Tag: Tindakan kecurangan yang bisa dideteksi melalui angka rasio

MENDETEKSI BERBAGAI TINDAKAN KECURANGAN PERUSAHAAN MELALUI ANGKA-ANGKA RASIO

Laporan keuangan yang meliputi laporan posisi keuangan, laporan kinerja keuangan, dan laporan aliran kas merupakan laporan yang mengambarkan bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan eksternal seperti pemilik perusahaan, investor, kreditur, pemerintah untuk tujuan pengambilan keputusan terkait perkembangan perusahaan berdasarkan pada informasi yang disediakan. Namun dalam standart Audit Internasional (International Standards on Auditing) menyatakan bahwa posisi managemen sangat rentan untuk melakukan manipulasi, karena manajemen memiliki kendali penuh atas penyajian laporan keuangan. Lingkungan perusahaan yang memiliki pengendalian internal yang lemah akan menjadi lebih mudah bagi manajemen untuk melakukan kecurangan.

Laporan keuangan merupakan catatan angka-angka historis yang menggambarkan bagaimana kondisi keuangan perusahaan pada periode tertentu. Memperhatikan angka-angka tersebut saja tidak akan cukup dalam memberikan pemahaman terhadap laporan keuangan. Menghubungkan antara satu pos dengan pos lainnya akan lebih memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Angka rasio merupakan hasil dari penghubungan antara angka dari pos satu dengan angka dari pos lainnya. Karena laporan keuangan merupakan hasil penyajian dari pihak manajemen yang sangat berpeluang besar untuuk dimanipulasi, maka angka dari hasil rasio juga dapat dilakukan analisa untuk mendeteksi kecurangan.

Dibawah ini akan disajikan beberapa rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi kecurangan

Rasio kinerja perusahaan ROA, EBT/TA, dan EBIT/TA

1. Net profit to total Aset (ROA).

“Rasio yang berasal dari perbandingan antara nilai penghasilan dengan jumlah asset. Rasio ini menunjukan seberapa efektif asset-asset yang masih dimilki oleh perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin besar rasio yang ditunjukan, maka semakin besar pula kemampuannya dalam menghasilkan laba”.

2. Earning before tax to total aset (EBT/TA).

“Rasio ini akan dihasilakan dengan cara membandingkan antara angka laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini bertujuan hampir sama denga ROA, yaitu untuk mengukur kinerja perusahaan melalui laba yang sudah dihasilkan, namun bedanya laba yang sudah diukur oleh ROA adalah laba besih sementara laba yang akan diukur oleh EBT/TA adalah laba sebelum pajak”.

3. EBIT to Total Asets (EBIT/TA).

“Rasio ini dihasilkan dari perbandingan antara angka laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini mengukur kinerja perusahaan sebelum dikurangi dengan beban bunga dan beban pajak.” Manajemen akan memanfaatkan rasio ROA aktual pada tahun-tahun sebelumnya untuk dapat memproyeksikan target keuangan pada tahun-tahun berikutnya. ROA yang lebih tinggi dari pada tahun-tahun sebelumnya menunjukan bahwa kinerja manajemen tampak mengalamai peningkatan. Semakin tinggi rasio ROA, juga akan semakin terlihat baik pula kinerja dari manajemen. Akan tetapi tingginya rasio ROA juga dapat menjadi perhatian bahwa manajemen sedang melakukan kecurangan dalam menyajikan laporan keuangan berupa manajemen laba. Manajer akan ditengarahi berusaha untuk meningkatkan tampilan kinerjanya mencapai target laba yang ditentukan oleh perusahaan agar mendapatkan bonus. Begitu besarnya kasus ini biasanya terjadi pada perusahaan yang lebih berorientasi kepada laba, mengukur kinerja dari setiap staff dengan besarnya laba yang dihasilkan.

Rasio Penggunaan Asset

1. Current Asset to Current liabilitas (CA/CL).

“Rasio yang dihasilkan dengan membandingkan antara angka asset lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin kewajiban lancarnya dengan asset lancarnya. Semakin tinggi rasio yang sudah dihasilkan, maka akan menjadi semakin kecil pula kemungkinan bagi perusahaan dalam mengalami kegagalan keuangan.”

Beberapa hal yang dapat mendasari alasan rasio asset lancar terhadap kewajiban lancar mengandung kecurangan adalah kemungkinan terbesar bagi manajemen yang ingin menghindari pelanggaran kontrak kewajiban untuk jangka panjang. Kewajiban jangka panjang membutuhkan komitmen yang lebih tinggi perusahaan, yaitu perusahaan akan mampu menjamin kewajibannya. Tekanan yang diterima oleh pihak manajemen akan menjadikan mereka berusaha agar nilai asset lancarnya tampak lebih besar daripada yang seharusnya, sehingga dinilai akan mampu menjamin kewajiban jangkan panjang. Alasan lainnya adalah dari adanya keinginan untuk menyajikan laba agar nampak lebih tinggi dari seharusnya. Dengan menyembunyikan beberapa akun kewajiban, maka laba perusahaan akan nampak sedikit lebih naik.

Dalam kelompok asset lancar terdapat pos persediaan. Ketika pos persediaan mengalami penurunan secara terus menerus tanpa didukung  dengan informasi penjualan maka bisa dicurigai bahwa perusahaan telah kehilangan persediaannya. Nilai persedian yang terus menurun tanpa adanya bukti penjualan dapat mengindikasikan bahwa ada pihak-pihak yang sengaja melakukan penyelewengan pada persediaan perusahaan. Hal ini juga merupakan bentuk kecurangan.

2. Account receivable to total assets (REC/TA).

“Rasio yang dihasilkan dari perbandingan antara nilai asset lancar dengan total asset. Rasio ini mengukur seberapa dominan penjualan kredit mempengaruhi besarnya keseluruhan dari asset perusahaan. Semakin tinggi angka rasio ini, maka akan menjadi semakin besar pula transaksi penjualan kredit yang membentuk total asset.”

Terdapat anggapan bahwa perusahaan yang paling untung adalah perusahaan yang mampu mencetak penjualan paling tinggi. Selain itu besarnya insentif bagi manajer penjualan apabila mampu melakukan penjulan sebanyak banyaknya menjadi motifasi agar nilai penjulan masih tetap tinggi, sehingga tetap mendapatkan bonus tinggi. Namun dari tingginnya angka rasio REC/TA yang tidak wajar dapat dicurigai manjer melakukan penjualan fiktif. Menjual ke pelanggan fiktif. Selain itu dapat juga dicurigai bahwa manajer tengah me mark-up nilai beberapa penjualan, sehingga secara total nampak lebih tinggi.

Pihak manajemen menyajikan piutang lebih besar dari pada seharusnya. Waktu jatuh tempo piutang dinilai kembali. Melalui kebijakan baru umur piutang dinilai lebih panjang, syarat kredit dinilai juga menjadi lebih ringan. Sehingga piutang yang awalnya telah jatuh tempo dan lebih sulit untuk ditagih, bahkan telah dicatat sebagai beban tidak tertagih oleh perusahaan dimunculkan kembali. Diakui sebagai piutang, dinilai asset perusahaan.

3. Retained Earning / Net Profit (RE/NP).

“Rasio ini dihasilkan dengan membandingkan antara angka laba ditahan dengan laba bersih periode berjalan.”

Laba ditahan berisikan komponen laba tahun lalu, deviden yang belum dibagikan kepada pemegang saham, laba tahun berjalan dan taksiran pajak tangguhan. Alasan rasio ini perlu mendapatkan perhatian ialah ada kemungkinan bahwa nilai modal yang disetorkan berupa saham dicatat lebih besar daripada seharusnya. Hal ini terjadi jika perusahaan bersangkutan memiliki induk perusahaan yang berada di luar negeri, menggunakan jenis mata uang berbeda. Sehingga nilai kurs dalam menentukan besarnya transaksi harus benar-benar diperhatikan.

Berikut dibawah ini adalah beberapa tips untuk menghindari terjadinya kecurangan:

1. Memeriksa persediaan di tempat penyimpanan persediaan biasanya gudang secara rutin, berkala paling tidak satu bulan sekali. Hal ini untuk meyakinkan bahwa nilai persediaan yang tercatat pada laporan keuangan sesuai dengan jumlah fisik persediaan.
2. Menerapkan sistem forecasting dengan perhitungan statistik untuk mengurangi terjadinya penumpukan barang.
3. Menggunakan metode statistik atau software yang dapat menghitung penentuan re-order serta dokumentasi yang dapat mengingatkan manajemen agar dapat mengurangi keterlambatan penerimaan barang.
4. Mempebaiki sistem pengendalian internal, misalnya memastikan bahwa tidak ada jabatan-jabatan yang kosong sehingga diisi dengan orang yang sama. perangkapan jabatan merupakan salah satu indikasi bahwa pengendalian internal perusahaan sangat lemah. Misalnya bagian penerimaan barang dengan bagian penyimpanan barang dilakukan oleh orang yang sama. tidak adanya pemisahan jabatan untuk menangani pekerjaan yang membutuhkan koreksi memudahkan terjadinya kecurangan dan penyalahgunaan wewenang. Barang yang datang tidak diperiksa terlebih dahulu oleh bagian penerimaan terkait jumlah barang, jenis barang, dan harga barang yang diterima. Begitu juga dengan bagian pengeluaran dengan bagian penyimpanan, barang yang keluar tidak diperiksa jenis barangnya, jumlah barangnya, dan harga barangnya.
5. Membuat standar operasional prosedur yang labih baik. Standar oerasional prosedur dibentuk bersamaan dengan dibentuknya dokumen-dokumen yang mendukung kegiatan staff bersangkutan. Jika media pencatatannya tidak mendukung bagaimana bisa menciptakan pengendalian internal yang baik.
6. Melakukan konfirmasi pada setiap pelanggan yang memiliki besarnya saldo piutang tertentu. Hal ini untuk meyakinkan bahwa saldo akhir yang tampak pada laporan keuangan memang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.
7. Menyediakan price list yang lebih up to date. Penjualan hanya akan diakui jika nilai penjualan sesuai dengan nilai harga jual yang disyaratkan.
8. Selalu memantau kebijakan manajemen. Memastikan bahwa setiap kebijakan yang sudah diterapkan dibuatkan notulen meeting atau Internal memo.
9. Memperketat syarat kredit. Dengan diberlakukannya syarat kredit ketat, menjadikan staff penjualan menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan penjualan. Mereka harus memperhatikan kemampuan calomn konsumen dalam melunasi kewajibannya.
10. Selalu memperhatikan nilai kurs dengat lebih cermat, karena transaksi yang dilakukan dengan mata uang berbeda harus dicatat sesuai dengan nilai kurs pada saat transaksi terjadi.

Bagi pembaca semoga artikel ini dapat bermanfaat. Pengendalian internal memang sangat penting bagi perusahaan untuk menjaga harta kekayaan perusahaan. Pengendalian internal yang baik dapat dibentuk melalui Standar Operasional Perusahaan (SOP). Bagi para bapak/ibu pembaca sekalian yang ingin memiliki pengendalian internal yang lebih baik. Maka silahkan menghubungi kami di
groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda.

Scroll to top