Tag: Manajemen software

STARTEGI UNTUK MENGURANGI BIAYA PERSEDIAAN (2)

1. Bekerja sama dengan distributor pengiriman.

Sebenarnya dari beberapa konsumen yang mengeluhkan bahwa barang yang sudah mereka terima telah banyak yang rusak, dan perusahaan  terpaksa harus menerima kembali atau mengirim ulang dengan barang yang lebih baik. Bagi pihak manajemen, menjalin hubungan dengan distributor pengiriman barang dapat menjadi pilihan yang paling bijak untuk mengurangi beban terkait dengan kerugian pada saat proses pengiriman. Apabila terjadi kerusakan barang ketika dalam perjalanan, maka bukan lagi menjadi permasalahan perusahaan. Resiko tersebut telah dialihkan kepada pihak distributor. Kebijakan ini lebih memfokuskan pada kepuasan konsumen, khusunya bagi para pengguna akhir. Usaha ini menawarkan cara tercepat dan beresiko rendah bagi perusahaan dalam mencapai operasional pelayanan secara berurutan.

Selain itu terlalu banyaknya barang yang dikirim juga dipengaruhi oleh besarnya daya muat kontainer yang digunakan. Perusahaan yang bekerjasama dengan distributor pengiriman tidak perlu menyediakan tempat Parking untuk truk pengangkut yang berukuran sangat besar, yang akan memenuhi area pabrik.

2. Mensinergikan Suplier.

Suplier harus memiliki akses pada setiap data-data konsumen, termasuk juga histori penjualan maupun proyeksinya. Mensinergikan antara suplier sebagai penyedia barang dengan perusahaan sebagai produsen ke dalam satu kesatuan supply chain dapat mempersingkat proses produksi. Memberikan semua informasi  yang dibutuhkan suplier secara real time untuk mengelola komponen persediaan, sehingga mereka dapat membantu dengan lebih maksimal. Tujuan dari pensinergian tersebut ialah untuk menunda pengiriman barang sampai batas persediaan tertentu, idealnya adalah hingga mencapai titik untuk dikonsumsi. Yang diharapkan dari strategi ini ialah dapat meningkatkan efektifitas proses produksi dan penerimaan barang.

Dengan memberikan informasi perilaku pemesanan produsen kepada suplier, maka suplier akan dapat mengirimkan barang kepada produsen jika dinilai telah mencapai titik tertentu/reorder point. Manfaatnya bagi perusahaan adalah dapat lebih menekan biaya pesanan/Ordering cost (preparation set up Cost), yaitu biaya yang terjadi karana adanya kegiatan memesan kepada vendor sampai barang tiba di gudang atau mulai melakukan organisasi untuk memulai produksi di dalam pabrik. Biaya administrasi dan manajerial untuk menyiapkan pembelian atau pesanan, misalnya biaya telepon, biaya pencatatan dan lain sebagainya.

3. Memperbaiki pelayanan suku cadang.

Dalam hal manajerial, sangat penting sekali untuk mengefektifkan pelayanan operasional. Kebanyakan dari perusahaan jatuh karena mereka sudah sejak awal salah dalam mengelola persediaan, khususnya terhadap suku cadang. Biasanya perusahaan tersebut sedang dihadapkan pada begitu banyaknya jumlah persediaan yang besar, kinerja departemen pergudangan yang tidak optimal, berkurangnya kepuasan konsumen, dan terbuangnya peluang untuk menjual produk lain termasuk juga suku cadang setelah penjualan dilakukan (Sales after sales).

Berikut ini merupakan beberapa cara yang masih dapat dilakukan untuk mengelola persediaan dan suku cadang dengan lebih tepat.

• Membuat anggaran belanja persediaan dan suku cadang dengan lebih akurat.
• Hindari penyimpanan persediaan yang berlebihan.
• Monitor tingkat persediaan agar produksi tidak terhambat.
• Menselaraskan kebutuhan persediaan dengan suku cadanganya berdasarkan fungsinya. Hanya menyediakansuku cadang atas prodk yang dijual.

4. Melibatkan manajemen puncak.

Setiap departemen pada perusahaan manufaktur memiliki persediaan tersendiri dan diatur oleh setiap masing-masing kepala bagian. Setiap departemen memiliki kebebasannya sendiri untuk mengelola persediaannya, maka akan menjadi semakin sulit bagi departemen lainnya untuk terlibat dalam pengelolaan meskipun memiliki proses yang berkaitan. Secara hirarki dengan melibatkan manajemen puncak, semua departemen akan tetap tunduk kepada kebijakan yang sudah dibuat oleh manajemen yang lebih tinggi. Adapaun kebijakan yang masih dapat diterapkan adalah setiap individu dalam sebuah departemen akan bertanggungjawab atas besarnya nilai persediaan yang menjadi tanggungjawabnya. Strategi seperti ini dinilai dapat mengendalikan proses pengendalian atas persediaan dan semakin meningkatkan keefisienan dari proses produksinya.

5. Otorisasi akan dipegang oleh satu pihak.

Agar dapat lebih meningkatkan kekuatan pengelolaan persediaan, perusahan dapat memilih  hanya satu saja departemen yang bertanggungjawab penuh dan dapat berkolaborasi dengan fungsi lainnya, seperti departemen teknis maupun departemen pembelian. Dipilihnya satu organisasi untuk mengatur persedian agar tidak sampai terjadi perselisihan yang terkait dengan penyediaan persediaan dan proses didalamnya. Selain itu cara seperti ini akan dapat mempertahankan budaya, dan tetap fokus kepada rencana utama (grand project) perusahaan.

6. Memperbaiki database persedian.

Salah satu informasi terpenting yang terkait dengan berbagai informasi persediaan merupakan informasi tentang perputaran persediaan. Dengan memiliki data-data perputaran persediaan manajemen akan dapat memonitor seberapa lama barang persediaan tersebut akan ditahan, belum terjual. Perusahaan juga masih dapat menaksirkan waktu keterlambatan pengirimannya.

7. Menetapkan titik pemesanan kembalinya.

Ada sebagian perusahan yang menetapkan titik pemesanan kembali (reorder point) pada tingkat serendah mungkin. Tujuannya adalah agar persediaan yang sudah tersimpan tidak menjadi usang, akibat dari pemesanan yang terlalu berlebihan meskipun berakibat pada biaya pengiriman yang menjadi lebih besar.

Nampakna tidak semua perusahaan dapat menerapkan kebijakan seperti ini. Hanya perusahaan yang bergerak pada usaha penjualan barang makanan dan minuman fast moving saja yang lebih cocok untuk menerapkannya. Mengusahakan agar barang dapat sampai ke pada end-user sebelum batas waktu (Expired date) adalah suatu kebijakan yang paling tepat (IT).

Nah, itulah sedikit penjelasan yang terkait dengan pengelolaan persediaan. Diharapkan setelah membaca artikel ini para pembaca sekalian dapat mengendalikan biaya persediaan, mengalokasikan pada kegiatan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Pemangkasan biaya persediaan oleh perusahaan akan berhasil jika sudah sesuai dengan kondisi lingkungan perusahaan. Strategi yang sama belum tentu akan dapat diterapkan pada perusahaan yang sama, masih tergantung pada kondisi lainnya. Bagi para pembaca sekalian yang membutuhkan bimbingan seputar pengelolaan persediaan silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

RASIO PERPUTARAN PERSEDIAAN (INVENTORY TURN OVER RATIO)

Pada Kesempatan kali ini implementor software akuntansi akan sedikit membahas artikel tetang Perputaran persediaan (Inventory Turnover Ratio).

Perputaran persediaan (Inventory Turn Over Ratio) merupakan rasio yang berfungsi untuk mengukur seberapa efisien perusahaan dalam mengendalikan barang dagangan atau persediaannya. Indikatornya adalah semakin besar nilai rasio maka akan semakin efektif pula perusahaan dalam menjual persediaannya. Dalam arti lainnya perusahaan telah menghindari pengeluaran biaya-biaya yang dapat menyebabkan terjadinya pemborosan-pemborosan pada sumber daya perusahaan. Arti dari nilai rasio yang terlalu tinggi juga dapat menandakan bahwa perusahaan dapat menjual persediaan sesuai dengan harapan. Ekspektasi tersebut sudah tercantum dalam nilai anggaran pembelian dan penjualan.

Bagi perusahaan retail, perusahaan dagang. Perusahaan yang membeli barang dagangan lalu kemudian menjualnya kembali dengan harga baru, penilaian tentang efektifitas penjualan barang dagang sangat bermanfaat bagi mereka. Terutamanya adalah bagi para investor. Sedangkan bagi kreditur Rasio seperti ini dapat memberikan informasi secara tidak langsung tentang kemampuan perusahaan dalam melunasi pinjamannya beserta bunganya.

Jika para pembaca sekalian ingin membandingkan kinerja persediaan perusahaan satu dengan perusahaan yang lainnya, maka sebaiknya para pembaca sekalian harus mencari perusahaan yang sejenis, perusahaan yang berada pada industri yang sama. Misalnya membandingkan antara perusahaan makanan dan minuman (food and beverage) yang merupakan perusahan fast moving good, perusahaan yang memiliki sifat barang-barang yang mudah laku juga harus dibandingkan dengan perusahaan yang sama dan sejenis. Perusahan tersebut juga tidak layak jika dibandingkan dengan perusahan yang memiliki barang persediaan low moving good, perusahaan dengan sifat persediaan dagangan yang terlalu sulit laku misalnya adalah jenis perusahaan mobil, property dan lain sebagainya.

Untuk dapat memahami secara lebih mendalam, maka implementor software akuntansi memberikan sedikit penjelasan tambahan dalam bentuk sebuah kasus:

Misalnya terdapat sebuah toko yang menjual bahan baku telah melaporkan biaya pokok penjualaan pada laporan keuangan dengan laba rugi sebesar Rp 500.000.-. persediaan awal dari toko ini adalah sebesar Rp 800.000.000,- sedangakan persediaan akhirnya adalah sebesar Rp. 700.000.000,-. berapa rasio perputaran persediaan atau Inventory turn over ratio-nya?

Berikut dibawah ini akan diberikan informasi tentang data-data yang dimiliki oleh perusahaan:

Lalu berapa Rasio perputaran persediaanya (Inventory Turnover Ratio).
Pertama-tama hitung terlebih dahulu persediaan rata-ratanya dengan cara rumus dibawah ini:

Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa persedian rata-ratanya adalah sebesar Rp 750.000.000,- ( Rp 800.000.000,- + Rp 700.000.000,- /2).
Nilai rasio dari perputaran persediaan akan dapat dihitung dengan cara membagi harga pokok penjualan (Cost of Good Sold) dengan nilai persediaan rata-rata, Berikut perhitungannya.

Dari rumus seperti diatas maka didaptakn nilai rasio perputaran persediaan sebagai berikut sebesar 0.66 % ( Rp 500.000.000,- / Rp 750.000.000,-).

Nah, itulah sedikit tips seputar Perhitungan rasio perputaran persediaan (Inventory Turnover ratio) terbaik. Apabila pembaca ingin memahami dengan lebih mendalam dari rasio perputaran persediaan dan membutuhkan konsultasi, pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.
Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya.

 

 

 

PENJELASAN SEPUTAR HUTANG PRODUKTIF DAN HUTANG TIDAK PODUKTIF BAGI SUMBER PENDANAAN PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini implementor software akuntansi akan sedikit membahas artikel tentang HUTANG PRODUKTIF DAN HUTANG NON PODUKTIF.

Bedasarkan dari sebuah riset yang telah dibuktikan bahwa sumber pendanaan perusahaan di Indonesia beberapa diantaranya lebih banyak mengandalkan pada sumber dana yang berasal dari Bank. Dan itu artinya adalah bahwa Bank sangat berperan besar dalam penyediaan dana-dana segar bagi perusahaan apabila dibandingakan dengan para investornya.

Terdapat beberapa pengusaha yang lebih banyak untuk berusaha menghindari berhutang dalam menjalankan dan mengelola usahanya. Namun masih ada beberapa diantaranya yang lebih banyak mengandalkan dari berhutang karena merupakan satu-satunya sumber pendanaan dalam mempercepat perkembangan perusahaan. Cara untuk bisa mengetahui sumber dana utama seperti apa yang paling mendominasi modal perusahaan dapat diketahui dengan mengunakan sebuah rasio.

Jenis rasio yang bisa digunakan adalah rasio hutang atas modal Debt to Equity Ratio.  Rasio seperti ini mampu menghasilkan angka yang dapat menentukan perbandingan antara nilai hutang dengan nilai setoran modalnya.

Pertama akan kita mulai dengan penjelasan hutang produktif, kemudian akan dilanjutkan dengan pembahasan tentang hutang tidak produktif.

Sebuah pinjaman atau hutang bisa dikatakan produktif jika memang memiliki kemampuan untuk melunasi sendiri (Self liquidating). Kemampuan nya adalah dapat menghasilkan uang dari operasional yang berasal dari investasi yang sudah dilakukan. Pinjaman yang juga termasuk kedalam hutang produktif jika uang pinjaman tersebut yang digunakan untuk menghasilkan return pengembalian modal investasi.

Pengembalian modal hanya akan dapat diperoleh jika perusahaan mampu dalam memanfaatkan dana yang telah bersumber dari hutang untuk berbagai kegiatan operasionalnya masing-masing. Misalnya untuk melakukan perluasan usaha (expansion), menambah kegiatan operasional, atau untuk memulai usaha baru. Meskipun kami juga sangat tidak menyarankan sepenuhnya kepada para pembaca sekalian untuk memulai usaha dengan cara berhutang bagi mereka yang sangat minim pengalaman dan tujuan dalam hal pendirian usaha yang tidak jelas.

Return yang lebih tinggi diharapkan bisa diperoleh oleh perusahaan pada saat pihak manajemen menggunakan hasil dari investasinya.

Nah, sekarang sudah saatnya untuk beralih kepada pembahasan hutang non produktif. Sebuah pinjaman atau hutang bisa dikatakan tidak produktif jika dana yang bersumber dari hutang tersebut malah digunakan untuk kegiatan non operasional. Misalnya, seperti hutang untuk membayar deviden, hutang untuk melunasi hutang lainnya, hutang yang digunakan untuk mendukung gaya hidup (life style), hutang untuk membangun rumah, hutang untuk membeli kendaraan bermotor dan lain sebagainya.

Lalu sekarang bagi para pembaca sekalian yang sudah terlanjur memiliki asset hasil dari berhutang dan menginginkan hasil dari investasi tersebut. Maka berikut ini adalah pembahasan sebenarnya tentang hal semacam itu.

Misalnya para pembaca yang telah terlanjur membangun rumah besar dari hasil berhutang dari bank, kamar-kamar yang sudah dibagun jika tidak ditempati, maka lebih baik untuk disewakan saja, bisa juga untuk dikontrakan atau di kostkan.

Disebabakan karena biaya hidup yang menjadi semakin tinggi banyak diantara para pemilik rumah di kota-kota besar malah menyewakan rumahnya, atau membangun kamar baru untuk bisa disewakan. Namun dengan adanya sebuah konsekuensi dengan tidak memiliki ruang untuk halaman lagi.

Sedikit contoh singkat seperti di atas merupakan permasalahan yang secara umum banyak terjadi, dan sekarang sudah saatnya untuk beralih kepada permasalahan financial.

Misalnya Anda berencana untuk membeli mobil dengan uang tunai/cash. Menurut kami sebaiknya Anda harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana perbandingan antara manfaat dan bebannya, (cost and benefit)-nya. Beban yang nanti akan Anda tanggung besarnya dapat diketahui dengan cara mengetahui berapa besarnya beban bunga jika Anda membelinya dengan cara di kredit. Misalnya beban bunga sebesar 5- 6 % setahun.

Jika para pembaca sekalian mencari produk-produk Investasi, maka akan sangat banyak sekali ditemukan adanya produk-produk investasi yang telah menyediakan bunga dengan sangat besar. Misalnya adalah dari produk investasi Asuransi yang lebih banyak memberikan bunga sebesar 9,75% setahun, bunga dari deposito ada yang bisa sampai lebih dari 7% dalam setahun. Intinya adalah agar para pembaca sekalian tidak semakin terbebani dengan adanya biaya bunga, sebaiknya membeli dengan cara dikredit namun juga melakukan investasi yang bisa menghasilkan pendapatan bunga yang jauh lebih besar dari pada bunga kreditnya (IRW).

Nah, itulah sedikit tips seputar bagaimana dalam pengelolaan piutang. Apabila para pembaca sekalian ingin memahami secara lebih mendalam dari manajemen piutang dan membutuhkan konsultasi, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.
Sampai bertemu lagi pada pembahasan artikel selanjutnya dan salam sukses.

TUGAS-TUGAS UTAMA DARI SEORANG STAFF PEMBELIAN (PURCHASING STAFF)

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan membahas artikel tentang apa saja TUGAS UTAMA dari seorang staff pembelian? Berikut ini adalah beberapa pembahasannya detailnya.

Pada jenis perusahaan dagang dan manufaktur, seorang staff pembelian harus mampu berperan pada beberapa tugas dan fungsi sebagai berikut, yaitu:

1. Fungsi pembelian harus menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh perusahaan. Memahami, menganalisa dan menyediakan kebutuhan bagi perusahaan merupakan tugas utama dari staff pembelian. Seorang staff pembelian berhak untuk menolak pengajuan pembelian jika setelah dianalisa ternyata barang yang akan dibeli tersebut tidak terlalu berguna bagi perusahaan dan tidak sesuai dengan anggaran yang sudah ditentukan.
2. Melakukan seleksi para calon pemasok (suplier), memilih jenis barang apapun yang disediakan oleh supplier baik dari sisi jenis, kualitas, atau harga. Karena untuk tahap ini akan sangat menentukan bagaimana langkah selanjutnya bagi perusahaan. Maka tidak bisa langsung menetapkan secara sembarangan. Barang yang sudah digunakan harus benar-benar sesuai dengan jenis barang yang dibutuhkan oleh perusahaan. Seorang staff pembelian dapat mencari pemasok menggunakan internet, mengirim email penawaran, melakukan telepon, atau mendapatkan informasi dari rekan kerja yang lain. Intinya adalah semakin banyak sumber informasi yang dimiliki, maka akan menjadi semakin tepat pula keputusan dalam memilih supplier.
3. Menjalin kontrak kerjasama untuk jangka panjang dengan pihak supplier. Bagi perusahaan yang persediaannya lebih banyak menggunakan bahan baku impor, setidaknya harus memiliki beberapa rekanan yang dapat mendukung dan bisa bekerja sama untuk jangka panjang. Karena untuk bahan-bahan impor sendiri harganya juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana keadaan pasar saat ini, inflasi, kurs dan kebijakan pemerintah (Misalnya Pajak).

Kerjasama dalam wakt jangka panjang dapat dilakukan oleh pihak manajemen dengan menetapkan persetujuan (hak dan kewajiban secara tertulis) bersama atau yang lebih banyak dikenal dengan Memorandum Of Understanding (MOU). “Akan tetapi pada pembahasan dari artikel ini praktisi software akuntansi hanya akan lebih berfokus kepada hak-hak dari para pembeli. Beberpa manfaatnya adalah sebagai berikut:

• Pembeli diperbolehkan untuk menukarkan barangnya kepada penjual jika barang yang diterima sudah rusak.
• Jika pembeli telah menyerahkan uang muka pembelian (Misalnya hanya 10%), maka penjual berkewajiban untuk mengirimkan barangnya.
• Pembelian berhak untuk menentukan waktu penerimaan barang disesuaikan dengan kebutuhan dari sipembeli itu sendiri.
• Pembeli berhak untuk memutuskan kontrak kerja sebelum masa kontrak berakhir jika menurut pertimbangan dari si pembeli berat sebelah atau sangat tidak menguntungkan bagi pembeli.
• Pembeli menggunakan harga beli sebagai standar maksimal pada saat pembayaran, berdasarakan dari isi kontrak.
• Pembeli berhak untuk memberikan sanksi kepada suplier atas kerugian yang sudah diterima oleh pembeli dikarenakan keterlambatan dari supplier dalam mengirimkan barang.
• Pembeli berhak untuk mendapatkan potongan harga atas ketelambatan pengiriman barang yang sudah dilakukan oleh supplier.
• Pembeli tidak berhak menanggung beban yang dialami oleh supplier atas apa yang sudah terjadi selama masa pengiriman.
Misalanya, kerusakan barang akibat dari kecelakaan yang terjadi pada saat proses pengiriman.

4. Bekerja sama dengan departeman lainnya seperti: Fungsi produksi yang meliputi staff bagian gudang, staff bagian produksi, staff packing, staff penjualan dan fungsi Keuangan meliputi finance dan accounting.

5. Setelah para pemasok sudah terpilih, maka anggaran akan langsung ditentukan, selanjutnya adalah melakukan pemesaan. Staff pembelian akan membeli barang berdasarkan permintaan dari perusahan. Permintaan (Formal) seperti itu biasanya berbentuk tertulis yang nama dokumennya adalah berupa Purchase Requestion Form (Formulir Permintaan Pembelian). Fungsi pembelian sebaiknya juga harus menyediakan barang-barang kebutuhan perusahaan dengan tepat waktu dan harus sesuai dengan informasi yang sudah tertulis pada formulir tersebut.

6. Staff pembelian juga diharapkan mampu memantau perkembangan pesanan, sudah sampai sejauh mana barang yang sudah dikirim. Menanyakan juga tentang kapan waktu barang tersebut agar dapat diterima, sehingga informasi tersebut dapat langsung diteruskan kepada fungsi produksi. Selain itu meginstruksikan kepada fungsi gudang agar menyediakan tempat pada persedian baru yang nanti akan diterima. Sebagai pengendalian atas penerimaan barang, maka staff pembelian harus memberikan salinan dokumen Purchase Order kepada staff gudang agar diperiksa tentang keseuaian antara barang yang sudah diberli dengan barang yang telah dikirim oleh supplier.

7. Jika pembelian dilakukan secara tunai dan dibayar pada saat barang sudah sampai di tempat. Maka, fungsi pembelian juga harus bertanggungjawab untuk membayar barang yang telah diterimanya tersebut. Pembelian dalam jumlah besar biasanya akan langsung dibayar melalui transfer Bank. Akan tetapi berdasarkan sepengetahuan kami, perusahaan akan lebih banyak yang membeli dengan cara kredit dan akan dibayarkan beberapa kali sebelum masuk waktu jatuh temponya.

Bukti transaksi yang juga meliputi, purchase order, bukti pembayaran dan lain sebagainya harus di filling didokumentasikan agar dapat ditelusuri jika suatu saat dibutuhkan kembali. Misalnya untuk kebutuhan pemeriksaan keuangan (Audit).

Sebagai tambahan, staff pembelian harus memiliki pedoman dalam melakukan pembelian. Prinsip tersebut bertujuan untuk mengkolaborasikan antara fungsi pembelian dengan fungsi-fungsi lainnya yang berkaitan. Berikut ini adalah beberapa prinsip-prinsipnya:

• Staff pembelian juga harus mampu dalam membeli barang-barang dengan harga yang lebih tepat. Dapat diartikan sesuai dengan anggaran, dan juga harus menguntungkan.
• Staff pembelian harus mampu memperhitungkan berapa banyak barang yang dibutuhkan dan akan dibeli.
• Staff pembelian harus mampu mengatur waktu datangnya barang dagangan. Proses produksi tidak diijinkan untuk menunggu sampai barang datang, jadi harus menyediakan barang sebelum barang akan habis.
• Staff pembelian harus mampu mengatur barang yang datang, membantu kelancaran proses produksi.
• Barang yang sudah dibeli harus bermutu, dan telah ditentukan sesuai dengan pilihan yang paling menguntungkan bagi perusahaan.
• Staff pembelian harus membeli barang yang berasal dari sumber yang tepat, dan gabungan dari kelima prinsip di atas.

Nah, demikianlah sedikit penjelasan dari praktisi software akuntansi tentang apa saja tugas utama dari seorang staff pembelian sampai bertemu kembali pada pembahasan artikel selanjutnya (IRW).  Apabila para pembaca ingin memahami dengan lebih mendalam tentang manajemen dan apa saja tugas-tugas dari staff pembelian khusunya adalah untuk job deskripsi mereka, membutuhkan konsultasi, membutuhkan software accounting, dan perbaikan proses bisnis para pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

Scroll to top