterbengkalai.

Alasan-Alasan Mengapa Pembukuan Keuangan Perusahaan Sangat Penting untuk Dilakukan

Nah, selanjutnya hal-hal seperti ini akan semakin berimbas kepada bagaimana tentang nasib dari perusahaan apabila pembukuan keuangannya malah menjadi tidak akurat, baik karena faktor terlalu lama tidak diperbarui proses akuntansinya atau karena permasalahan mengalami kekacauan secara keseluruhan dari seluruh bukti-bukti dan dokumen-dokumen akuntansinya.

Berikut ini merupakan beberapa alasan mengapa Anda sangat membutuhkan proses pembukuan keuangan bagi perusahaan Anda.

1. Sebagai gambaran tentang bagaimana kondisi keuangan perusahaan menjadi sangat tidak jelas sama sekali.

Kelangsungan hidup dari keuangan perusahaan Anda akan tergambarkan sebagaimana dengan pembukuan keuangan yang begitu kacau. Gambaran tersebut akan menjadi semakin tidak jelas ketika pembukuan keuangan perusahaan Anda yang tidak dilakukan dengan benar dan akan semakin mempersulit manajemen dalam hal pengambilan keputusan untuk tindakan penghematan pengeluaran. Penyebab utama dari permasalahan finansial dalam perusahaan Anda sebenarnya juga masih dapat terdeteksi dan dicari tahu dimana letak dari akar permasalahannya dengan jalan membuat pembukuan keuangan yang benar, sehingga Anda akan dapat mengetahui dengan pasti bahwa ada atau tidaknya permasalahan keuangan di perusahaan Anda.

2. Mengakibatkan terjadinya kekeliruan keuangan yang sangat merugikan perusahaan.

Bencana terbesar bagi bisnis Anda sebenarnya bisa saja dapat berasal dari faktor pembukuan keuangan perusahaan yang terlalu buruk dan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam menghitung profit atau beban-beban biaya tertentu. Seperti contohnya adalah ketika Anda memperkirakan keuntungan yang terlampau tinggi, namun ketika menulis formulir pajak akan semakin menyebabkan terjadinya peningkatan biaya dari beban pajak perusahaan Anda yang tentunya sangat merugikan sekali bagi bisnis Anda.

Sedangkan apabila yang terjadi malah sebaliknya, maka Anda juga akan tetap saja merugi karena malah akan dikenakan denda atau tindakan audit. Pembengkakan terhadap pengeluaran bisnis juga sebenarnya cukup mudah terjadi apabila terdapat kesalahan dalam hal pengkategorian dari asset akibat dari terjadinya kesalahan dalam hal pembukuan yang dilakukan dengan tidak baik. Apabila Anda tidak lebih sering untuk memeriksa pembukuan dan laporan dari bank, maka kesalahan tersebut juga akan menjadi semakin berkembang dan malah akan semakin berdampak buruk bagi kondisi keuangan perusahaan Anda.

3. Resiko dari proses audit yang akan semakin mengalami peningkatan.

Memiliki data keuangan yang terlalu mencurigakan dan seringkali telat untuk membayar pajak dapat menyebabkan perusahaan Anda menjadi semakin rawan untuk terkena audit. Proses audit disini akan semakin menyita waktu dan biaya walaupun jika tidak ada yang salah dengan data-data keuangan perusahaan Anda. Pembukuan keuangan yang tidak tertata dengan rapi akan dapat menjadikan proses tersebut menjadi semakin lebih melelahkan. Terlebih lagi jika terdapat resiko dari ketidaksesuaian data-data keuangan, Anda menjadi semakin beresiko dituntut untuk membayarkan denda pajak atau juga akan dikenakan dipinalti oleh lembaga keuangan negara.

4. Membatasi adanya pilihan seputar keuangan.

Pembatasan pilihan keuangan dapat saja terjadi jika pembukuan keuangan yang telah Anda lakukan sama skali tidak teratur. Terutama yang harus selalu harus diwaspadai untuk jenis-jenis usha kecil menengah kebawah dengan semakin banyaknya kebutuhan berupa pinjaman dana, utamanya adalah apabila sifatnya sangat mendesak, maka pembukuan akuntansi perusahaan Anda juga harus dapat dipastikan kebenaran dan keakuratannya. Jangan sampai pinjaman dana untuk kebutuhan bagi bisnis Anda semakin terhalangi.

5. Merujuk pada permasalahan list pembayaran gaji.

Seperti pada bagian lainnya dalam permasalahan keuangan perusahaan, list  gaji atau yang biasanya disebut dengan payroll juga akan ikut terpengaruh oleh pembukuan akuntansi. Apabila pembukuan akuntansi yang tidak dilaksanakan dengan benar, maka bisa menjadi suatu kesalahan terbesar bagi Anda dalam hal pembayaran gaji karyawan yang mana tidak akan bisa sesuai dengan apa yang diharapkan, apalagi jika Anda sama sekali tidak menyadari hal tersebut karena pencatatan keuangan perusahaan Anda yang tidak teratur, bukankah hal tersebut benar-benar sangat disayangkan karena juga akan dapat berujung pada terjadinya permasalahan pajak yang harus dipenuhi oleh seorang karyawan.

Apakah Anda masih ingin menunda-nunda untuk mengerjakan pembukuan keuangan dari perusahaan Anda? Penundaan seperti ini hanya akan semakin menghalangi Anda untuk mengurangi terjadinya pengeluaran-pengeluaran bisnis dan untuk melakukan penghematan. Apalagi jika ada waktu dan tenaga yang dapat terbuang dengan sia-sia. Pembukuan akuntasi terhadap keuangan perusahaan Anda sebenarnya juga wajib untuk memiliki semua data keuangan yang selama ini telah Anda perlukan guna mengambil keputusan bisnis, misalnya untuk merekrut  pegawai, mencari modal dan dana, serta hal-hal lainnya. Pastikan bahwa pembukuan Anda sudah benar dan selalu ter-update dan Anda akan mampu untuk membuat keputusan bisnis yang jauh lebih baik serta untuk memperoleh berbagai informasi yang lebih berkualitas.

Satu dari sebagian metode untuk memastikan pembukuan perusahaan Anda sudah dikelola dengan baik dan benar atau tidak adalah dengan jalan menggunakani software berupa aplikasi/program akuntansi yang memiliki tingkat akurasi yang 100% lebih tepat, cepat dan serba terjamin. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda sekalian. Terimakasih dan salam sukses.
Apabila pembaca sekalian membutuhkan software Accounting, serta software HRD dan Payroll silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

LANGKAH-LANGKAH YANG DILAKUKAN UNTUK MEMINIMALKAN TERJADINYA RESIKO PIUTANG YANG TIDAK TERTAGIH

Biasanya dari beberapa perusahaan, baik itu adalah yang bergerak dalam bidang perdagangan maupun dalam hal perindustrian manufaktur, banyak diantara perusahaan tersebut sangat menginginkan untuk adanya jenis penjualan yang dilakukan secara tunai (cash).

Namun karena adanya faktor seperti, terbatasnya daya beli dari para konsumen atau karena adanya faktor-faktor lain yang menjadi penyebab utama mengapa daya beli konsumen menjadi semakin menurun, maka strategi yang akan dilakukan oleh perusahaan dalam mengatasinya adalah dengan memberlakukan kebijakan untuk sistem penjualan kredit (piutang).

Dan tidak mungkin bisa disangkal lagi bahwa jika penjualan dengan sistem penjualan kredit dapat semakin mendongkrak omzet penjualan, namun pada sisi lainnya juga malah akan menyebabkan terjadinya kemungkinan untuk resiko semakin tersendatnya penerimaan kas (kas masuk) bagi perusahaan.

Serta tidak menutup kemungkinan bahwa jika penjualan secara kredit seperti ini juga akan semakin mengakibatkan terjadinya resiko kerugian akibat terlalu banyaknya tunggakan-tunggakan piutang dari para konsumen dan bahkan yanglebih paranya lagi adalah bahwa piutang tersebut tidak bisa tertagih.

Semakin lama tumpukan-tumpukan sejumlah piutang menunggak belum terbayarkan, maka akan menjadi semakin besar pula jumlah nilai dari investasi yang dibutuhkan dalam upaya untuk menutup seluruh kerugian akibat dari resiko piutang yang tidak tertagih tersebut.

Resiko utama dan paling banyak terjadi pada jenis penjualan kredit adalah berupa resiko tidak terbayarkannya sejumlah kredit penjualan yang diberikan kepada para pelanggan. Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi terjadinya kemungkinan resiko tersebut, banyak diantara perusahaan-perusahaan yang lebih memilih untuk menerapkan sistem 5C sebagai dasar utama dalam hal proses pemberian kredit kepada para pembelinya:

1. Character.

Untuk menilai setiap karakter atau sifat-sifat dari para pelanggan. Pelanggan yang jujur dan amanah akan selalu berusaha untuk tetap amanah dan bersedia untuk memenuhi segala kewajibannya.

2. Capacity.

Penilaian yang lebih subyektif dan terkait dengan kemampuan dari pelanggan yang masih dapat diukur dari histori sebelumnya atau dengan cara melakukan survey ke tempat usaha dari para pelanggan.

3. Capital.

Proses untuk mengukur dari sisi finansial yang akan ditunjukkan melalui analisis rasio financial.

4. Collateral.

Berupa penilaian dari aktiva yang nantinya akan dijadikan sebagai jaminan untuk keamanan proses pemberian kredit.

5. Conditions.

Yaitu pengaruh langsung dari tren ekonomi terhadap bagaimana perkembangan perusahaan, sehingga akan dapat mempengaruhi kemampuan dari para pelanggan dalam memenuhi kewajibannya.

Dan berikut ini merupakan langkah-langkah yang masih dapat dilakukan oleh perusahaan dalam upaya untuk lebih meminimalkan terjadinya resiko piutang yang tidak tertagih:

• Menetapkan besar-kecilnya resiko yang akan ditanggung oleh perusahaan, yang akan ditentukan berdasarkan dari historical tahun sebelumnya.

• Kemampuan dari debitur dalam memenuhi kewajibannya yang dapat diukur melalui tingkat likuiditas dan rentabilitasnya.

• Membuat klasifikasi penjualan kredit bagi setiap pelanggan dengan menggunakan daftar analisis piutang untuk mengetahui bagaimana sejarah dari kredit bagi setiap pelanggan.

• Proses seleksi dari para calon pelanggan dengan menggunakan metode historical penjualan kredit mereka sebagai dasar utama dalam menentukan plafon kreditnya, apakah perlu ditambah, diturunkan, atau masih tetap.

Nah, itulah sedikit penjelasan tentang langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam upaya untuk semakin meminimalkan terjadinya resiko piutang yang tidak dapat tertagih. Semoga bisa bermanfaat dan salam sukses.

Apabila pembaca sekalian membutuhkan software Accounting, serta software HRD dan Payroll silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

BERBAGAI MANFAAT MELAKUKAN REVALUASI ASSET TETAP MILIK PERUSAHAAN

Revaluasi bisa diartikan sebagai suatu penilaian kembali atas asset tetap milik perusahaan sebagai akibat dari kenaikan nilai asset dipasaran atau karena semakin rendahnya nilai asset tetap dalam laporan keuangan akibat dari terjadinya devaluasi. Hal inilah yang menyebabkan nilai asset tetap dalam laporan keuangan menjadi tidak lagi menunjukkan nilai yang wajar.

Penilaian kembali atau berupa revaluasi tersebut yang harus dilakukan dengan tujuan agar perusahaan dapat melakukan perhitungan penghasilan dan biaya menjadi semakin lebih wajar untuk menunjukkan kemampuan dan nilai perusahaan yang sebenarnya.

Manfaat Melakukan Revaluasi Pada Asset Perusahaan

Dengan dilakukannya revaluasi ini maka akan memberikan beberapa manfaat berikut ini:

• Neraca akan menunjukkan posisi kekayaan yang tetap wajar.
• Kenaikan nilai asset tetap dengan konsekwensi dari semakin naiknya beban penyusutan asset tetap yang telah dibebankan ke dalam laba rugi atau yang nanti akan dibebankan kepada harga pokok produksinya.

Revaluasi Asset Tetap Milik Perusahaan

Untuk asset-aset tetap milik perusahaan yang dapat direvaluasi adalah berupa asset tetap berwujud yang terletak di Indonesia dan yang dimiliki serta seringkali dipergunakan untuk mendapatkan, serta menagih dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak.

Penilaian kembali terhadap asset milik perusahaan juga harus dilakukan berdasarkan dari nilai pasar asset tetap tersebut yang masih berlaku pada saat penilaian kembali yang telah ditetapkan oleh perusahaan jasa atau oleh seorang ahli yang sudah diakui oleh pemerintah.

Asset yang berada dalam kelompok asset tertentu juga harus direvaluasi secara bersamaan yang bertujuan untuk menghindari revaluasi asset secara selektif dan semakin tercampurnya biaya perolehan beserta nilai lainnya pada saat yang berbeda. Namun demikian, untuk revaluasi pada kelompok asset sebenarnya dapat dilakukan secara bergantian selama revaluasi dari kelompok asset tersebut dapat terselesaikan secara lengkap dalam waktu yang lebih singkat.

Pada saat terjadinya revaluasi, jika jumlah aset yang sudah tercatat malah semakin meningkat, maka ntuk kenaikan tersebut akan langsung dikreditkan pada ekuitas pada surplus revaluasi. Namun jika pernah diakui penurunan dari nilai asset karena revaluasi dalam laporan laba rugi, maka untuk kenaikan asset tersebut harus diakui terlebih dahulu dalam laporan laba rugi sebesar nilai penurunan yang telah diakui sebelumnya.

Dengan demikian, maka sisa nilai dari bagian yang telah diakui dalam laporan laba rugi akan dicatat sebagai sebuah kenaikan langsung yang dikreditkan pada ekuitas. Pada saat dilakukan revaluasi, jika jumlah asset yang telah dicatat mengalami penurunan, maka penurunan tersebut akan diakui dalam laporan laba rugi. Namun jika asset tersebut sebelumnya pernah direvaluasi dan dicatat sebagai kenaikan yang langsung dikreditkan kepada ekuitas, maka penurunan nilai karena revaluasi akan langsung didebitkan kepada ekuitas pada bagian surplus revaluasi dengan catatan bahwa jumlah maksimal yang dapat didebet adalah sejumlah saldo surplus revaluasi. Maka sisa nilai dari penurunan akan dibebankan kepada laporan laba rugi.

Jika terdapat dampak atas pajak penghasilan atas kenaikan atau penurunan dari nilai aset karena hasil revaluasi harus segera dikalkulasikan dan dicatat sesuai dengan catatan kenaikan maupun penurunan revaluasi. Pajak tangguhan yang akan dihitung dan dibebankan pada ekuaitas atau dari laporan laba rugi akan mengikuti mekanisme dari pengakuan hasil revaluasi. Pada saat asset tetap direvaluasi, maka akumulasi untuk penyusutan pada tanggal revaluasi yang dapat dilakukan dengan salah satu cara berikut, yaitu:

1. Dapat disajikan secara proporsional yang mana dengan adanya perubahan dalam jumlah tercatat bruto dari asset, sehingga jumlah tercatat asset setelah revaluasi akan menjadi sama dengan jumlah revaluasian. Biasanya untuk metode ini lebih sering digunakan apapbila asset direvaluasi dengan memberikan indeks untuk menentukan biaya pengganti yang sudah disusutkan.

2. Jumlah tercatat bruto dari asset yang dieliminasi dan jumlah tercatat neto setelah dieliminasi akan disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari asset tersebut. Metode seperti ini lebih banyak digunakan untuk bangunan.

Pemindahan surplus revaluasi terhadap asset tetap kepada laba ditahan yang disajikan pada ekuitas yang dilakukan pada saat asset tetap tersebut tidak lagi digunakan. Namun untuk sebagian surplus revaluasi akan dipindahkan kepada saldo laba yang sejalan dengan penggunaan asset oleh entitas.

Pemindahan yang dilakukan sebesar dari selisih jumlah penyusutan antara jumlah penyusutan yang berdasarkan dari nilai revaluasian dengan jumlah penyusutan yang berdasarkan dari biaya perolehan asset tersebut. Pemindahan surplus revaluasi akan langsung dilakukan pada saldo laba dan tidak akan melalui laporan laba rugi.

Dalam melakukan revaluasi ini tidak bisa terlepas dari kendala , seperti kegiatan revaluasi yang merupakan kegiatan yang lebih sulit untuk dilakukan dan membutuhkan adanya biaya yang lebih besar untuk membayar jasa dari penilai revaluasi.

Apabila pembaca sekalian membutuhkan software Accounting, serta software HRD dan Payroll silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

Scroll to top